Kolom

Barang Terus Bertambah, Tapi Mengapa Rasa Cukup Justru Hilang?

Barang Terus Bertambah, Tapi Mengapa Rasa Cukup Justru Hilang?
Ilustrasi Tumpukan Barang. (Chat GPT )

Bisa hidup dengan merasa cukup atas apa yang sudah dimiliki adalah anugerah besar. Apalagi di 2026, ketika hampir setiap hari kita disuguhi alasan untuk membeli sesuatu. Ada yang kurang dari kulit kita, rumah kita, pakaian kita, bahkan cara kita menjalani hidup. Lalu datang sebuah produk dengan janji sederhana: beli ini, maka kekurangan itu akan selesai.

Skincare adalah contoh yang paling dekat. Teman saya sendiri, jika seluruh wadah skincare bekasnya dikumpulkan, mungkin sudah memenuhi dua karung. Produk berganti-ganti, tetapi kulit yang dijanjikan akan putih dan glowing tak kunjung hadir. Kita memang perlu merawat kulit.

Namun industri kecantikan sering kali tidak hanya menjual perawatan, tetapi juga standar tentang kulit seperti apa yang dianggap cantik. Kulit putih seolah lebih dekat dengan kecantikan, padahal orang Indonesia, terutama kita yang berdarah Nusantara, memiliki warna kulit yang beragam. Cokelat, sawo matang, hitam manis, semuanya normal.

Tetapi adil juga jika kita tidak menyalahkan semua skincare. Tidak semua orang membeli karena insecure. Ada yang memang membutuhkan pelembap, sunscreen, atau bahan aktif tertentu untuk mengatasi masalah kulit. Masalahnya bukan pada produknya, tetapi ketika kebutuhan dirancang menjadi ketidakpuasan yang tidak pernah selesai.

Kita membeli niacinamide, retinol, salicylic acid dan berbagai bahan aktif lainnya. Kadang kandungannya tidak jauh berbeda, tetapi harganya bisa terpaut jauh. Sebab yang kita bayar bukan hanya isi botol. Ada kemasan, branding, iklan, endorsement, dan citra bahwa setelah memakai produk itu kita akan menjadi versi diri yang lebih baik.

Pola serupa terlihat pada barang rumah tangga. Barang lama yang masih berfungsi diganti karena dianggap kurang estetik. Marketplace menyediakan ribuan barang murah dengan desain menarik. Membeli yang baru memang tidak selalu salah. Rumah juga berubah, selera berkembang, dan teknologi membuat banyak benda menjadi lebih praktis.

Namun ada pertanyaan yang patut diajukan: apakah barang lama benar-benar sudah tidak berguna, atau kita hanya dibuat merasa bosan terhadap sesuatu yang sebenarnya masih bisa digunakan? Di rumah saya ada teko plastik yang usianya lebih dari 25 tahun dan masih berfungsi dengan baik. Kata ibu, teko itu dibuat oleh pabrik yang sekarang sudah lama tutup. Dulu barang dibeli sekali dan dipakai bertahun-tahun, bahkan bisa diwariskan.

Tentu, tidak adil menyimpulkan perusahaan seperti Tupperware bangkrut hanya karena produknya awet. Ada banyak faktor bisnis, persaingan, perubahan perilaku konsumen, hingga strategi perusahaan. Tetapi keberadaan barang yang tahan lama tetap memberi kita pelajaran sederhana: tidak semua benda harus segera diganti hanya karena ada model baru.

Sekarang coba buka marketplace dan cari barang dengan harga paling murah. Ada saja hasilnya. Bahkan dengan pencarian “Rp0” atau gratis ongkir, kita bisa menemukan barang yang sebenarnya tidak pernah masuk daftar kebutuhan, tetapi mendadak terasa menarik setelah melihatnya.

Harga yang murah memang punya sisi baik. Tidak semua orang punya uang lebih untuk membeli barang mahal. Kehadiran marketplace membuat banyak kebutuhan menjadi lebih mudah dijangkau. Kita tidak bisa menyalahkan orang hanya karena membeli baju Rp30.000-an. Yang perlu dipikirkan adalah apa yang terjadi setelahnya. Baju Rp30 ribuan memang terasa murah ketika dibeli. Tetapi kalau sebulan atau dua bulan kemudian sudah tidak nyaman dipakai, bahannya rusak, lalu kita membeli lagi, murahnya menjadi semu. Kita tidak hanya membayar dengan uang, tetapi juga dengan tumpukan pakaian yang akhirnya jarang dipakai.

Belum lagi tren yang bergerak secepat guliran layar. Kemarin crinkle ramai, hari ini model lain muncul. Warna baju Lebaran berganti setiap tahun. Barang yang tahun lalu masih dianggap bagus tiba-tiba terlihat biasa saja hanya karena algoritma menghadirkan tren baru.

Di titik ini, kita perlu bertanya: apakah kita benar-benar membutuhkan barang baru, atau hanya takut terlihat ketinggalan?

Tentu tidak semua tren buruk. Berpakaian mengikuti selera zaman juga bagian dari ekspresi diri. Barang murah pun tidak otomatis berkualitas buruk. Ada produk terjangkau yang justru awet dan berguna.

Tetapi ketika membeli menjadi respons otomatis terhadap setiap tren, kita sedang masuk ke lingkaran yang berbeda. Barang murah membuat kita mudah membeli, tren membuat kita mudah bosan, lalu harga murah kembali membuat kita mudah mengganti. Mungkin persoalannya bukan bahwa kita terlalu banyak memiliki barang. Bisa jadi kita terlalu mudah merasa barang yang kita miliki sudah tidak cukup.

Barangkali yang perlu kita latih bukan kemampuan mencari barang yang lebih murah, lebih baru, atau lebih estetik, tetapi kemampuan mengatakan, “Saya sudah punya." Qanaah bukan berarti menolak kemajuan, berhenti merawat diri, atau tidak boleh membeli sesuatu yang baru. Qanaah adalah ketika kita tetap bisa menginginkan sesuatu tanpa merasa hidup kita kurang tanpanya.

Sebab pasar akan selalu punya barang baru untuk ditawarkan. Tren akan selalu berganti. Iklan akan selalu menemukan cara baru untuk membuat kita merasa belum cukup. Tetapi keputusan untuk merasa cukup tetap berada di tangan kita.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda