Kolom
Heboh Wajah Anak Artis Bocor di Medsos: Salah Netizen atau Orang Tua yang Over-Sharenting?
Pernahkah kamu melintasi sebuah unggahan video di media sosial tempat seorang anak kecil yang sedang bertingkah lucu ditampilkan secara berkala, tetapi wajahnya selalu ditutupi stiker, dipotong dari sudut tertentu, atau diambil hanya dari tampak belakang?
Beberapa hari lalu, lini masa media sosial mendadak riuh dan hangat dibicarakan gara-gara sebuah insiden penampakan wajah anak. Seorang anak dari keluarga selebritas, yang sejak lahir wajahnya dirahasiakan oleh orang tuanya, tanpa sengaja terekam kamera warga dan tersebar luas di internet. Respons publik seketika terbelah.
Di satu sisi, publik menyaksikan kepedihan, rasa kecewa, dan kemarahan mendalam dari pihak keluarga yang merasa hak privasi buah hatinya diinjak-injak. Di sisi lain, tak sedikit netizen yang justru memberikan reaksi dingin, menganggap amarah tersebut agak paradoks lantaran sosok sang anak tetap kerap dijadikan materi konten harian di ruang digital.
Dilema sosial yang belakangan menyita perhatian netizen ini merupakan potret gamblang dari fenomena Sharenting dan Paradoks Privasi Anak.
Sharenting merupakan gabungan dari kata sharing (berbagi) dan parenting (pola pengasuhan), merujuk pada kebiasaan orang tua mengunggah aktivitas, cerita, hingga dokumentasi anak-anak mereka ke media sosial. Dalam kasus tertentu, lahir kompromi unik: orang tua ingin melindungi privasi anak dengan menyembunyikan paras wajahnya, tetapi di saat yang sama tetap secara rutin melibatkan sang anak sebagai daya tarik konten digital demi menjaga interaksi (engagement) penonton. Kompromi ini menciptakan batas yang sangat rapuh antara perlindungan diri dan eksposur publik.
Dinamika psikologis dan etika dari kompromi ini dibahas secara kritis dalam studi ilmiah bertajuk "Sharenting, Parenting, and Identifying: Can Privacy Prevail?". Penelitian tersebut menguraikan kalkulasi privasi (privacy calculus) yang dialami orang tua dalam ranah digital. Studi ini mengidentifikasi bahwa ketika orang tua menggunakan strategi privasi parsial, seperti menyembunyikan wajah namun tetap mengekspos narasi kehidupan, tubuh, dan identitas anak—terjadi ketimpangan persepsi.
Publik cenderung menilai bahwa dengan menjadikan anak bagian dari konsumsi media harian, orang tua secara tidak langsung telah menurunkan benteng privasi sang anak di ruang terbuka.
Menariknya, isu privasi anak di era digital ini menghadirkan benturan sudut pandang yang sangat kontras apabila disandingkan dalam kacamata perbandingan lintas generasi.
Bagi generasi terdahulu seperti orang tua kita, privasi keluarga adalah benteng yang mutlak dan terpisah jauh dari ranah publik. Menurut pandangan generasi tua, jika sebuah hal dianggap rahasia atau ingin dilindungi dari pandangan luar, maka pilihan terbaik adalah tidak membawanya sama sekali ke hadapan khalayak. Logika sederhana generasi tua menilai bahwa memamerkan anak, meski tanpa memperlihatkan wajahnya, tetap saja memancing rasa penasaran publik yang berisiko merusak ketenangan keluarga.
Sebaliknya, Gen Z dan Milenial tumbuh sebagai generasi yang melihat media sosial sebagai ruang mata pencaharian, panggung ekspresi, sekaligus tempat membangun kehangatan komunitas. Bagi orang tua muda masa kini, melibatkan anak dalam konten adalah bentuk perayaan kebahagiaan dan cara membagikan gaya hidup pengasuhan (digital parenting). Menutup wajah anak dipandang sebagai kompromi paling bijak untuk menyeimbangkan dua hal: menjaga keselamatan identitas anak sekaligus tetap relevan di tengah ekosistem media sosial yang serba terbuka.
Di sinilah letak objektivitas yang perlu kita renungi bersama secara jernih.
Rasa marah dan kecewa dari orang tua ketika hak privasi anaknya dilanggar oleh ketidakpekaan publik adalah reaksi yang sepenuhnya sah, valid, dan patut dihormati. Setiap orang tua memiliki hak otonom penuh untuk menentukan sejauh mana batas kehidupan pribadi anak mereka boleh diakses oleh orang asing. Namun di sisi lain, peristiwa ini menjadi teguran keras bagi kita semua tentang sifat dasar internet yang beringas: sekali sebuah cerita atau potongan kehidupan dilemparkan ke ruang siber, kendali atas persepsi dan rasa penasaran publik tak lagi sepenuhnya berada di tangan kita.
Perlindungan privasi anak yang sejati tidak cukup hanya dengan menutupi bagian wajah, melainkan dengan secara bijak membatasi sejauh mana dunia anak ditarik ke dalam riuhnya panggung komersialisasi digital.
Jadi, saat kamu melihat potongan konten anak-anak yang wajahnya disamarkan di lini masamu hari ini, cobalah bertanya pada diri sendiri, apakah kita sedang melihat bentuk perlindungan privasi yang tulus, atau sekadar ruang kompromi yang sewaktu-waktu bisa runtuh oleh rasa penasaran publik?