Kolom

Fenomena Pejabat Asbun: Dead Cat Strategy atau Kegagalan Komunikasi?

Fenomena Pejabat Asbun: Dead Cat Strategy atau Kegagalan Komunikasi?
Ilustrasi mikrofon di podium (magnific)

Belakangan ini, media sosial kembali diramaikan oleh ucapan pejabat yang mengundang tanda tanya. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal buruh pengupas bawang yang disebut mendapat upah Rp700 ribu per kilogram menjadi salah satu contohnya. Potongan pidato tersebut dengan cepat menyebar, memunculkan kritik, meme, hingga berbagai konten yang membahasnya.

Fenomena semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Setiap pernyataan kontroversial pejabat kini punya siklus yang hampir sama. Muncul di ruang publik, viral di media sosial, diperdebatkan, lalu dikonsumsi berulang-ulang. Publik pun akhirnya sibuk membahas ucapan yang menggelitik daripada substansi masalah yang sebelumnya sedang dibahas.

Di sinilah fenomena pejabat asbun menarik untuk dilihat dari perspektif komunikasi politik. Apakah rentetan pernyataan kontroversial memang hanya menunjukkan kegagalan komunikasi, atau justru memiliki efek seperti Dead Cat Strategy yang membuat perhatian publik beralih pada kegaduhan?

Saat Kontroversi Lebih Mudah Dijual

Ada alasan mengapa ucapan kontroversial pejabat begitu mudah meledak di media sosial. Pernyataan yang terdengar janggal jauh lebih mudah untuk dipahami daripada pembahasan mengenai anggaran, kebijakan, atau program pemerintah yang membutuhkan pembahasan panjang.

Di sinilah cara kerja attention economy terlihat. Perhatian publik menjadi sesuatu yang diperebutkan, dan hal-hal yang mengejutkan biasanya lebih cepat menarik orang untuk membicarakannya. Pejabat pun tidak harus selalu menyampaikan sesuatu yang menarik untuk mendapat sorotan. Satu pernyataan yang dianggap aneh saja sudah cukup membuat publik ramai membahasnya.

Media sosial kemudian memperkuat siklus tersebut. Orang yang mengkritik ikut membagikan potongan pernyataan, kreator membuat konten reaksi, sementara pengguna lain menambahkan lelucon atau sudut pandangnya sendiri. Akhirnya, sebuah ucapan yang awalnya hanya beberapa detik bisa berubah menjadi diskusi panjang, bahkan tak jarang sampai melenceng ke luar konteks.

Membaca Pola Dead Cat Strategy

Dalam komunikasi politik, ada istilah Dead Cat Strategy, yaitu cara mengalihkan perhatian publik dengan memunculkan sesuatu yang mengejutkan atau kontroversial. Ibaratnya, sebuah rapat sedang serius membahas masalah penting, lalu tiba-tiba ada orang meletakkan kucing mati di atas meja. Semua peserta tentu akan berhenti membahas agenda utama dan beralih mempertanyakan kucing tersebut.

Konsep ini menarik jika dikaitkan dengan fenomena pejabat asbun. Namun, penting untuk tidak buru-buru menyimpulkan bahwa setiap pernyataan kontroversial merupakan strategi yang sengaja dirancang. Bisa saja memang ada perencanaan komunikasi, tetapi bisa juga seorang pejabat benar-benar salah bicara.

Efeknya bisa terlihat dari bagaimana publik merespons sebuah kontroversi. Begitu ucapan pejabat mulai ramai, perhatian orang ikut bergeser. Pembahasan soal kebijakan dan kinerja pemerintah pun akhirnya teralihkan.

Di sini, Dead Cat Strategy tidak harus dipahami sebagai strategi yang selalu dirancang dengan matang. Kontroversi yang muncul secara spontan pun bisa menghasilkan efek serupa. Apalagi di media sosial, satu ucapan bisa terus diputar ulang.

Jangan Sampai Kebodohan Jadi Komoditas Politik

Ucapan pejabat yang bermasalah tetap perlu dikritik. Namun, kritik tidak harus dengan memperpanjang kontroversi di media sosial.

Media sosial memang membuat kita mudah ikut dalam arus. Satu pernyataan bisa menjadi bahan lelucon pagi ini, memenuhi beranda sepanjang hari, lalu perlahan digantikan kontroversi berikutnya.

Jika terus mengikuti siklus tersebut, perhatian publik bisa habis untuk membahas kegaduhan, sementara kebijakan yang lebih penting luput dari pembahasan.

Kalau setiap pejabat ngomong ngawur langsung kita jadikan bahan konten, jangan heran kalau mereka selalu punya panggung. Satu orang asal bicara, jutaan orang membantu menyebarkannya. Gratis pula.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda