Ulasan
The Mistresss Revenge: Perselingkuhan, Obsesi, dan Balas Dendam
Bagaimana jika sebuah hubungan gelap yang berlangsung selama lima tahun tiba-tiba berakhir ketika salah satu pihak memilih kembali kepada keluarga? Bagi Sally, tokoh utama dalam novel The Mistress’s Revenge karya Tamar Cohen, putus dari kekasih bukan sekadar kehilangan hubungan. Itu seperti kehilangan seluruh dunia yang selama ini ia bangun di sekitar seorang laki-laki bernama Clive.
Novel ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada Juli 2012. Ceritanya mengambil tema perselingkuhan, pernikahan, obsesi, konsekuensi, kesehatan mental, hingga sisi gelap manusia ketika menghadapi patah hati.
Sinopsis Novel
Sally dan Clive sama-sama telah menikah ketika hubungan mereka dimulai. Selama lima tahun, keduanya menjalani perselingkuhan yang penuh gairah. Sally percaya bahwa Clive benar-benar mencintainya. Ia bahkan meyakini bahwa kebahagiaan Clive lebih besar ketika bersama dirinya daripada ketika bersama istrinya, Susan, dan anak-anak mereka.
Namun, hubungan itu akhirnya berakhir. Clive memutuskan meninggalkan Sally dan kembali mendedikasikan dirinya kepada istri serta keluarganya. Masalahnya, Sally belum siap menerima kenyataan tersebut.
Sally tidak mampu menarik garis akhir dari hubungan yang bagi Clive mungkin sudah selesai. Awalnya, tindakan Sally terlihat seperti sesuatu yang masih bisa dianggap wajar. Ia berjalan melewati rumah Clive. Ia mampir ke restoran tempat anak Clive bekerja. Kemudian, ia berteman dengan istri dan anak perempuan Clive melalui Facebook. Sally selalu memiliki alasan untuk membenarkan tindakannya sendiri.
Bukankah itu hal biasa? Di sinilah novel mulai terasa mengganggu sekaligus menarik. Pembaca diajak masuk sangat dekat ke dalam kepala Sally. Seluruh cerita disampaikan melalui perspektifnya, sehingga kita dapat melihat bagaimana pikirannya bekerja, bagaimana ia membenarkan tindakan sendiri, sekaligus bagaimana obsesinya perlahan berkembang.
Tidak ada bab-bab konvensional dalam buku ini. Cerita bergerak melalui bagian-bagian pendek seperti catatan atau jurnal. Format tersebut membuat pengalaman membaca terasa sangat personal karena pembaca seperti sedang membaca isi kepala Sally secara langsung. Namun, kedekatan itu juga bisa menjadi tantangan. Saya sendiri justru sulit bersimpati kepada Sally. Ia memang sedang mengalami kehancuran emosional, tetapi perilakunya yang semakin obsesif, suka menguntit, dan sulit menerima batasan membuat saya lebih sering merasa kesal daripada iba.
Di satu sisi, Sally adalah perempuan yang sedang kehilangan pegangan. Ia memiliki suami dan dua anak, sementara kondisi ekonominya juga tidak mudah. Ia bahkan berkonsultasi dengan psikiater karena kondisi mentalnya memburuk. Sayangnya, pengobatan dan bantuan profesional tidak serta-merta membuatnya pulih. Ketika ia berhenti meminum obat yang diresepkan dokter, keadaan justru semakin kacau.
Kelebihan dan Kekurangan
Novel ini menjadi menarik karena tidak menggambarkan perselingkuhan hanya sebagai kisah cinta terlarang yang romantis. Cohen menunjukkan konsekuensi yang mungkin muncul ketika sebuah hubungan dibangun dengan mengorbankan orang lain. Ada kebohongan, rasa kehilangan, kecemburuan, kemarahan, manipulasi, dan keinginan untuk membalas sakit hati.
Yang membuatnya semakin menarik, Sally bukan karakter yang mudah disukai. Pembaca justru dipaksa berhadapan dengan pertanyaan yang tidak nyaman: sampai sejauh mana seseorang bisa berubah ketika kehilangan orang yang menjadi pusat hidupnya?
Bagi saya, The Mistress’s Revenge juga menjadi semacam pengingat bahwa perselingkuhan tidak berhenti ketika hubungan berakhir. Ada konsekuensi yang bisa mengikuti semua pihak. Clive mungkin merasa sudah menyelesaikan masalah ketika memilih keluarganya kembali, tetapi keputusan masa lalu tetap meninggalkan luka yang tidak sederhana.
Meski bagian awal novel terasa agak lambat, cerita perlahan semakin kuat setelah melewati seperempat pertama. Ketika kondisi Sally mulai tidak terkendali, kisahnya berubah menjadi perjalanan psikologis yang penuh ketegangan. Ada banyak kejutan yang membuat pembaca terus bertanya-tanya ke mana obsesi Sally akan membawanya.
Pesan Moral
Pada akhirnya, The Mistress’s Revenge bukan kisah tentang perempuan yang sekadar patah hati. Ini adalah cerita tentang bagaimana cinta yang kehilangan batas dapat berubah menjadi obsesi, bagaimana perselingkuhan memiliki konsekuensi, dan bagaimana manusia bisa melakukan hal-hal yang tidak pernah dibayangkan ketika emosinya mengambil alih kendali.
Sally mungkin membuat pembaca kesal, bahkan gemas setengah mati. Tetapi justru karakter seperti inilah yang membuat novel ini sulit dilupakan. Karena terkadang, karakter yang paling mengganggu adalah karakter yang paling berhasil menunjukkan sisi manusia yang tidak ingin kita akui.
Dan untuk Clive, mungkin ada satu pelajaran sederhana: kalau tidak ingin berurusan dengan konsekuensi yang rumit, jangan membuka pintu perselingkuhan sejak awal. Sebab ketika sebuah hubungan dibangun di atas luka orang lain, tidak ada yang bisa menjamin bagaimana cerita itu akan berakhir.
Identitas Buku
- Judul: The Mistress’s Revenge
- Penulis: Tamar Cohen
- Penerbit: Bentang Pustaka
- Tanggal Terbit: Juli 2012
- ISBN: 9786028811880
- Genre: Fiksi Psikologis, Drama, Thriller Psikologis