Kolom

Eksploitasi Kemiskinan dalam Film, Menyoal Marketing Operasi Pesta Copet

Eksploitasi Kemiskinan dalam Film, Menyoal Marketing Operasi Pesta Copet
Iqbaal Ramadhan promosikan film Operasi Pesta Copet sebagai Ijal. (tiktok/Ijal_woi)

Saat ini, ada sebuah cara yang menarik untuk menjual film tentang pencopet, jangan cuma pasang posternya saja, bikin saja pemeran utamanya benar-benar menjadi pencopet di dunia nyata. Kalau bisa, sekalian saja bergimik jualan gorengan di tengah festival musik. Biar publik bingung, ini sedang promosi film saja atau memang menyaksikan seorang aktor sedang mencari pekerjaan sampingan.

Itulah yang dilakukan Iqbaal Ramadhan ketika membawa karakter Ijal dari “Operasi Pesta Copet” ke ruang publik. 

Dalam kampanye Operasi Pesta Copet Experience by Ijal yang tayang secara berkesinambungan di akun Instagram resmi Imajinari, Iqbaal tampil sebagai Ijal dan berjualan gorengan pada acara Latihan Pestapora Makassar, 26 Juli 2026. 

Aktivitas tersebut memang dirancang untuk membawa karakter film ke dunia nyata. Pengumuman acara itu sendiri menyebut pengunjung dapat bertemu dengan Ijal menjelang penayangan film pada 27 Agustus 2026.

Secara marketing, strategi semacam ini tentu cerdas. Karakter tidak lagi tinggal di layar. Ia punya wajah, akun media sosial, aktivitas, bahkan bisa ditemui di tengah kerumunan. 

Film memperoleh pengalaman yang bisa direkam, dibagikan, lalu berputar lagi sebagai konten. Mesin promosi bekerja dengan sangat baik. Barangkali terlalu baik sampai-sampai kita luput bertanya bahwa apa sebenarnya yang sedang dijual?

Dalam film tersebut, Ijal digambarkan sebagai seorang pria yang kehilangan pekerjaan. Terdesak oleh kebutuhan ekonomi dan jeratan utang keluarga, ia terpaksa melakoni profesi sebagai badut jalanan. Perjalanan hidup yang berat ini akhirnya membawa Ijal dan kawan-kawannya terjerumus ke dalam dunia pencopetan.

Film ini memang hendak memperlihatkan sisi lain dari gemerlap festival musik, ketika sebagian orang datang untuk bersenang-senang, sebagian lainnya datang karena sedang mencari cara untuk bertahan hidup.

Masalahnya muncul ketika kemiskinan berubah menjadi persoalan estetika dan tidak lagi sekadar menjadi persoalan yang diceritakan saja. 

Lihat bagaimana kemiskinan biasanya harus segera dikenali dalam sebuah gambar. Baju lusuh, tubuh kurus, wajah kusam, lingkungan kumuh, pekerjaan informal, hidup yang serba kekurangan. Semuanya harus terbaca dalam beberapa detik karena, tentu saja, penonton zaman sekarang terlalu sibuk untuk memahami kemiskinan secara perlahan.

Dalam penelitian Bela Fataya Azmi dan Devi Wening Astari berjudul “Commodification of Poverty in Social Media” yang diterbitkan Jurnal Komunikasi Semiotika Vol. 18 No. 1 tahun 2024, peneliti menunjukkan bagaimana simbol seperti pekerjaan berpenghasilan rendah, rumah sederhana atau rusak, serta narasi kesulitan hidup dapat dijadikan pusat konten dan akhirnya memiliki nilai komersial. Mereka membacanya melalui semiotika Roland Barthes bahwa kemiskinan bukan hanya ditampilkan sebagai realitas, melainkan diproduksi sebagai tanda dan mitos yang dapat dikonsumsi.

Di titik ini, Ijal menjadi menarik. Kemiskinan pada dirinya bukan lagi pengalaman sosial yang harus dipecahkan. Ia menjadi paket visual yang mudah dikenali. 

Aktor profesional bisa mengenakan tanda-tandanya selama produksi berlangsung, kemudian melepaskannya setelah kamera berhenti. Penonton bisa tertawa, merekam, mengunggah, lalu pulang, sementara orang miskin sungguhan tidak memiliki kemewahan semacam itu.

Di sinilah kritik terhadap poverty porn menjadi relevan. Tom Feltwell dan kawan-kawan dalam artikel “Counter-Discourse Activism on Social Media: The Case of Challenging ‘Poverty Porn’ Television”, membahas bagaimana representasi kemiskinan yang negatif dapat membentuk narasi sosial tertentu tentang kelompok miskin. Istilah poverty porn sendiri digunakan untuk mengkritik representasi kemiskinan yang sensasional dan cenderung menjadikan penderitaan sebagai tontonan.

Penelitian Emily Clough, Jill Hardacre, dan Elizabeth Muggleton bahkan mencoba menguji persoalan itu secara eksperimental. Dalam “Poverty Porn and Perceptions of Agency: An Experimental Assessment”, mereka menggunakan eksperimen terhadap 450 responden dan menemukan bahwa paparan terhadap representasi kemiskinan yang negatif dapat mempengaruhi penilaian terhadap agensi orang yang hidup dalam kemiskinan. Penelitian itu diterbitkan dalam Jurnal Political Studies Review.

Tentu saja, menyebut kampanye “Operasi Pesta Copet” sebagai poverty porn secara mutlak juga terlalu gegabah. Film ini bukan dokumenter tentang orang miskin. Ijal adalah karakter fiksi. Bahkan cerita film tampaknya memang berusaha memperlihatkan hubungan antara tekanan ekonomi dan kriminalitas. Kritik terhadap kampanye promosinya tidak otomatis berarti kritik terhadap kualitas filmnya.

Justru persoalannya lebih sederhana dan lebih mengganggu. Siapa yang memiliki hak untuk menentukan seperti apa orang miskin harus terlihat?

Sebab ketika seorang aktor memainkan kemiskinan, kemiskinan dapat menjadi jubah. Ia bisa dipakai ketika diperlukan untuk membangun karakter, digunakan lagi untuk membuat konten promosi, kemudian disimpan kembali setelah kampanye selesai. Kemiskinan menjadi semacam wardrobe. Hari ini lusuh, besok kembali ke karpet merah.

Ironisnya, semakin berhasil aktor terlihat miskin, semakin berhasil pula kampanyenya. Di sinilah logika industri hiburan bekerja dengan sangat licin. Sebuah persoalan sosial dikemas menjadi karakter. Karakter diubah menjadi pengalaman. Pengalaman menjadi konten. Konten menghasilkan perhatian. Perhatian membantu menjual tiket.

Tidak ada yang salah dengan memasarkan film. Yang patut dicurigai adalah ketika tanda-tanda penderitaan manusia menjadi bahan bakar kreativitas pemasaran.

Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan apakah Iqbaal boleh memerankan orang miskin. Tentu boleh. Aktor memang bekerja dengan memasuki kehidupan yang bukan miliknya. Pertanyaannya adalah bagaimana kehidupan itu direpresentasikan setelah keluar dari layar dan dijadikan barang dagangan.

Sebab kemiskinan yang sesungguhnya tidak punya tombol cut. Tidak ada kru yang datang untuk membersihkan wajah setelah adegan selesai. Tidak ada stylist yang mengembalikan pakaian ke lemari. Tidak ada jadwal pulang ke rumah setelah promosi selesai.

Dan mungkin di situlah letak lelucon paling pahit dari “Operasi Pesta Copet”, kemiskinan bisa menjadi hiburan yang sangat menguntungkan selama yang memerankannya masih bisa pulang sebagai orang lain.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda