Kolom

Satu Ukuran untuk Semua: Mengapa Sistem Desil Tunggal Ancam Masa Depan?

Satu Ukuran untuk Semua: Mengapa Sistem Desil Tunggal Ancam Masa Depan?
Ilustrasi anak-anak dalam kondisi ekonomi rentan. (Foto: Pexels / Damilola Saka)

Seorang tukang becak tiba-tiba kehilangan hak bantuan beras harian. Di sudut kota lain, seorang mahasiswi berprestasi terancam putus kuliah di pertengahan semester karena beasiswa KIP-Kuliah miliknya dicabut secara mendadak. Kedua peristiwa menyedihkan ini bersumber dari satu muara yang sama: angka desil ekonomi keluarga mereka mendadak naik.

Fenomena pencabutan perlindungan sosial akibat pergeseran desil belakangan ini memicu gelombang polemik di tengah masyarakat. Namun, alih-alih sekadar saling menunjuk siapa yang salah ketik data, pernahkah kita mempertanyakan logika dasar di balik sistem ini? Mengapa instrumen yang digunakan untuk mengukur kelayakan penerima bantuan beras sama persis dengan indikator penentu nasib bangku kuliah seseorang?

Kekeliruan Fatal Pendekatan One-Size-Fits-All

Dalam tata kelola bantuan sosial kita, indikator desil tunggal diperlakukan bak rumus ajaib yang mahakuasa. Angka desil menggeneralisasi seluruh kondisi ekonomi rumah tangga ke dalam satu peringkat garis lurus. Padahal, kebutuhan dasar hidup manusia memiliki struktur dan urgensi yang amat berlainan.

Menyamaratakan bantuan sembako dengan beasiswa pendidikan adalah kekeliruan struktural yang berisiko fatal. Penyebabnya, dinamika biaya hidup harian tidak bisa diukur dengan pengeluaran investasi jangka panjang seperti pendidikan tinggi.

Bayangkan sebuah keluarga pedagang asongan yang pendapatannya naik tipis—katakanlah Rp100.000 per bulan—sehingga desil mereka bergeser dari Desil 3 ke Desil 4. Tambahan penghasilan tersebut mungkin cukup untuk membeli beras secara mandiri tanpa bantuan pemerintah. Namun, apakah kenaikan tipis itu otomatis membuat keluarga tersebut sanggup membiayai UKT kuliah anaknya sebesar jutaan rupiah per semester? Jelas tidak.

Sistem one-size-fits-all ini justru menciptakan jebakan baru: peningkatan ekonomi yang sangat kecil memaksa sebuah keluarga mengorbankan pendidikan anak-anak mereka.

Saatnya Memisah Indikator: Education & Health Index

Jika pemerintah sungguh-sungguh ingin menghadirkan keadilan sosial yang presisi, cara pandang terhadap desil harus berevolusi. Kita tidak bisa lagi mengandalkan satu skor kaku untuk memutuskan segala jenis program perlindungan sosial.

Solusi paling realistis dan berkeadilan adalah menerapkan Sistem Desil Tematik dengan memisahkan parameter pengukuran:

  • Education Decile Index (EDI): Indikator ini khusus mengukur kelayakan bantuan pendidikan seperti KIP-Kuliah. EDI tidak hanya melihat pendapatan kotor orang tua, tetapi memperhitungkan rasio tanggungan anak usia sekolah/kuliah serta jenjang pendidikan yang sedang ditempuh.
  • Health Vulnerability Index (HVI): Indikator ini khusus menentukan kepesertaan jaminan kesehatan (KIS/PBI). Pengukurannya mengintegrasikan risiko medis keluarga, seperti keberadaan anggota keluarga dengan penyakit kronis atau katastropik (seperti cuci darah/gagal ginjal) yang bisa seketika memiskinkan keluarga kelas menengah sekalipun.

Dengan pemisahan ini, keluarga yang secara bertahap mandiri dalam kebutuhan pangan tidak perlu merasa terancam kehilangan akses pendidikan dan kesehatan dasar. Mobilitas sosial anak-anak dari keluarga tidak mampu pun tetap terjaga tanpa terputus di tengah jalan.

Bergerak Maju Tanpa Mencabut Pijakan

Bantuan sosial bukanlah sekadar pembagian koin kesejahteraan, melainkan jaring pengaman agar warga negara tidak terperosok ke jurang kemiskinan yang lebih dalam. Pendidikan tinggi dan jaminan kesehatan adalah dua pilar paling fundamental untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Sudah saatnya pembuat kebijakan menghentikan kebiasaan menyederhanakan realitas hidup rakyat ke dalam satu angka desil yang kaku. Ketika data pemerintah makin canggih, metodologi pengukurannya pun harus makin manusiawi dan kontekstual.

Sebab, bukankah ironis jika sebuah sistem yang dirancang untuk mengentaskan kemiskinan justru menjadi alasan utama seorang anak muda harus mengubur mimpinya di bangku kuliah?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda