Kolom
Bukan Ansos! Mahasiswa dengan Perekonomian Tipis Cuma Kalah Koneksi
Pernah dengar cerita teman yang diam-diam menghindari undangan buka bersama angkatan karena tak sanggup beli seragam kaosnya? Atau yang memilih tidak ikut acara organisasi karena tahu ujung-ujungnya akan ada urunan makan di kafe yang harganya di luar jangkauan?
Cerita semacam ini jarang jadi obrolan besar, tapi sebenarnya sedang menyingkap sesuatu yang cukup serius: kelas sosial ternyata ikut menentukan siapa yang punya akses ke jejaring, bahkan sejak bangku kuliah.
Riset yang dimuat jurnal The Review of Higher Education terbitan Johns Hopkins University Press pada 2003 menjadi salah satu bukti akademik paling kuat soal fenomena ini, menganalisis data longitudinal dari 12.000 mahasiswa di lebih 200 kampus, dan menemukan bahwa mahasiswa dari latar belakang ekonomi rendah secara konsisten lebih jarang terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler dibanding mahasiswa dari kelas ekonomi lebih tinggi.
Bukan karena kurang minat, tapi karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliahnya sendiri. Yang lebih mengejutkan, riset tersebut mencatat bahwa sembilan tahun setelah lulus, kelompok mahasiswa kurang mampu tersebut tetap tertinggal dari sisi pendapatan dan capaian pendidikan dibanding rekan-rekan mereka yang lebih mapan secara ekonomi.
Artinya, jarak yang tercipta di masa kuliah bukan sekadar soal siapa yang lebih sering nongkrong, ia punya jejak panjang yang terus terbawa sampai bertahun-tahun kemudian.
Dari titik inilah kita bisa mulai menelaah lebih jauh, sebab yang terjadi di lapangan sebenarnya jauh lebih personal dari sekadar data statistik. Circle pertemanan, organisasi, dan kegiatan sosial kampus bukan cuma ruang healing dari rutinitas akademik, ia juga menjadi tempat informasi mengalir: siapa yang tahu duluan ada lowongan magang, siapa yang direkomendasikan personal oleh senior, siapa yang diajak diskusi santai yang ternyata berujung tawaran kerja.
Ketika seorang mahasiswa memilih menghindar dari circle tertentu demi menghemat uang, menurut saya ia sebenarnya tidak sekadar kehilangan momen nongkrong, ia sedang kehilangan akses ke jaringan yang justru krusial untuk masa depan kariernya, tanpa pernah benar-benar menyadari apa yang sedang lepas dari genggamannya.
Ironisnya, biaya-biaya kecil yang tampak sepele, iuran seragam angkatan, patungan konsumsi rapat organisasi, ongkos ke acara kumpul, jarang dianggap sebagai persoalan struktural. Ia lebih sering dibingkai sebagai persoalan personal: "kurang usaha menyesuaikan diri", "terlalu pilih-pilih circle", atau bahkan "kurang niat aktif berorganisasi".
Padahal kalau ditelusuri lebih jujur, bukan soal mau atau tidak mau, tapi soal waktu dan uang yang memang sudah habis terpakai untuk bertahan hidup sehari-hari. Waktu yang seharusnya bisa dipakai membangun relasi, justru terpakai habis demi menutup kebutuhan yang jauh lebih mendesak.
Fenomena ini, menurut hemat saya, menciptakan semacam seleksi alam sosial yang berjalan diam-diam sepanjang masa kuliah: siapa yang mampu bertahan di lingkaran pertemanan tertentu, dan siapa yang perlahan menyingkir sendiri karena merasa "tidak cocok", padahal sebenarnya murni soal tidak mampu membayar.
Yang membuatnya makin sulit disorot adalah karena tidak ada yang secara sadar melakukan diskriminasi. Tidak ada organisasi yang secara terang-terangan menolak mahasiswa kurang mampu. Yang terjadi justru lebih halus: mahasiswa itu sendiri yang perlahan mundur, menghindar, atau memilih tidak pernah benar-benar mencoba masuk sejak awal, sebuah bentuk pengunduran diri yang lahir dari rasa malu, bukan dari ketiadaan keinginan.
Penting digarisbawahi, ini bukan soal menyalahkan organisasi kampus atau menuduh circle pertemanan sengaja eksklusif. Kebanyakan acara berbayar lahir dari kebutuhan praktis semata. Tapi ketika biaya-biaya kecil ini terus berulang dan terakumulasi sepanjang empat tahun masa kuliah, dampaknya tidak lagi keci, ia ikut menentukan siapa yang lulus dengan jejaring luas siap pakai, dan siapa yang lulus dengan modal ekonomi saja tanpa modal sosial yang setara.
Maka, kalau kita ingin bicara soal kesetaraan pendidikan secara jujur, mungkin sudah saatnya melihat lebih dalam dari sekadar angka biaya kuliah dan beasiswa akademik. Sebab ada bentuk kesenjangan lain yang lebih senyap namun sama pentingnya: siapa yang punya akses ke circle pertemanan yang tepat, dan siapa yang terpaksa membangun jalannya sendiri dari nol, bukan karena kurang usaha, tapi karena sejak awal permainannya memang tidak pernah dimulai dari titik yang sama.