Kolom
Cantik di Luar, Krisis di Dalam: Sisi Gelap Beauty with a Purpose yang Sering Kita Abaikan
Ajang penobatan Miss World 2026 yang baru saja usai kembali menyita perhatian publik internasional. Kemenangan Joheirry Mola dari Republik Dominika mendominasi berbagai lini masa berita. Namun, ada satu momen yang tak kalah menyedot perhatian netizen: gaun unik bertajuk "The Layers of Life" karya perwakilan Uganda, Elle Muhoza. Gaun berlapis-lapis tersebut memvisualisasikan tujuh lapisan anatomi yang dibelah dokter saat prosedur operasi caesar.
Seketika, perdebatan publik meledak. Media sosial dibanjiri komentar yang berfokus pada estetika, keunikan perpaduan warna, hingga keberanian sang desainer. Namun, di balik riuhnya tepuk tangan untuk sehelai busana, ada pertanyaan besar yang luput dari ingatan kita: bukankah isu angka kematian ibu dan akses kesehatan persalinan jauh lebih krusial dibanding perdebatan apakah gaun tersebut indah atau nyeleneh?
Ketika Pesan Kemanusiaan Terkikis Komodifikasi Fesyen
Slogan "Beauty with a Purpose" telah lama menjadi fondasi utama ajang seperti Miss World. Pendekatan ini berjanji bahwa kecantikan fisik hanyalah jalan masuk untuk menggaungkan advokasi sosial. Sayangnya, realitas di lapangan kerap memperlihatkan kebalikan yang menggelitik.
Publik dan media sering kali mengonsumsi advokasi tersebut hanya sejauh simbolis visual. Sebuah busana yang terinspirasi dari prosedur medis yang menyelamatkan jutaan nyawa perempuan akhirnya diposisikan sekadar fashion statement demi mengejar impresi digital. Ketika perhatian kita habis untuk mengagumi lipatan kain yang menggambarkan lapisan lemak atau otot rahim, kita lupa menanyakan angka kematian ibu hamil di wilayah yang diwakilinya, atau bagaimana akses fasilitas kesehatan bagi perempuan berpenghasilan rendah di sana.
Advokasi kesehatan dan sosial pun berisiko bergeser menjadi sekadar pemanis panggung—sebuah instrumen penambah bobot nilai kontestan agar terkesan substantif, tanpa ada tindak lanjut yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Melepaskan Diri dari Jebakan Sensasi Visual
Sudah saatnya kita menghentikan tradisi mereduksi perjuangan sosial menjadi sekadar tontonan visual. Mengkritik fenomena ini bukan berarti menyepelekan kerja keras para perancang busana atau usaha para kontestan. Estetika dan seni tentu memiliki kekuatan besar sebagai pembuka jalan komunikasi. Namun, seni tanpa kejelasan dampak nyata hanya akan berakhir sebagai komoditas hiburan sesaat.
Jika sebuah panggung megah berkaliber internasional berniat mendorong perubahan sosial, maka komitmen yang dihadirkan tidak boleh berhenti pada detik saat lampu sorot panggung dipadamkan.
Solusi: Membangun Ekosistem Advokasi Berkelanjutan
Agar narasi "Beauty with a Purpose" tidak menjadi slogan kosong, perlu ada reorientasi mendasar dari penyelenggara maupun publik luas:
- Platform Edukasi Terstruktur. Penyelenggara harus memfasilitasi ruang kampanye yang terstruktur. Kampanye sosial tidak boleh diselipkan secara impulsif lewat peragaan busana semata, melainkan diintegrasikan ke dalam forum diskusi publik, pembuatan kebijakan lokal, atau kerja sama edukasi yang menjangkau audiens secara luas.
- Kemitraan dan Pendanaan Resmi. Proyek advokasi yang diusung para kontestan idealnya diintegrasikan dengan lembaga global terpercaya, seperti WHO atau UNICEF. Penyelenggara wajib memberikan dana hibah atau pendampingan berkelanjutan pasca-kompetisi, sehingga pesan yang dibawa sang kontestan bertransformasi menjadi program nyata di lapangan.
- Mendorong Literasi Kritis Publik. Pembaca dan penonton perlu melatih sensitivitas diri. Saat melihat gagasan besar dikemas dalam bentuk fesyen, pertanyaan pertama yang kita ajukan hendaknya bukan lagi "Seberapa bagus gaunnya?", melainkan "Dampak nyata apa yang sedang diperjuangkan di balik gaun tersebut?".
Panggung penganugerahan boleh saja telah berakhir dan mahkota telah terpasang. Namun, perjuangan untuk kesehatan dan hak-hak perempuan di seluruh dunia tidak boleh ikut usai bersama redupnya panggung peragaan. Pada akhirnya, apakah kita akan terus puas menjadi penonton yang terpukau oleh indahnya permukaan, atau mulai berani menagih substansi di balik megahnya kilatan kamera?