Kolom

Perangkap LinkedIn: Ketika Capaian Orang Lain Bikin Kita Merasa Tak Berguna

Perangkap LinkedIn: Ketika Capaian Orang Lain Bikin Kita Merasa Tak Berguna
Ilustrasi gen z (pexels/George Pak)

Pernahkah kamu membuka LinkedIn berniat memperbarui profil, tapi malah menutup aplikasi dengan perasaan ganjil dan sesak di dada? Di linimasa, seorang teman seangkatan memamerkan promosi jabatan, yang lain pamer habis dapat beasiswa luar negeri, dan tak sedikit yang membagikan foto office view dari lantai atas gedung pencakar langit.

Seketika, pikiran "Aku sudah melakukan apa saja selama ini?" mulai menggerogoti. Selamat datang di panggung kurasi karier modern, di mana career flexing menjadi makanan harian dan Gen Z terjebak di antara dua beban psikologis: FOMO (Fear of Missing Out) serta Imposter Syndrome.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan inferior biasa. Laporan studi bertajuk "Gen Z Mental Health: The Impact of Tech and Social Media" yang dirilis oleh McKinsey Health Institute mengungkapkan bahwa Gen Z secara signifikan lebih rentan melaporkan dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental mereka, terutama terpicu oleh perasaan FOMO dan pembandingan sosial, dibandingkan generasi sebelumnya. Media sosial profesional seperti LinkedIn—yang awalnya dirancang sebagai wadah memperluas jaringan, kini kerap bergeser fungsi menjadi panggung validasi publik.

Di satu sisi, ada jeratan FOMO. Ketika melihat rekan sebaya berpindah dari satu posisi mentereng ke posisi lain, timbul rasa panik luar biasa. Ada ketakutan tak kasatmata bahwa roda karier kita bergerak terlalu lambat, bahwa kita akan tertinggal dari standar sukses linimasa. Rasa takut tertinggal ini akhirnya memaksa banyak pekerja muda untuk mengambil kerja sampingan berlebih (overworking), menyanggupi semua proyek tanpa mengukur kapasitas, atau memaksakan diri job-hopping demi mengejar gelar pekerjaan (job title) keren berikutnya.

Namun, di balik perburuan itu, ada monster lain yang bersembunyi: Imposter Syndrome. Anehnya, bahkan Gen Z yang sudah berprestasi pun tetap dibayangi perasaan sebagai "penipu". Saat mendapatkan pencapaian nyata, mereka cenderung menganggapnya sebagai keberuntungan belaka, bukan hasil kompetensi mandiri. Fenomena career flexing di LinkedIn memperparah kondisi ini. Sebab, yang ditampilkan orang lain hanyalah cuplikan keberhasilan (highlight reel), sementara proses berdarah-darah, kegagalan, dan ketidakpastian di baliknya disembunyikan rapat-rapat. Karakter pencapaian yang sudah dikurasi dengan narasi sempurna ini menciptakan standar semu yang hampir mustahil ditandingi.

Dampaknya cukup fatal bagi perkembangan karier pekerja muda. Tekanan untuk selalu terlihat berhasil memicu academic and career burnout di usia yang sangat dini. Bukannya fokus membangun keterampilan nyata secara bertahap (deep skill), Gen Z berisiko terjebak dalam pencitraan profesional belaka—terlalu sibuk mempercantik ringkasan profil ketimbang menikmati proses belajar di lapangan.

Lantas, bagaimana caranya agar kita tetap waras tanpa perlu menghapus aplikasi?

Langkah pertamanya adalah menyadari rekayasa narasi digital. LinkedIn adalah panggung pertunjukan profesional; tidak ada orang yang memposting surat penolakan kerja atau evaluasi kinerja yang buruk. Kedua, mulailah mendefinisikan ulang makna "sukses" berdasarkan ukuran pribadi, bukan metrik suka (likes) dan ucapan selamat dari orang lain di internet. Karier bukanlah maraton cepat yang punya satu garis finis seragam untuk semua orang, melainkan perjalanan unik dengan ritme masing-masing.

Memiliki ambisi itu bagus, tetapi membiarkan pencapaian orang lain mendikte harga diri kita adalah resep pasti menuju rasa lelah yang tak berkesudahan. Sudah saatnya Gen Z mengambil jeda, mematikan notifikasi, dan fokus pada jalur belajarnya sendiri. Karena pada akhirnya, karier yang sehat dibangun dari kompetensi nyata dan ketenangan pikiran, bukan dari validasi ribuan koneksi di media sosial.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda