Kolom
Trenggiling Bukan Sekadar Satwa Lucu, Ia Bagian dari Benteng Alam Kita
Trenggiling sering kali tidak mendapatkan perhatian sebesar orangutan, harimau, atau gajah. Bentuk tubuhnya unik, bersisik, pemalu, dan lebih banyak beraktivitas tanpa diketahui manusia. Namun di balik penampilannya yang sederhana, satwa ini memiliki peran ekologis yang jauh lebih penting daripada yang selama ini kita bayangkan.
Pertanyaannya kemudian: mengapa kita harus peduli terhadap trenggiling ketika krisis iklim sedang berlangsung? Jawabannya ada di dalam hutan.
Trenggiling merupakan bagian dari rantai ekosistem yang membantu menjaga keseimbangan hutan. Makanan utamanya adalah semut dan rayap. Karena itu, ia dapat berperan sebagai pengendali populasi serangga secara alami. Ada klaim populer bahwa seekor trenggiling dapat memakan hingga puluhan juta serangga dalam setahun, tetapi angka persisnya sangat bergantung pada spesies, ukuran tubuh, habitat, dan ketersediaan makanan.
Meski demikian, peran ekologisnya tidak perlu dibesar-besarkan dengan angka yang belum tentu berlaku untuk semua individu. Yang jelas, trenggiling memang merupakan pemakan semut dan rayap dalam jumlah besar dan menjadi bagian penting dari keseimbangan ekosistem.
Bayangkan jika satu mata rantai tersebut hilang. Populasi serangga tertentu dapat mengalami perubahan, sementara ekosistem kehilangan salah satu mekanisme pengendalian alaminya. Kita tidak bisa serta-merta mengatakan bahwa hilangnya trenggiling akan membuat rayap “meledak” di seluruh hutan, tetapi hilangnya predator alami tentu dapat mengubah keseimbangan ekologis.
Peran trenggiling juga terlihat dari kebiasaannya menggali tanah. Cakarnya yang kuat digunakan untuk mencari sarang semut dan rayap. Aktivitas menggali tersebut secara tidak langsung membantu menciptakan pori-pori di dalam tanah dan memengaruhi sirkulasi udara serta pergerakan air. Lubang-lubang yang ditinggalkan satwa penggali juga dapat dimanfaatkan organisme lain.
Inilah contoh kecil bagaimana satu satwa dapat memberikan dampak yang lebih besar daripada tubuhnya sendiri.
Namun, penting untuk tidak menjadikan trenggiling sebagai pahlawan tunggal penyelamat iklim. Hutan yang sehat terbentuk dari interaksi ribuan spesies, mulai dari mikroorganisme, serangga, tumbuhan, burung, mamalia, hingga manusia yang mengelolanya. Trenggiling hanyalah salah satu bagian dari sistem tersebut. Justru karena itulah kehilangan satu spesies patut dikhawatirkan.
Krisis iklim membuat fungsi hutan semakin penting. Hutan menyerap karbon, menjaga siklus air, melindungi tanah, dan membantu mengurangi berbagai risiko bencana. Ketika hutan sehat, tanah dan vegetasi dapat membantu menyerap serta menyimpan air hujan. Sebaliknya, ketika tutupan hutan rusak, kemampuan ekosistem dalam mengatur air dan melindungi tanah juga dapat menurun.
Namun hutan tidak akan sehat jika hanya pohonnya yang dipertahankan sementara seluruh kehidupan di dalamnya dihancurkan. Itulah mengapa konservasi satwa harus dipahami sebagai bagian dari perlindungan ekosistem.
Ironisnya, trenggiling justru menghadapi ancaman yang sangat serius akibat perdagangan ilegal. Sisiknya diburu untuk perdagangan, sementara dagingnya juga dikonsumsi di sejumlah tempat. Perburuan membuat populasi beberapa spesies trenggiling mengalami tekanan berat.
Ada ironi di sini. Manusia menghancurkan atau mengambil satwa dari alam untuk memenuhi kepentingan sesaat, sementara pada saat yang sama manusia membutuhkan ekosistem yang sehat untuk bertahan menghadapi perubahan iklim.
Kita sering membicarakan krisis iklim seolah-olah hanya persoalan emisi karbon, kendaraan, industri, dan energi. Semua itu memang penting. Tetapi krisis ekologis juga terjadi ketika kita terus kehilangan spesies dan merusak hubungan alami di dalam ekosistem.
Trenggiling mengingatkan kita bahwa menyelamatkan bumi bukan hanya tentang menanam pohon. Kita juga harus memastikan bahwa hutan memiliki kehidupan.
Ada trenggiling yang menggali tanah. Ada serangga yang menguraikan material organik. Ada burung yang menyebarkan biji. Ada kelelawar yang membantu regenerasi hutan. Ada predator yang mengendalikan populasi mangsa.
Semua memiliki peran. Karena itu, ketika seekor trenggiling diburu, yang hilang bukan sekadar seekor mamalia bersisik. Kita kehilangan satu bagian dari mekanisme alam yang selama ribuan tahun bekerja tanpa meminta bayaran.
Dan mungkin inilah alasan paling sederhana mengapa kita harus peduli. Alam tidak membutuhkan manusia untuk terus berjalan. Manusialah yang membutuhkan alam tetap berjalan.
Kalau kita terus menghilangkan satu per satu penjaga ekosistem, jangan heran jika suatu hari hutan yang kita harapkan menjadi benteng menghadapi krisis iklim justru tidak lagi memiliki kekuatan untuk melindungi kita.