Ulasan

Ketika Kecantikan Menjadi Komoditas: Membaca Belantik karya Ahmad Tohari

Ketika Kecantikan Menjadi Komoditas: Membaca Belantik karya Ahmad Tohari
Belantik (Dok.Pribadi/Oktavia)

Kota besar memang punya kemampuan aneh: ia bisa mengubah seseorang menjadi hampir apa saja. Orang desa bisa mendadak menjadi bagian dari lingkaran elite. Kemiskinan bisa ditukar dengan kemewahan. Bahkan seseorang yang sebelumnya tidak punya kuasa atas hidupnya sendiri bisa tiba-tiba ikut terseret ke dalam permainan kekuasaan.

Gambaran itulah yang terasa kuat dalam Belantik (Bekisar Merah II) karya Ahmad Tohari. Novel ini diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 2001, dengan tebal 142 halaman. Sebagai kelanjutan dari Bekisar Merah, cerita kembali mengikuti perjalanan Lasi, perempuan asal Karangsoga yang memiliki darah Jawa-Jepang dan penampilan yang berbeda dari perempuan lain di desanya.

Sinopsis Novel

Kecantikan Lasi sejak awal tidak selalu menjadi berkah. Semasa kecil, wajahnya yang merupakan perpaduan Jawa dan Jepang justru membuatnya menjadi sasaran ejekan. Lasi tumbuh dengan pertanyaan tentang identitas dirinya. Ia memang lahir dan besar di Karangsoga, tetapi lingkungan tempatnya hidup terus mengingatkan bahwa dirinya dianggap berbeda.

Latar belakang kelahiran Lasi pun menyimpan luka sejarah. Ia merupakan anak dari perempuan Indonesia yang menjadi korban kekerasan tentara Jepang pada masa pendudukan. Luka tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidup Lasi dan cara masyarakat memandangnya.

Ketika dewasa, persoalan Lasi semakin rumit. Rumah tangganya dengan Darsa, seorang penyadap nira, berakhir dengan kekecewaan. Lasi kemudian meninggalkan Karangsoga dan pergi ke Jakarta.

Di sinilah hidupnya berubah drastis. Jika di kampung wajah Lasi dianggap aneh, di Jakarta kecantikannya justru dipandang sebagai sesuatu yang eksotis. Ia masuk ke lingkungan yang penuh uang, kemewahan, dan kepentingan orang-orang kelas atas.

Masalahnya, Lasi tidak benar-benar memahami dunia tersebut. Ia mendapatkan kehidupan yang secara materi jauh lebih mudah, tetapi justru semakin kehilangan pijakan. Kemewahan tidak otomatis membuat seseorang bahagia. Ada perasaan asing yang terus menghantui Lasi karena kehidupan barunya dibangun di atas dunia yang nilai-nilainya bertentangan dengan latar hidup yang selama ini ia kenal.

Di titik inilah Ahmad Tohari menyelipkan kritik sosial yang tajam. Lasi tidak hanya menjadi tokoh perempuan. Tubuh dan kecantikannya seperti dijadikan simbol bagaimana orang miskin dapat diperlakukan sebagai komoditas oleh mereka yang memiliki uang dan kekuasaan.

Masyarakat miskin dalam novel ini digambarkan hidup dalam kondisi serba terbatas. Mereka menggantungkan penghasilan pada pohon kelapa dan hasil kerja yang sering kali masih harus berhadapan dengan tengkulak. Kemiskinan kemudian seolah dianggap sebagai nasib yang harus diterima begitu saja.

Sementara itu, di Jakarta, ada kelompok elite yang hidup dalam kemewahan dan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.

Pertemuan dua dunia inilah yang membuat Belantik terasa lebih dari sekadar cerita perjalanan seorang perempuan desa.

Kelebihan dan Kekurangan

Ahmad Tohari menyelipkan kritik terhadap praktik politik dan korupsi pada masa Orde Baru. Para pejabat dan pengusaha dalam cerita bergerak dalam jaringan kepentingan yang rumit. Kekuasaan tidak selalu digunakan untuk melayani masyarakat, tetapi dapat menjadi alat untuk mengendalikan orang lain.

Lasi akhirnya terseret ke dalam pusaran tersebut. Ia berada di bawah pengaruh Pak Bambung, tokoh berkuasa yang kehidupannya kemudian terbongkar melalui kasus korupsi besar. Ketika kasus tersebut terungkap, Lasi ikut terseret dan ditahan karena dimintai keterangan.

Namun, ada satu perkembangan yang memberi harapan. Lasi ternyata mengandung anak Kanjat. Berita tersebut membuat Kanjat ingin menyelamatkannya. Ketika Pak Bambung akhirnya ditahan karena kasus korupsi, Kanjat pergi ke Jakarta bersama Pardi dan meminta bantuan Blakasuta, seorang pengacara sekaligus teman lamanya.

Dengan bantuan hukum tersebut, Lasi akhirnya dapat dibebaskan dan kembali ke Karangsoga bersama Kanjat. Kepulangan itu terasa penting karena sejak awal perjalanan Lasi sebenarnya adalah perjalanan mencari tempat untuk menjadi dirinya sendiri.

Pesan Moral

Belantik berbicara tentang kemiskinan, perempuan, kekuasaan, korupsi, cinta, dan identitas. Tetapi di balik semua itu ada satu tema yang terasa paling manusiawi. Pencarian rumah dan makna pulang.

Lasi pernah mengira Jakarta dengan segala kemewahannya bisa memberikan kehidupan yang lebih baik. Namun pada akhirnya, yang ia cari bukan sekadar harta atau kemudahan. Ia mencari tempat di mana dirinya tidak dinilai hanya berdasarkan wajah, tubuh, atau status.

Ahmad Tohari juga mengingatkan bahwa perempuan bukan aksesori dalam kehidupan laki-laki. Perempuan memiliki kehendak, harga diri, dan hak untuk menentukan hidupnya sendiri.

Karena itu, Belantik bukan cuma kisah Lasi yang berpindah dari desa ke kota. Ini adalah cerita tentang seseorang yang sempat kehilangan dirinya di tengah gemerlap kekuasaan, lalu perlahan menemukan jalan untuk pulang. Dan terkadang, pulang bukan berarti kembali ke tempat semata. Pulang adalah ketika seseorang akhirnya bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus meminta izin kepada dunia.

Identitas Buku

  • Judul: Belantik (Bekisar Merah II)
  • Penulis: Ahmad Tohari
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2001
  • Tebal: 142 halaman
  • ISBN: 978-979-655-607-6

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda