Kolom

Kehilangan Habitat: Saat Satwa Dipaksa Pergi Tanpa Tujuan

Kehilangan Habitat: Saat Satwa Dipaksa Pergi Tanpa Tujuan
Lutung Jawa (@photographyeza)

Kita sering membicarakan kehilangan habitat seolah-olah itu hanya perkara berkurangnya jumlah pohon. Hutan ditebang, lahan dibuka, kawasan dibangun, lalu kita menyebutnya sebagai perubahan fungsi lahan. Padahal, bagi satwa liar, yang hilang bukan sekadar pepohonan. Yang hilang adalah rumah, dapur, tempat berlindung, jalur berpindah, hingga ruang untuk berkembang biak.

Dan masalah paling besarnya, tidak semua hewan punya tempat lain untuk dituju. Sebagian satwa mungkin akan mencoba berpindah ketika habitatnya rusak. Mereka mencari kawasan yang masih menyediakan makanan, air, tempat berlindung, dan kondisi yang memungkinkan mereka bertahan hidup. Namun, berpindah bukan berarti menemukan rumah baru.

Lingkungan baru belum tentu cocok dengan kebutuhan mereka. Seekor hewan yang terbiasa hidup di hutan tertentu tidak otomatis mampu bertahan di hutan lain. Jenis tumbuhan yang tersedia mungkin berbeda. Sumber air bisa lebih jauh. Predator yang dihadapi bisa berbeda. Bahkan suhu, kelembapan, dan struktur vegetasi dapat menentukan apakah seekor satwa mampu bertahan atau tidak.

Di titik inilah kita perlu memahami bahwa habitat bukan sekadar tempat tinggal. Habitat adalah sistem kehidupan. Ketika seekor satwa kehilangan habitat, ia juga kehilangan sumber makanan. Hewan pemakan buah bergantung pada pohon tertentu. Satwa pemakan serangga membutuhkan lingkungan yang mendukung keberadaan mangsanya. Hewan yang membutuhkan lubang pohon untuk bersarang tidak bisa begitu saja menggantinya dengan bangunan manusia.

Kemudian muncul persoalan berikutnya: persaingan. Satwa yang terusir dari habitatnya harus masuk ke wilayah yang mungkin sudah ditempati satwa lain. Mereka harus berebut makanan, air, dan tempat berlindung. Dalam kondisi tertentu, perpindahan ini bahkan dapat meningkatkan konflik antarspesies.

Belum selesai sampai di situ. Di antara habitat yang tersisa, sering kali terdapat jalan raya, perkebunan, permukiman, kawasan industri, atau infrastruktur lain yang memotong jalur alami satwa.

Bagi manusia, jalan adalah sarana mobilitas. Bagi satwa, jalan bisa menjadi tembok mematikan. Hewan yang mencoba menyeberang berisiko tertabrak kendaraan. Yang memilih menghindar mungkin justru semakin terisolasi. Populasi yang terpisah oleh pembangunan juga memiliki lebih sedikit kesempatan untuk bertemu dan berkembang biak. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membuat populasi semakin rentan. Karena itu, mengatakan bahwa hewan “bisa pindah” sebenarnya terlalu menyederhanakan persoalan. Pindah membutuhkan ruang. Bertahan membutuhkan sumber daya. Dan keduanya semakin sulit ditemukan ketika manusia terus mengambil ruang hidup satwa.

Ironisnya, manusia sering baru memperhatikan keberadaan satwa ketika mereka masuk ke permukiman. Monyet muncul di rumah, gajah masuk kebun, beruang mendekati permukiman, atau satwa liar terlihat di jalan. Reaksi yang muncul kadang justru menyalahkan hewan. Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa mereka sampai datang ke sana?

Bisa jadi karena rumah mereka telah berubah menjadi perkebunan. Bisa jadi sumber makanan mereka menghilang. Bisa jadi jalur jelajah mereka terputus. Bisa juga karena habitat yang tersisa sudah terlalu kecil untuk menopang kehidupan mereka. Konflik manusia dan satwa tidak selalu bermula ketika hewan memasuki wilayah manusia. Sering kali, konflik itu bermula jauh sebelumnya. Ketika manusia memasuki wilayah satwa dan mengubahnya secara permanen.

Maka menjaga habitat seharusnya tidak dianggap sebagai agenda tambahan dalam konservasi. Melindungi satwa berarti melindungi ruang hidupnya. Caranya bukan hanya menyelamatkan individu hewan yang terluka atau memindahkan satwa dari permukiman. Kita juga harus menjaga hutan, memulihkan ekosistem yang rusak, mempertahankan koridor satwa, dan memastikan pembangunan tidak memutus ruang hidup mereka.

Sebab bagi sebagian satwa, ketika rumahnya hilang, tidak ada rumah kedua. Dan ketika habitat terakhir lenyap, yang hilang bukan hanya sebuah tempat. Yang hilang adalah kesempatan untuk tetap hidup.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda