Kolom
Jebakan Repost di Instagram: Saat Kepedulian Sosial Berakhir Menjadi Validasi Digital
Coba lihat Instagram ketika ada isu sosial atau politik yang sedang ramai. Tiba-tiba story penuh infografis, potongan berita, ajakan boikot, sampai tulisan panjang tentang keadilan. Orang yang biasanya tidak pernah membahas politik pun ikut bersuara. Dalam beberapa jam, satu isu bisa muncul di hampir semua lini masa.
Saya sendiri tidak melihat kebiasaan ini sebagai sesuatu yang buruk. Justru media sosial membuat kita jauh lebih mudah mengetahui persoalan yang sebelumnya mungkin tidak pernah kita dengar. Masalahnya muncul ketika kita mulai menyamakan ikut membagikan isu dengan ikut memperjuangkannya. Sebab, setelah kita menekan tombol repost, sebenarnya apa yang sudah kita lakukan?
Ketika Peduli Cukup Dilakukan Lewat Story
Dulu, keterlibatan dalam gerakan sosial mungkin terasa lebih mahal. Kita harus datang ke diskusi, bergabung dengan organisasi, ikut demonstrasi, menjadi relawan, atau setidaknya melakukan sesuatu yang membutuhkan waktu dan tenaga.
Sekarang, pintu masuknya jauh lebih sederhana. Kita bisa mulai dari membaca, menyukai, membagikan, menandatangani petisi, berdonasi, membuat konten, hingga mengajak orang lain ikut bergerak. Dalam riset mengenai aktivisme digital, keterlibatan memang bisa berkembang bertahap dari sekadar awareness menuju mobilisasi dan tindakan offline.
Artinya, repost bukan berarti tidak berguna.
Tetapi persoalannya adalah ketika repost menjadi garis akhir.
Kita merasa sudah ikut menyuarakan sesuatu hanya karena unggahan kita dilihat banyak orang. Padahal, perubahan sosial biasanya membutuhkan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada satu kali ketukan layar. Waktu, konsistensi, tenaga, bahkan risiko.
Data Menunjukkan Aktivisme Digital Tidak Sesederhana Itu
Menariknya, penelitian tidak mendukung anggapan bahwa aktivisme digital selalu dangkal. Meta-analisis terhadap 82 studi empiris menemukan bahwa partisipasi digital tidak membunuh partisipasi offline. Sebaliknya, media sosial dapat menjadi gateway yang mendorong seseorang menuju bentuk partisipasi yang lebih nyata, meskipun kekuatannya tidak selalu besar.
Kita bahkan punya contoh di Indonesia. Gerakan #PeringatanDarurat dan #KawalPutusanMK pada Agustus 2024 menunjukkan bagaimana simbol dan kemarahan yang awalnya menyebar cepat di media sosial kemudian berkembang menjadi aksi fisik di berbagai daerah. Kasus Pandawara Group juga memperlihatkan pola serupa. Konten digital digunakan untuk mengajak ribuan orang benar-benar hadir membersihkan lingkungan. Jadi, mengatakan “aktivisme di Instagram itu cuma omong kosong” jelas terlalu sederhana. Justru di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Ketika Kita Merasa Sudah Berbuat
Ada penelitian tentang moral licensing yang membuat saya cukup tertarik. Dalam penelitian tersebut, dukungan publik yang sifatnya ringan dan terlihat orang lain seperti menunjukkan simbol kepedulian yang dapat membuat seseorang merasa kebutuhan moralnya sudah terpenuhi. Akibatnya, keinginan melakukan tindakan lanjutan bisa menurun. Sebaliknya, keterlibatan digital yang lebih privat dan mendalam justru dapat lebih mungkin berlanjut ke tindakan nyata.
Saya pikir fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Ada kepuasan tertentu ketika story kita dipenuhi orang lain, ketika unggahan kita mendapat dukungan, atau ketika kita merasa berada di sisi yang “benar”. Masalahnya, validasi sosial tidak selalu sama dengan kontribusi sosial.
Belum lagi biaya antara keduanya memang sangat berbeda. Membagikan unggahan bisa dilakukan dalam beberapa detik tanpa risiko. Turun ke jalan, menjadi relawan, berdonasi secara rutin, atau ikut mengorganisasi gerakan tentu membutuhkan komitmen yang jauh lebih besar.
Maka saya tidak heran ketika banyak isu bisa membuat timeline kita sangat ramai hari ini, lalu hampir hilang sama sekali beberapa hari kemudian.
Masalahnya Bukan Instagram
Di titik ini, saya justru tidak ingin menyalahkan Instagram atau generasi muda. Media sosial punya peran yang sangat besar dalam memperluas akses terhadap isu, mengurangi hambatan partisipasi, dan menghubungkan orang-orang yang sebelumnya tidak punya akses pada ruang politik formal. Masalahnya adalah ketika kemudahan bersuara membuat kita merasa tidak perlu melakukan lebih banyak.
Kita akhirnya sibuk mengumpulkan simbol kepedulian, tetapi lupa membangun komitmen. Menurut saya, aktivisme digital seharusnya dilihat sebagai pintu masuk, bukan garis finis. Repost boleh. Story boleh. Hashtag juga boleh. Tetapi setelah itu, pertanyaannya sederhana, apa langkah berikutnya?
Mencari informasi yang lebih lengkap? Berdonasi? Membantu organisasi lokal? Hadir dalam aksi? Menghubungi pengambil kebijakan? Atau sekadar terus mengikuti isu ketika sudah tidak lagi viral? Sebab pada akhirnya, ukuran kepedulian bukan hanya seberapa ramai kita ketika semua orang sedang membicarakan sebuah isu.
Ukuran kepedulian justru terlihat ketika isu itu sudah tidak lagi ramai.
Dan mungkin, pertanyaan yang lebih jujur bukan lagi, “Apakah saya sudah ikut bersuara?”
Melainkan:
“Setelah semua orang berhenti me-repost, apa yang masih saya lakukan?”