Kolom
Makin ke Sini Makin Banyak Istilah Baru, Memangnya Kita Paham Konteksnya?
Belakangan saya merasa kita semakin sulit menceritakan sesuatu dengan bahasa sederhana. Teman tidak membalas pesan tiga hari, langsung disebRemember when I told you that I had to hold back my anger? It felt really uncomfortable, and I felt like I needed to release those emotions somehow. So last night, I watched a sad movie and ended up crying my heart out.ut avoidant. Atasan banyak menuntut disebut toxic. Pasangan suka membela diri saat dikritik disebut narcissist. Bahkan ketika seseorang merasa tidak nyaman terhadap perkataan orang lain, istilah triggered atau trauma sering kali ikut muncul.
Saya tidak mengatakan istilah-istilah tersebut tidak berguna. Justru sebaliknya, saya kira kemampuan memberi nama pada pengalaman tertentu adalah kemajuan. Masalahnya muncul ketika kita merasa bahwa setelah berhasil menemukan istilahnya, kita otomatis sudah memahami masalahnya.
Kita Punya Lebih Banyak Istilah, Tapi Benarkah Lebih Paham?
Media sosial membuat bahasa psikologi semakin mudah masuk ke percakapan sehari-hari. TikTok, X, Instagram, hingga konten self-improvement dipenuhi istilah seperti gaslighting, boundaries, trauma dumping, love bombing, sampai weaponized incompetence. Riset yang saya temukan menunjukkan bahwa fenomena therapy speak memang semakin luas, sementara konsep-konsep tertentu juga mengalami apa yang disebut concept creep, maknanya meluas dari konteks yang lebih spesifik menjadi pengalaman sehari-hari yang jauh lebih ringan.
Kita bahkan bisa melihat bentuknya dalam percakapan yang sangat sederhana. “Teman saya tidak mau meminjamkan uang” bisa disebut toxic. Pasangan yang tidak membeli hadiah bisa disebut melakukan weaponized incompetence. Seseorang yang memberikan banyak perhatian di awal hubungan langsung dicurigai sedang melakukan love bombing. Contoh-contoh seperti ini menunjukkan betapa cepatnya sebuah istilah berpindah konteks ketika masuk ke media sosial.
Buat saya, di sinilah anomali itu muncul. Kita mempunyai vocabulary yang semakin banyak untuk menjelaskan manusia, tetapi cara kita memahami manusia belum tentu ikut menjadi lebih dalam.
Istilah Seharusnya Menjadi Peta, Bukan Vonis
Saya tetap melihat manfaatnya. Bagi orang yang mengalami manipulasi, misalnya, mengenal istilah gaslighting bisa membantu mereka menyadari bahwa pengalaman yang dialami bukan sekadar “perasaan berlebihan”. Bahasa semacam ini juga membuat pembicaraan soal kesehatan mental menjadi lebih normal dan tidak lagi sepenuhnya dianggap tabu.
Tetapi masalahnya, istilah yang awalnya membantu kita menemukan pola bisa berubah menjadi jawaban final. Kita tidak lagi berkata, “Dia berulang kali memutarbalikkan fakta.” Kita langsung berkata, “Dia gaslighting saya.” Kita tidak lagi menjelaskan perilakunya, tetapi langsung menyimpulkan siapa dirinya.
Saya menyebut ini sebagai ilusi presisi. Jargon psikologi membuat penjelasan kita terdengar lebih ilmiah dan meyakinkan, padahal konteks yang kita punya belum tentu cukup. Riset tersebut bahkan menyoroti kecenderungan penggunaan istilah sebagai shortcut yang dapat menghentikan analisis lebih jauh.
Ketika Bahasa Psikologi Menjadi Senjata
Masalah berikutnya muncul ketika istilah bukan lagi digunakan untuk memahami, melainkan untuk memenangkan percakapan.
Misalnya, seseorang menghilang tanpa kabar lalu mengatakan sedang “menjaga boundaries”. Atau ketika mendapat kritik, seseorang membalas bahwa lawan bicaranya sedang projecting. Kita juga melihat istilah trauma, toxic, dan triggered digunakan untuk membenarkan keputusan atau memotong diskusi.
Sekali lagi, bukan berarti semua contoh tersebut salah. Persoalannya adalah siapa yang mendefinisikan istilah itu, dengan konteks seperti apa, dan apakah istilah tersebut benar-benar menjelaskan perilaku yang sedang dibicarakan?
Batas (boundary), misalnya, pada dasarnya membantu seseorang menentukan bagaimana ia akan merespons perilaku orang lain. Namun istilah tersebut bisa bergeser menjadi alat untuk mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan orang lain. Di titik itu, bahasa yang seharusnya membantu kita menjaga diri justru berubah menjadi alat kontrol.
Kita Ingin Memahami, Tapi Malah Terlalu Cepat Menghakimi
Ada kontradiksi yang menurut saya cukup ironis. Kita hidup di masa ketika kesadaran terhadap kesehatan mental semakin tinggi, tetapi kita juga semakin cepat memberikan label kepada orang lain.
Kita menolak manusia dimasukkan ke dalam kotak, tetapi dengan cepat mengatakan seseorang narcissist, toxic, avoidant, atau manipulatif. Kita ingin hubungan yang sehat dan penuh empati, tetapi terkadang satu label sudah cukup untuk membuat kita berhenti mendengarkan. Riset mengenai fenomena ini bahkan menyebut adanya labeling paradox: awareness meningkat, tetapi pemahaman terhadap kompleksitas manusia dapat berubah menjadi pemikiran hitam-putih.
Menurut saya, inilah risiko terbesar dari budaya therapy speak. Kita bisa terlalu sibuk mencari nama sampai lupa melihat kejadian sebenarnya. Maka mungkin kita tidak membutuhkan lebih sedikit istilah. Kita membutuhkan lebih banyak konteks.
Sebelum mengatakan seseorang narcissist, coba jelaskan dulu perilakunya. Sebelum menyebut sesuatu gaslighting, lihat polanya. Sebelum memakai boundary, pastikan kita sedang menetapkan batas untuk diri sendiri, bukan menyamarkan keinginan mengontrol orang lain.
Karena pada akhirnya, memberi nama pada sesuatu bukan berarti kita sudah memahaminya. Istilah seharusnya menjadi peta yang membantu kita mencari jalan, bukan vonis yang membuat kita berhenti mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.