Kolom

Selalu Sibuk Tapi Hidup Rasanya Stuck: Apakah Tanda Terjebak "Mode" Malas?

Selalu Sibuk Tapi Hidup Rasanya Stuck: Apakah Tanda Terjebak "Mode" Malas?
ilustrasi merasa malas (Pexels/Karola G)

Banyak orang, termasuk saya, pernah menolak disebut malas karena merasa hidup sangat sibuk, penuh aktivitas, dan selalu punya rutinitas yang menyita waktu. Saya sendiri sedang berada di situasi ini, masih sibuk, tidak hanya rebahan seharian, tetapi ada tanda-tanda kemalasan yang sebenarnya tidak bisa saya abaikan. 

Saya akhirnya sadar kalau rasa malas justru tersembunyi di balik kebiasaan kecil yang terlihat “normal” dan sering dianggap wajar oleh banyak orang. Seolah dinormalisasi dan dimaklumi, pola ini malah menghambat perkembangan diri, karier, bahkan kualitas hidup saya. 

Kecenderungan malas di tengah produktivitas dan rutinitas sehari-hari ini mulai saya gali tanda-tandanya agar bisa saya kenali lalu atasi demi menghindari terjebak "mode" malas untuk memperbaiki kualitas hidup.

Saya Sering Menunda dengan Alasan “Nanti Lebih Siap”

Menunda adalah tanda klasik kemalasan yang paling halus, dan tanda ini ternyata ada dalam diri saya. Bukan karena saya tidak bisa, tetapi lebih karena saya berdalih akan menunggu mood, waktu yang pas, atau kondisi ideal yang pada akhirnya tidak pernah datang jika tidak dipaksa bergerak.

Kalimat seperti “Nanti aja kalau lagi niat”, “Besok aja, sekarang belum siap”, atau “Tunggu mood bagus dulu” mungkin terdengar lumrah dan aman. Padahal kalimat sejenis ini merupakan bentuk penghindaran. Sebab, orang yang rajin akan tetap bergerak meski tidak selalu dalam kondisi sempurna.

Sibuk, Tapi Tidak Produktif

Di satu momen, saya merasa capek setiap hari, tetapi kalau ditanya hasilnya apa, saya sendiri malah jadi bingung. Aktivitas penuh, kok tidak membawa progres nyata dalam hidup. Saya pun menamai tanda ini sebagai sibuk yang tidak produktif.

Kondisi ini sering terjadi karena saya terlalu banyak melakukan hal reaktif, seperti scrolling, membalas chat, meeting tanpa arah, atau multitasking berlebihan. Kesibukan semacam ini memberi ilusi produktif, padahal sebenarnya saya sedang menghindari pekerjaan penting yang butuh fokus dan tanggung jawab.

Terlalu Sering Mencari Alasan

saya juga mulai mengakui kalau saya cenderung sangat "kreatif" dalam membuat alasan demi menunda pekerjaan. Mulai dari cuaca, kondisi mental, situasi sekitar, sampai menyalahkan orang lain. pola inilah yang membuat saya terjebak mode malas yang semakin berlarut-larut.

Contohnya, “Aku nggak berkembang karena lingkunganku nggak mendukung” atau “Kalau fasilitasnya lebih bagus, aku pasti bisa”. Padahal, alasan ini hanya saya pakai untuk menenangkan rasa bersalah karena tidak bergerak atau bergerak tapi tanpa hasil positif.

Punya Banyak Rencana, Minim Eksekusi

Bisa dibilang saya termasuk jago bikin rencana, target, resolusi, bahkan vision board, tetapi minim eksekusi. Endingnya, realisasi dari rencana-rencana tadi hampir tidak ada hingga semangat menggebu setiap awal bulan atau tahun, perlahan menghilang tanpa bekas.

Ini bukan soal kurang ide, tapi kurang konsistensi, dan saya menyadari kelemahan saya ini. Rasa malas dalam diri saya sering menyamar sebagai “perencana hebat” yang lupa kalau perubahan sebenarnya datang dari tindakan kecil yang diulang.

Mudah Menyerah saat Tidak Langsung Berhasil

Begitu mencoba sesuatu dan hasilnya tidak instan, saya juga langsung kehilangan minat. Saya akui proses belajar yang penuh trial and error ini cukup melelahkan dan keinginan serba cepat masih terus jadi tujuan. Saat realita tidak sesuai ekspektasi, saya memilih berhenti daripada berproses hingga membentuk kemalasan mental yang enggan menghadapi ketidaknyamanan.

Belum lagi saya termasuk pribadi yang terlalu menikmati zona nyaman yang terasa aman, familiar, dan minim risiko. Sayangnya, terlalu lama berada dalam kondisi ini malah mendorong tanda kemalasan dalam diri saya semakin berkembang.

Saya menyadari kondisi ini karena sering berkata “Yang penting aman”, “Ngapain capek-capek”, atau “Segini juga sudah cukup”. Dalih ini kemudian malah menahan diri saya dari potensi yang lebih besar hanya karena takut repot. apalagi kalau mood kacau, sudah pasti semangat auto ambyar.

Lebih Sering Membandingkan daripada Memperbaiki

Alih-alih fokus berkembang, rasa malah dalam diri saya tumbuh semakin subur saat saya sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Entah merasa minder atau justru merasa lebih baik, perbandingan ini sering jadi pelarian agar saya tidak perlu benar-benar berusaha. 

Saat saya merasa punya banyak potensi dibanding orang lain tetapi malas memaksimalkanya, kalimat “sebenarnya aku bisa kalau mau” sering jadi tameng untuk mendukung rasa mager dalam diri. Mengakui potensi tanpa aksi pada akhirnya membuat saya stuck lebih lama dan kehilangan keberanian untuk memulai sesuatu.

Sadari Tanda Malasmu, Harus Bagaimana?

Menyadari kalau diri saya punya kecenderungan malas membuat saya selangkah lebih dekat untuk berubah. Kesadaran ini bukan untuk menyalahkan, tetapi sebagai titik awal perubahan dari kebiasaan sebab rasa malas bukan label permanen yang tidak bisa diubah.

Saya pun memulai dari hal kecil dengan bergerak melawan kemalasan dan melakukan sesuatu meski belum sempurna atau tidak sepenuhnya siap. Karena pada akhirnya, perubahan besar selalu dimulai dari keputusan sederhana, yaitu berhenti menunda dan mulai melangkah. Kalau kamu, sudah siap juga "membunuh" rasa malas?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda