Kolom

AI Untuk Bencana: Jalan Pintas Menyelamatkan Nyawa atau Sekadar Tren Tanpa Solusi?

AI Untuk Bencana: Jalan Pintas Menyelamatkan Nyawa atau Sekadar Tren Tanpa Solusi?
Ilustrasi Bencana Gunung Berapi. (pixabay.com/Pexels)

Ketika hujan deras turun berjam-jam, banyak orang di Indonesia masih mengandalkan satu ritual: membuka grup WhatsApp, menunggu kabar tetangga, lalu meneruskan pesan tentang banjir. Dalam situasi seperti itu, AI dalam mitigasi bencana terdengar seperti teknologi yang terlalu canggih untuk persoalan yang sangat sehari-hari.

Padahal, persoalannya justru ada di sana. AI bisa membantu membaca pola cuaca, memetakan risiko, dan mempercepat peringatan. Namun, teknologi secanggih apa pun akan kehilangan arti jika peringatan tidak dipercaya, tidak dipahami, atau datang ketika warga sudah keburu melihat air masuk ke rumah.

Masalah Indonesia Bukan Kekurangan Data

Indonesia sebenarnya tidak miskin data kebencanaan. BMKG memiliki data cuaca dan iklim, BNPB mengelola informasi kebencanaan, sementara berbagai lembaga pemerintah dan daerah memiliki data topografi, kependudukan, tata ruang, hingga infrastruktur.

Masalahnya adalah data tersebut harus diterjemahkan menjadi keputusan yang berguna dalam hitungan menit atau jam.

Di sinilah AI punya ruang yang masuk akal. Model pembelajaran mesin dapat digunakan untuk mengenali pola dari data dalam jumlah besar, termasuk pola cuaca, curah hujan, kondisi sungai, citra satelit, dan karakteristik wilayah. Penelitian yang diterbitkan dalam Nature Communications pada 2024, misalnya, menunjukkan bahwa model AI dapat menghasilkan prediksi banjir sungai secara global hingga tujuh hari sebelumnya pada sejumlah wilayah, termasuk daerah yang memiliki keterbatasan data pengamatan.

Tetapi jangan buru-buru membayangkan robot yang tiba-tiba tahu kapan sebuah kampung akan tenggelam.

AI bekerja berdasarkan data dan model. Jika data tidak lengkap, kualitas prediksi ikut terpengaruh. Jika peta risiko sebuah daerah tidak diperbarui, teknologi bisa menjadi sangat pintar dalam membaca keadaan yang sudah tidak sesuai dengan kenyataan.

Ini persoalan penting bagi Indonesia. Kota berkembang, permukiman berubah, saluran air tertutup bangunan, kawasan resapan berkurang. Peta yang bagus lima tahun lalu belum tentu cukup bagus untuk mengambil keputusan hari ini.

AI Jangan Berhenti di Layar Pemerintah

Bayangkan sebuah sistem mendeteksi potensi banjir beberapa jam lebih awal. Informasi itu sampai ke pemerintah daerah. Lalu apa?

Kalau berhenti sebagai dashboard di ruang komando, manfaatnya terbatas.

Mitigasi bencana sesungguhnya diuji ketika informasi berubah menjadi perilaku. Warga harus tahu apakah mereka perlu mengungsi, kapan harus bergerak, rute mana yang aman, dan barang apa yang perlu dibawa. Lansia, anak-anak, penyandang disabilitas, pedagang kaki lima, pengemudi ojek, dan pekerja malam memiliki kebutuhan yang berbeda.

Karena itu, penerapan AI dalam mitigasi bencana di Indonesia sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan: "Seberapa canggih modelnya?" Pertanyaan yang lebih penting adalah: "Siapa yang akan bertindak berdasarkan hasilnya?"

Teknologi peringatan dini juga harus mempertimbangkan masalah false alarm. Terlalu sering menerima peringatan yang ternyata tidak berujung bencana bisa membuat orang mengabaikan notifikasi berikutnya. Sebaliknya, peringatan yang terlalu jarang diberikan dapat membuat masyarakat tidak memiliki kebiasaan untuk merespons.

UNDRR menekankan pentingnya sistem peringatan dini yang berpusat pada masyarakat. Peringatan bukan sekadar kemampuan mendeteksi ancaman, melainkan rangkaian proses yang mencakup pengetahuan risiko, pemantauan, komunikasi, dan kemampuan merespons.

Artinya, AI semestinya menjadi mesin di belakang sistem, bukan bintang utamanya.

Ada konsekuensi sosial lain. Jika pemerintah mulai menggunakan AI untuk menentukan wilayah yang diprioritaskan saat bencana, dasar keputusan tersebut harus dapat diperiksa. Jangan sampai sebuah model menentukan bahwa satu kawasan lebih berisiko, lalu keputusan evakuasi dibuat tanpa masyarakat memahami alasannya.

AI boleh menghitung probabilitas. Keputusan menyangkut keselamatan manusia tetap membutuhkan manusia yang bertanggung jawab.

Indonesia Perlu AI yang Bisa Dipakai Warga

Penerapan AI untuk bencana paling masuk akal jika dimulai dari masalah konkret dan terukur. Misalnya, meningkatkan prediksi banjir di wilayah tertentu, membantu pemetaan kerusakan setelah gempa, mengidentifikasi perubahan tutupan lahan, atau mempercepat analisis citra satelit setelah bencana.

Teknologi semacam ini sudah memiliki pijakan ilmiah. Dalam International Journal of Disaster Risk Reduction, berbagai penelitian menunjukkan pemanfaatan machine learning untuk penilaian risiko dan pemetaan bahaya dapat membantu proses pengambilan keputusan, meski kualitas data dan kemampuan generalisasi model tetap menjadi tantangan.

Indonesia juga tidak harus menunggu sistem sempurna. Yang dibutuhkan adalah pengujian bertahap dengan ukuran keberhasilan yang sederhana: apakah peringatan datang lebih cepat, apakah warga memahami pesannya, apakah petugas bisa mengambil keputusan lebih baik, dan apakah kerugian dapat ditekan.

Ini penting karena bencana tidak pernah terjadi di dalam laboratorium. Algoritma bisa diuji dengan data historis, tetapi masyarakat yang menerima peringatan hidup dalam kondisi yang jauh lebih berantakan: listrik bisa padam, internet terganggu, jalan terputus, dan orang bisa panik.

Maka sistem berbasis AI harus tetap memiliki jalur komunikasi cadangan dan prosedur manual. Teknologi terbaik dalam keadaan darurat bukan yang paling mengesankan saat demonstrasi, melainkan yang tetap berguna ketika jaringan mati dan keadaan kacau.

AI juga tidak boleh menjadi alasan untuk menunda pekerjaan dasar. Drainase tetap harus diperbaiki. Tata ruang tetap harus ditegakkan. Jalur evakuasi harus jelas. Simulasi harus dilakukan. Data kependudukan perlu diperbarui.

Kita sering tergoda menganggap teknologi sebagai jalan pintas untuk masalah yang sebenarnya lahir dari keputusan manusia. Padahal, AI tidak bisa memperbaiki sungai yang menyempit atau memindahkan rumah dari zona rawan. Ia hanya bisa membantu manusia membuat keputusan yang lebih cepat dan, jika datanya baik, lebih tepat.

Jadi, apakah AI dalam mitigasi bencana bisa diterapkan di Indonesia? Jawabannya: bisa, bahkan layak mulai diterapkan lebih serius. Namun ukuran keberhasilannya bukan jumlah model AI yang dimiliki pemerintah atau seberapa futuristis dashboard-nya.

Ukuran yang lebih jujur adalah apakah seorang warga mendapat peringatan sebelum air masuk rumah, apakah ia mengerti apa yang harus dilakukan, dan apakah bantuan tiba sebelum keadaan menjadi lebih buruk.

Kalau teknologi membuat semua itu terjadi lebih cepat, AI memang berguna. Kalau ia hanya menambah satu layar baru di ruang rapat, kita sebenarnya tidak sedang membangun sistem mitigasi bencana—kita hanya sedang memberi nama baru pada masalah lama.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda