Kolom
Gaji Naik Secepat Siput, Harga Rumah Melesat bak Roket Luar Angkasa
"Zaman dulu kerja tiga sampai lima tahun sudah bisa cicil rumah, sekarang anak muda kerja sepuluh tahun masih ngekos," kalian sering dengar komentar seperti itu, nggaki? Biasanya kalimat itu diakhiri simpulan yang menyalahkan mental Gen Z. Padahal kalau dihitung pakai kalkulator, bukan Gen Znya yang berubah. Yang berubah total adalah matematikanya.
Ada patokan baku dalam ilmu perumahan yang disebut rasio harga rumah terhadap pendapatan tahunan atau housing to price ratio. Menurut kajian yang dimuat di JDEP, Jurnal Dinamika Ekonomi Pembangunan, badan urusan permukiman dunia PBB atau UN Habitat merekomendasikan rasio harga rumah terhadap pendapatan tahunan yang normal berada di kisaran tiga sampai lima atau enam kali lipat, sementara lembaga Demographia bahkan menyebut angka tiga atau kurang sebagai batas rumah yang benar benar terjangkau.
Jadi kalau gaji tahunanmu, katakanlah, seratus dua puluh juta, rumah yang wajar dibeli harusnya berkisar tiga ratus enam puluh juta sampai enam ratus juta. Itu standar dunia yang sudah dipakai puluhan tahun. Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi
Sekarang lihat kenyataan di lapangan. Riset dari Konsorsium Pembaruan Agraria menemukan bahwa rasio timpang antara harga rumah dan pendapatan bukan cuma terjadi di Jakarta, tapi juga menyebar ke banyak kota lain, dengan harga rumah di Medan setara dua puluh tiga koma lima kali pendapatan tahunan warganya.
Kota lain juga tidak kalah parah. Surabaya duapuluh satu koma tiga tiga kali gaji, Batam dua puluh koma sembilan empat kali gaji, dan Makassar sembilan belas koma tujuh delapan kali gaji. Bandingkan dengan standar ideal tiga sampai lima kali tadi. Selisihnya bukan lagi jarak, tapi jurang. KpaKpa
Coba dibayangkan dalam bentuk cerita sehari hari. Kalau standar dunia bilang rumah wajar dicicil dalam tiga sampai lima tahun gaji penuh (tanpa dipakai makan, tanpa dipakai apa apa), realitas di kota kota besar Indonesia sekarang minta dua puluh sampai dua puluh tiga tahun gaji penuh. Itu pun dengan asumsi gila, seluruh penghasilan ditabung seratus persen, tidak makan, tidak bayar listrik, tidak sakit, tidak healing sama sekali.
Manusia mana yang sanggup hidup begitu selama dua dekade?
Yang membuat situasi ini makin pahit, gaji Gen Z sebenarnya naik dibanding generasi sebelumnya kalau dilihat dari nominal rupiah. Masalahnya, kenaikan gaji itu bergerak dengan kecepatan siput, sementara harga rumah melesat seperti roket.
Upah naik mengikuti inflasi tahunan yang biasanya di kisaran angka tunggal, sedangkan harga tanah di kota kota besar bisa melompat dua digit dalam setahun, apalagi di lokasi yang mulai ramai atau dekat proyek infrastruktur baru.
Dua kecepatan yang timpang ini yang bikin jarak antara "punya gaji" dan "punya rumah" makin lebar setiap tahun, bukan makin dekat.
Di sinilah letak kesalahpahaman yang paling sering muncul di ruang publik. Gen Z dibilang boros karena masih beli kopi kekinian padahal belum punya rumah, seolah harga rumah dan harga kopi berada di skala yang sama.
Padahal kalaupun semua Gen Z berhenti total beli kopi, skincare, dan jajan online selama bertahun tahun sekalipun, angka tabungan yang terkumpul masih kalah jauh dibanding laju kenaikan harga properti. Ini bukan soal disiplin menabung, ini soal dua kurva yang arahnya berlawanan sejak awal.
Jadi sebelum lanjut menyalahkan generasi muda karena dianggap malas punya rumah, mungkin ada baiknya angka angka di atas dihitung ulang pelan pelan.
Bukan Gen Z yang berubah jadi generasi tanpa cita cita punya hunian sendiri. Yang berubah adalah rumus dasarnya, dan sayangnya rumus itu tidak pernah benar benar dijelaskan ke publik secara gamblang, apalagi jadi bahan diskusi serius soal kebijakan perumahan yang lebih berpihak pada pekerja awal karier.