Kolom

Membongkar Rapuhnya Pendidikan Indonesia: Masihkah Kita Mau Menyangkal?

Membongkar Rapuhnya Pendidikan Indonesia: Masihkah Kita Mau Menyangkal?
Ilustrasi Pendidikan Indonesia (Unsplash/Bayu Syaits)

Bagaimana kita tahu kualitas pendidikan dasar Indonesia bagus? Apakah lewat perasaan? Atau lewat beberapa anak Indonesia yang memenangkan olimpiade matematika, fisika, dan berbagai kompetisi internasional? Tentu tidak.

Anak-anak berprestasi itu membanggakan. Tetapi mereka bukan representasi seluruh sistem pendidikan. Untuk mengetahui kualitas pendidikan secara lebih objektif, kita membutuhkan alat ukur yang memungkinkan Indonesia dibandingkan dengan negara lain.

Salah satunya adalah PISA (Programme for International Student Assessment) yang diselenggarakan OECD. PISA menguji kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam matematika, membaca, dan sains, terutama kemampuan menggunakan pengetahuan untuk memecahkan persoalan, berpikir kritis, dan menghadapi situasi nyata. Dan kalau kita mau jujur membaca datanya, persoalannya serius.

Data PISA 2022 menunjukkan skor Indonesia hanya 366 untuk matematika, 359 untuk membaca, dan 383 untuk sains. Sebagai pembanding, rata-rata OECD masing-masing berada di 472, 476, dan 485.

Lebih mengkhawatirkan lagi, hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam membaca. Artinya, mayoritas belum mencapai tingkat kecakapan membaca minimum yang dijadikan tolok ukur PISA. Dalam matematika, hanya 18 persen yang mencapai Level 2 atau lebih. Dalam sains, angkanya sekitar 34 persen. Ini bukan sekadar soal anak Indonesia kurang pintar. Ini soal sistem pendidikan yang belum berhasil membuat sebagian besar anak belajar secara mendalam.

PISA juga menunjukkan bahwa hasil Indonesia pada 2022 merupakan salah satu yang terendah sepanjang sejarah keikutsertaan Indonesia. Bahkan penurunan sudah terlihat sebelum pandemi. Dari 2015 ke 2018, misalnya, skor membaca turun dari 397 menjadi 371, matematika dari 386 menjadi 379, dan sains dari 403 menjadi 396. Karena itu, terlalu mudah jika semua kegagalan pendidikan hari ini dilempar kepada Covid-19. Pandemi memang memperparah gangguan pembelajaran. Tetapi data menunjukkan masalahnya sudah muncul sebelumnya. Lalu apa yang sebenarnya salah?

Di sinilah perdebatan pendidikan kita sering kehilangan fokus. Kita terlalu gemar mengganti kurikulum, mengganti istilah, meluncurkan program baru, membeli perangkat teknologi, membangun sekolah unggulan, atau membuat berbagai kebijakan yang terdengar modern. Sementara pertanyaan paling fundamental sering tenggelam: siapa yang mengajar anak-anak kita, dan seberapa kuat kapasitas mereka untuk mengajar?

Kualitas guru jelas bukan satu-satunya faktor. Kemiskinan, lingkungan keluarga, fasilitas sekolah, kualitas kepemimpinan sekolah, beban administratif, ketimpangan wilayah, budaya belajar, hingga desain kebijakan semuanya berpengaruh. Tetapi justru karena persoalannya kompleks, kita tidak boleh terjebak pada solusi kosmetik.

Smart TV tidak otomatis membuat anak mampu memahami bacaan kompleks. Kurikulum baru tidak otomatis membuat kemampuan matematika melonjak. Sekolah elite tidak otomatis memperbaiki pendidikan nasional karena manfaatnya hanya menjangkau sebagian kecil siswa. Yang harus diperbaiki adalah fondasi sistemnya.

Guru harus mendapatkan pelatihan yang benar-benar bermutu, waktu untuk mengajar yang cukup, dukungan profesional, sistem evaluasi yang masuk akal, serta kesejahteraan yang memungkinkan profesi guru menarik bagi orang-orang terbaik. Dan tentu saja, kebijakan pendidikan harus dievaluasi berdasarkan hasil belajar, bukan berdasarkan berapa banyak program yang berhasil diluncurkan. Sebab pendidikan bukan perlombaan membuat program paling banyak.

Pendidikan adalah tentang satu pertanyaan sederhana: setelah bertahun-tahun bersekolah, apakah anak-anak kita benar-benar menjadi lebih mampu membaca, berpikir, menghitung, memahami sains, dan memecahkan masalah?

PISA bukan satu-satunya ukuran kualitas pendidikan. Tetapi ia adalah alarm yang terlalu keras untuk diabaikan. Maka kita tidak perlu tersinggung pada angka. Kalau datanya buruk, tugas kita bukan marah kepada datanya. Tugas kita memperbaiki kenyataan yang menghasilkan data tersebut.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda