Kolom

Saat Program Andalan Memakan Korban, Bukankah Presiden Seharusnya Geram?

Saat Program Andalan Memakan Korban, Bukankah Presiden Seharusnya Geram?
Makan Bergizi Gratis (jabarprov.go.id)

Setiap pemerintahan tentu punya program yang ingin dikenang sebagai salah satu warisan terbaiknya. Program semacam ini biasanya mendapat perhatian lebih besar karena membawa janji perubahan yang sejak awal ditawarkan kepada masyarakat. Semakin besar programnya, semakin besar pula harapan yang ditaruh di dalamnya. Namun, ada konsekuensi lain yang mengikuti, yaitu tanggung jawab ketika sesuatu berjalan tidak sesuai harapan.

Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu program yang begitu lekat dengan pemerintahan Prabowo Subianto. Gagasannya sederhana sekaligus ambisius, yakni memastikan anak-anak mendapatkan asupan makanan bergizi melalui program yang menjangkau masyarakat dalam skala luas.

Oleh karena itu, kabar tentang ribuan anak-anak yang mengalami dugaan keracunan setelah menyantap makanan MBG tentu tidak bisa dianggap sebagai gangguan kecil dalam perjalanan sebuah program besar.

Apalagi, kasus itu tidak hanya satu atau dua kejadian. Kasus serupa terus bermunculan di berbagai daerah dan jumlah korbannya ikut menjadi sorotan. Di saat program andalan memakan korban, bukankah presiden seharusnya geram?

Kalau Ini Program Kebanggaan Presiden, Mengapa Responsnya Terasa Menyepelekan?

MBG sudah menjadi salah satu janji utama Prabowo sejak masa kampanye. Oleh karena itu, rasanya wajar kalau publik punya ekspektasi lebih terhadap cara presiden merespons berbagai persoalan yang muncul di dalamnya.

Apalagi, yang dipertaruhkan bukan sekadar angka dalam laporan evaluasi, tetapi kesehatan anak-anak yang menjadi penerima program.

Masalahnya, respons terhadap kasus keracunan justru terasa tidak sebanding dengan skala persoalannya. Ketika korban sudah mencapai puluhan ribu, masyarakat tentu berharap melihat kegelisahan yang sama besarnya dari orang yang menjadikan MBG sebagai program unggulan. Bukannya santai, mestinya presiden menjadi orang yang paling sibuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Pernyataan bahwa korban hanya mengalami “sakit perut biasa” pun semakin membuat publik bertanya-tanya. Barangkali maksudnya adalah meredam kepanikan atau menunggu hasil pemeriksaan.

Namun, dari perspektif orang tua yang anaknya sakit setelah menyantap makanan MBG, kalimat semacam itu terdengar seperti menyepelekan masalah yang sedang terjadi.

MBG Dibanggakan di Luar Negeri, Padahal Korban Bertaruh Nyawa di Dalam Negeri

Ironi berikutnya muncul ketika melihat bagaimana MBG dibawa ke panggung internasional. Sebagai contoh, pada 3 September 2026, Prabowo membicarakan program tersebut dalam Eastern Economic Forum di Vladivostok, Rusia.

Di forum internasional, MBG dipresentasikan sebagai salah satu kebijakan besar Indonesia. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan memperkenalkan program nasional kepada negara lain. Namun, timing-nya kurang tepat.

Di dalam negeri, publik sedang ramai mempertanyakan keamanan program tersebut dan menghitung jumlah korban yang terus bertambah. Di luar negeri, program itu justru tampil sebagai salah satu hal yang seolah layak dipamerkan di hadapan para petinggi dunia.

Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana negara lain melihat ironi semacam ini? Bayangkan sebuah negara datang ke forum internasional dengan membawa program unggulannya sebagai bukti keberhasilan, sementara berita tentang puluhan ribu orang yang terdampak program tersebut juga beredar.

Presiden Seharusnya Paling Malu Kalau Programnya Gagal Melindungi Anak

Kalau MBG memang merupakan program kebanggaan Prabowo, saya justru heran mengapa respons terhadap kasus keracunan yang korbannya sudah mencapai puluhan ribu terasa begitu tenang. Bukankah seharusnya ada rasa marah ketika program yang sejak awal begitu dibanggakan justru membuat anak-anak sakit?

Semakin besar sebuah program dibawa sebagai prestasi presiden, semakin besar pula alasan presiden untuk merasa terusik ketika pelaksanaannya bermasalah.

Kemarahan yang dimaksud tentu bukan berarti presiden harus mengamuk di depan kamera atau asal menunjuk pihak yang harus disalahkan. Ada kemarahan yang justru menunjukkan bahwa seorang pemimpin masih punya rasa tanggung jawab.

Marah karena pengawasan gagal, marah karena standar keamanan tidak dijalankan dengan benar, marah karena kelalaian bisa berulang, dan terutama marah karena anak-anak yang seharusnya menerima makanan bergizi malah harus menanggung akibatnya.

Lagipula, sulit memisahkan MBG dari sosok Prabowo. Program ini bukan kebijakan yang sekadar lewat di tengah pemerintahannya. Maka, wajar jika publik terus menuntut pertanggungjawaban.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda