Kolom
Terjebak Situationship yang Melelahkan? Ini Alasan Sikap 'Si Paling Cuek' Tak Lagi Keren
Bagi kamu yang aktif mengikuti dinamika romansa di TikTok atau X (sebelumnya Twitter), kamu pasti sudah tidak asing dengan glorifikasi sikap nonchalant. Selama beberapa tahun terakhir, jagat digital seolah sepakat bahwa dalam sebuah hubungan, pihak yang paling tidak peduli adalah pemenangnya. Mereka yang gengsi membalas pesan dengan cepat, irit ekspresi, dan dingin bak es batu kerap dianggap sebagai puncak dari kekerenan.
Dampaknya? Gaya kencan modern ini melahirkan monster baru bernama situationship—sebuah hubungan tanpa status yang menggantung, penuh tebak-tebakan, minim komitmen, namun menuntut keintiman emosional yang intens. Hubungan jenis ini membuat pelakunya terjebak dalam zona abu-abu: tidak ada hak untuk cemburu, namun ada kewajiban untuk selalu ada.
Namun, mari kita rayakan akhir dari era yang melelahkan ini. Belakangan, linimasa kita mulai mengalami titik jenuh massal. Mulai viral istilah baru yang menjadi antitesis dari semua kecuakan tersebut: "Chalant Relationship". Gen Z kini mulai terang-terangan memberontak dan berkata: "Cuek itu sudah tidak keren lagi; yang keren adalah mereka yang berani memberi kejelasan."
Mengapa pergeseran ini terjadi begitu masif? Jawabannya sederhana: anak muda sudah lelah secara mental. Kencan modern selama ini berjalan layaknya permainan catur yang penuh strategi taktis. Kamu tidak boleh terlihat "terlalu mengejar" agar tidak dianggap murahan. Kamu juga harus sengaja menunda membalas pesan agar terlihat sibuk, serta menahan diri untuk tidak menanyakan status hubungan agar tidak dicap needy atau posesif.
Hubungan yang dibangun di atas fondasi nonchalant dan situationship ini pada akhirnya hanya menyisakan kecemasan (anxiety) kronis. Alih-alih menjadi ruang aman (safe space), hubungan asmara justru berubah menjadi medan perang psikologis. Di sana, masing-masing pihak sibuk melindungi ego dan gengsi mereka sendiri demi label "si paling cuek".
Saturasi inilah yang melahirkan gerakan chalant. Diadopsi dari kata bahasa Prancis chaloir yang berarti peduli, chalant relationship adalah ikatan di mana kedua belah pihak dengan berani menunjukkan effort. Mereka konsisten dalam berkomunikasi, ekspresif menunjukkan rasa sayang, dan tidak malu untuk memperlihatkan bahwa mereka memang sangat peduli pada pasangannya.
Selama ini, budaya populer sering kali keliru dalam mendefinisikan ketangguhan emosional. Seseorang yang dingin dan tidak tersentuh sering kali dianggap dewasa. Padahal, jika dibedah dari kacamata psikologis, sikap nonchalant yang ekstrem dalam hubungan romantis sering kali hanyalah tameng defensif atau avoidant attachment style. Ini adalah sebuah ketakutan mendalam untuk terluka akibat penolakan, sehingga mereka memilih untuk tidak pernah memulai atau terlibat terlalu dalam.
Menjadi chalant justru membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar. Mengapa? Karena ketika kamu berani bersikap chalant—menyatakan perasaan secara jujur, berinisiatif mengatur kencan, dan meminta kepastian status—kamu sedang menaruh kerentananmu (vulnerability) di atas meja. Kamu berani mengambil risiko untuk ditolak demi sebuah kejujuran emosional.
Gen Z di tahun 2026 mulai menyadari kebenaran ini. Mereka melihat bahwa memendam perasaan, berpura-pura tidak butuh, dan memelihara hubungan abu-abu yang menggantung bukanlah simbol kedewasaan. Sebaliknya, itu adalah tanda dari ketidakmatangan emosional yang dibungkus dengan topeng estetika media sosial.
Pergeseran tren ini juga mengubah cara anak muda mengonsumsi konten romansa. Jika dulu video-video galau berisi kode-kode sindiran mendapat jutaan views, kini konten yang mempromosikan green flags dan komunikasi sehat jauh lebih diminati. Gen Z mulai menyadari bahwa hubungan yang awet tidak dihasilkan dari kemampuan membaca pikiran, melainkan dari keberanian untuk saling bicara secara terbuka.
Memilih untuk menjadi chalant berarti sepakat untuk menyudahi drama tebak-tebakan. Tidak ada lagi istilah "terserah" yang berujung pada aksi diam seribu bahasa (silent treatment). Ketika ada masalah, generasi chalant akan memilih untuk duduk bersama dan menyelesaikannya secara kepala dingin, karena mereka tahu waktu mereka terlalu berharga untuk dihabiskan dalam konflik yang tidak perlu.
Viralnya tren chalant di media sosial mengindikasikan adanya pergeseran psikologis yang positif di kalangan anak muda. Generasi ini mulai meredefinisi apa yang seksi dan ideal dalam sebuah hubungan. Pria atau wanita idaman bukan lagi mereka yang hobi menghilang tanpa kabar (ghosting) atau yang misterius, melainkan mereka yang memiliki kecerdasan emosional. Mereka adalah orang-orang yang tahu cara menghargai waktu orang lain, bisa diajak berkomunikasi secara mendalam (deep talk), dan tidak takut berkomitmen.
Dunia di luar sana sudah cukup berisiko dan melelahkan dengan segala ketidakpastian ekonomi, tekanan kerja, dan tuntutan hidup. Hal terakhir yang diinginkan oleh anak muda adalah pulang ke sebuah hubungan asmara yang juga penuh ketidakpastian. Mereka butuh rumah yang hangat untuk melepas penat, bukan labirin teka-teki baru yang membingungkan pikiran.
Selamat tinggal era nonchalant yang dingin, selamat datang era chalant yang penuh kepastian. Tren baru ini adalah pengingat penting bagi kita semua bahwa cinta, pada hakikatnya, adalah tentang pembuktian dan keberanian untuk hadir sepenuhnya bagi orang lain. Cinta bukanlah tentang siapa yang paling pintar bersembunyi, melainkan siapa yang paling tulus untuk bertahan.
Jadi, jika saat ini kamu sedang dekat dengan seseorang yang masih hobi tarik-ulur, jual mahal yang berlebihan, atau menolak memberi kejelasan dengan dalih "jalani saja dulu," mungkin ini saatnya kamu mengambil langkah tegas. Jangan takut untuk menyudahi situationship yang melelahkan itu. Ingat, kamu layak mendapatkan seseorang yang dengan bangga menunjukkan kepada dunia bahwa dia peduli dan menginginkanmu—tanpa tapi, dan tanpa ragu.