Kolom
Kerja Keras Tak Menjamin Naik Kelas, tapi Si Miskin Dianggap Kurang Berusaha
Cerita tentang orang yang sukses karena kerja keras memang cukup laris. Kita sering mendengar kisah seseorang yang memulai dari nol, bekerja siang malam, pantang menyerah, lalu akhirnya hidupnya berubah drastis.
Tapi ada satu hal yang kadang terlupakan. "Mulai dari nol" ternyata tidak selalu sama bagi semua orang. Ada yang punya keluarga untuk menjadi tempat pulang, pendidikan yang mendukung, tabungan sebagai pegangan, atau modal untuk mencoba lagi jika gagal.
Sementara itu, ada pula orang yang setiap hari bekerja hanya untuk memastikan kebutuhan hari ini terpenuhi. Penghasilannya habis untuk kebutuhan dasar sehingga hampir tidak ada ruang untuk menabung atau mencoba peluang baru.
Jadi, kalau kerja keras tak menjamin seseorang naik kelas, rasanya kurang adil jika mereka yang masih hidup dalam kemiskinan langsung dianggap kurang berusaha.
Kerja Keras Tidak Selalu Punya Harga yang Sama
Kita sering mengukur kerja keras dari seberapa lama seseorang bekerja. Berangkat pagi, pulang malam, lalu terus mengulang rutinitas yang sama seperti robot.
Dari ukuran ini, pekerja informal seperti tukang becak, pemulung, pedagang kaki lima, sampai buruh harian jelas tidak bisa dibilang malas. Mereka mengandalkan tenaga sendiri untuk mendapatkan penghasilan, bahkan pekerjaan mereka sering kali jauh lebih menguras fisik.
Masalahnya, jumlah tenaga yang dikeluarkan tidak selalu sebanding dengan hasil yang didapat. Orang bisa bekerja sepuluh jam sehari dan tetap hanya membawa pulang uang yang cukup untuk kebutuhan hari itu.
Ada pekerjaan yang menguras banyak tenaga dan punya risiko besar, tetapi penghasilannya tetap kecil karena pekerjanya tidak punya banyak pilihan untuk menuntut upah lebih tinggi.
Jadi, menyuruh seseorang bekerja lebih keras terdengar mudah kalau kita tidak melihat seberapa besar penghasilan yang memang bisa didapat dari pekerjaan tersebut.
Kemiskinan yang Dipelihara oleh Sistem
Kalau kemiskinan cuma terjadi karena orang malas bekerja, tinggal suruh semua orang bekerja lebih keras, lalu tunggu hidup mereka berubah. Sayangnya, kenyataan tidak sesederhana itu. Di sinilah kemiskinan struktural perlu dibahas.
Coba bayangkan orang yang setiap hari bekerja dengan penghasilan pas-pasan. Jangankan memikirkan modal atau menabung untuk masa depan, menyisihkan uang untuk kebutuhan mendadak saja mungkin sulit.
Dalam kondisi seperti ini, menyuruhnya bekerja lebih keras terasa seperti mengabaikan kenyataan bahwa tenaga yang ia keluarkan sudah besar, tetapi hasil yang didapat memang belum cukup untuk mengubah hidupnya.
Pemerintah juga punya peran dalam menentukan kondisi tersebut. Kebijakan soal upah, lapangan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, perlindungan pekerja, hingga bantuan sosial bisa memengaruhi seberapa besar kesempatan seseorang untuk memperbaiki hidupnya.
Kalau masyarakat berpenghasilan rendah tidak mendapat perlindungan yang cukup, sementara biaya hidup terus meningkat, mereka akan semakin sulit punya ruang untuk naik kelas. Jadi, ada masalah yang memang tidak bisa diselesaikan hanya dengan meminta rakyat bekerja lebih giat.
Jangan Jadikan Kisah Sukses Orang Lain sebagai Tolok Ukur
Cerita tentang kesuksesan seseorang memang selalu menarik. Namun, kalau satu cerita sukses kemudian dipakai sebagai patokan untuk menilai kehidupan orang lain, saya rasa ada yang keliru.
Ada seseorang yang berhasil setelah bekerja keras, lalu orang-orang menganggap jalan yang sama pasti bisa ditempuh siapa saja. Padahal, hidup tidak bekerja dengan rumus sesederhana itu.
Dua orang bisa sama-sama bekerja keras, tetapi kalau yang satu punya ruang untuk mengembangkan penghasilannya, sementara yang lain hanya punya cukup tenaga untuk mempertahankan kehidupan yang sudah ada, maka hasilnya akan berbeda.
Kita memang lebih mudah menunjuk kesalahan orang yang hidupnya serba kekurangan. Hal itu memang jauh lebih nyaman daripada mengakui bahwa ada masalah yang tidak bisa dibereskan hanya dengan kalimat motivasi.