Kolom
'Nanti Ada Rezekinya Lagi': Mantra Andalan Gen Z saat Uang Telanjur Keluar
"Nanti juga ada rezekinya lagi."
Apakah Sobat Yoursay familiar dengan kalimat itu? Atau justru jadi orang yang sering mengucapkannya?
Kalimat itu mungkin sederhana. Bahkan tak jarang, bisa menjadi bentuk optimisme bahwa Tuhan pasti memberikan jalan bagi kita untuk memperoleh rezeki. Kadang kalimat tersebut juga bisa jadi tameng untuk mengurangi rasa bersalah kita setelah mengeluarkan uang. Namun, apa iya sesederhana itu?
Momen gajian memang selalu menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu oleh banyak pekerja. Baik pekerja kantoran atau bukan. Bagi anak muda, gaji bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Banyak juga di antara Gen Z yang menggunakan pendapatannya untuk memenuhi wishlist yang memang sudah menumpuk. Di media sosial, saya sempat menemukan postingan warganet yang cukup menggambarkan gaya hidup anak muda zaman sekarang: "gaji minimalis, wishlist pewaris, nasib perintis, dompet is is is."
Sekilas, cuitan tersebut seperti candaan biasa. Namun, saya merasa candaan itu justru sangat dekat dengan kehidupan para Gen Z. Sebagai bagian dari generasi yang sama, saya sendiri pun memiliki cukup banyak wishlist yang melebihi gaji saat ini. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keinginan sebanyak apa pun yang kita miliki. Tetapi, yang mungkin perlu diperhatikan lagi adalah cara kita memenuhi keinginan tersebut: apakah ada kebutuhan yang harus dikorbankan atau tidak.
Kembali lagi ke pembahasan sebelumnya. Kalimat "nanti juga ada rezekinya lagi" sering kali menjadi tameng bagi banyak Gen Z setelah mengeluarkan uang yang cukup banyak. Entah untuk traveling, jajan, belanja, atau sekadar nongkrong di kafe dan berburu foto estetik. Pengeluaran semacam itu kadang baru disadari setelah saldo berkurang cukup banyak. Awalnya, sih, nggak merasa keluar banyak uang, tapi setelah dihitung kembali, ternyata sudah berada di luar perkiraan. Mau menyesal pun, ya, sudah telanjur.
Karena itu, untuk mengurangi rasa bersalah, Gen Z biasanya menggunakan mantra andalannya: "nanti ada rezekinya lagi, kok." Meski kadang saat mengucapkannya juga sambil menghela napas berat dan masih ada sedikit penyesalan yang membebani pikiran. Pada saat yang sama, kalimat tersebut juga membuat seseorang merasa lebih tenang karena seolah pengeluaran hari ini bukan masalah besar. Sebab di awal bulan selanjutnya nanti, gaji akan datang lagi.
Seperti yang tadi sempat saya singgung, kebutuhan anak muda zaman sekarang tidaklah murah. Kadang, mereka juga memiliki cara menikmati hidup yang memerlukan uang cukup banyak. Nggak ada yang salah dengan hal itu. Sesekali mengucap kalimat "nanti ada rezekinya lagi" pun tidak jadi masalah. Kalimat tersebut justru bisa menjadi penyemangat kita untuk bekerja lebih keras.
Akan tetapi, yang bisa menjadi masalah adalah ketika kalimat itu berubah menjadi pembenaran setiap kali seseorang mengeluarkan uang secara impulsif. Ketika setiap pengeluaran selalu ditutup dengan satu kalimat yang sama, kita bisa jadi lupa untuk mengevaluasi kebiasaan finansial sendiri. Seolah setiap kali saldo berkurang, selalu ada keyakinan bahwa nanti akan ada uang yang masuk lagi. Padahal, rezeki yang akan datang belum tentu memiliki jumlah dan waktu yang sama seperti yang kita harapkan. Begitu pula dengan keperluan darurat yang bisa saja muncul di masa mendatang dan butuh biaya besar.
Meskipun demikian, bukan berarti kita harus berhenti menikmati hidup hanya karena takut kehabisan uang. Selama dilakukan dengan sadar dan sesuai kemampuan, menurut saya tidak ada yang salah. Yang perlu kita waspadai adalah ketika keinginan untuk menikmati hidup membuat kita terus mengeluarkan uang tanpa memikirkan konsekuensinya. Apalagi jika setiap keputusan dibuat secara spontan hanya karena sedang ingin, kemudian rasa bersalahnya ditenangkan dengan kalimat, "nanti juga ada rezekinya lagi."
Tentu, percaya bahwa rezeki akan selalu ada tentu merupakan hal yang baik. Namun, keyakinan tersebut seharusnya tidak membuat kita lupa untuk bertanggung jawab terhadap uang yang sudah dimiliki. Kita tetap boleh jajan, traveling, nongkrong, membeli sesuatu yang kita inginkan, atau memberikan hadiah kepada diri sendiri. Hanya saja, jangan sampai setiap kali saldo menipis kita kembali berlindung di balik kalimat, "nanti juga ada rezekinya lagi." Memang benar, rezeki selalu punya jalan untuk sampai pada kita, tetapi untuk mengelola yang sudah ada dalam genggaman, tetap menjadi tanggung jawab kita sendiri.