Ulasan
Delapan Belas Cerita, Delapan Belas Cara Mempermainkan Pikiran Pembaca
Selain menulis novel berjudul Corpus Uterus yang memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa, dokter yang mencintai aksara, Sasti Gotama, juga menulis berbagai cerpen yang terkumpul dalam buku berjudul Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam. Buku ini terdiri dari 18 cerpen dengan satu benang merah berupa plot twist yang membalikkan semua isi cerita
Cerpen Menunggu Marduk Datang, hari-hari Ishtar begitu manis di masa orang tuanya di panti jompo bersama Marduk, diselingi rasa cemburu pada suster-suster. Adegan demi adegan terasa begitu nyata, eh, tiba-tiba di akhir cerita terungkap bahwa Marduk sudah meninggal satu minggu yang lalu.
Twist ini bukan sekadar kejutan untuk membuat pembaca terperangah. Kematian Marduk justru mengubah cara kita membaca seluruh adegan sebelumnya: percakapan, mikrofon, bahkan kebersamaan mereka menjadi gambaran tentang kesepian Ishtar yang begitu kuat hingga batas antara kenangan dan kenyataan menjadi kabur.
Cerpen “Paranoia” menceritakan ketegangan seorang dokter gigi asal Indonesia di Myanmar yang sedang menjalani pemeriksaan oleh petugas bandara. Dokter tersebut tengah mengikuti konferensi dokter gigi se-Asia. Bunyi bip pada alat sensor ternyata berasal dari peralatan dokter gigi yang terbuat dari logam. Perasaan tegang terus-menerus menghantuinya karena ia merasa mengalami tindakan rasisme akibat memakai kerudung hitam panjang.
Menariknya, Sasti tidak membuat paranoia tokohnya sekadar sebagai ketakutan yang berlebihan. Pembaca justru dibuat ikut meragukan apakah sang dokter hanya sedang berprasangka atau memang berada dalam situasi yang mencurigakan.
Ketika fakta tentang narkoba akhirnya terungkap di bagian akhir, rasa curiga yang sejak awal dianggap sebagai paranoia mendapatkan pembenaran. Cerpen ini menunjukkan bagaimana Sasti mampu mempermainkan asumsi pembaca sekaligus membangun ketegangan melalui sudut pandang orang pertama yang terbatas.
Cerpen “Segala Sesuatu yang Tak Pernah Terjadi” menjadi salah satu cerita dengan alur yang paling mengejutkan. Lakshita pulang kerja dan histeris mendapati suaminya meninggal karena serangan jantung. Cerita kemudian berbalik ke kejadian pagi harinya, ketika Lakshita yang seorang perawat sebenarnya mengetahui kondisi suaminya dan tahu cara menyelamatkannya.
Namun, ia memilih untuk tidak melakukannya karena kematian tersebut menjadi jalan baginya untuk terbebas dari suami yang patriarkis dan sering melakukan KDRT. Cerpen ini menarik karena menampilkan bagaimana pengetahuan dan posisi Lakshita sebagai seorang perawat justru membuat keputusan yang diambilnya semakin rumit secara moral
“Rahasia Keempat” langsung dibuka dengan pengungkapan yang membuat pembaca penasaran: ibunya ternyata adalah neneknya, sedangkan kakak perempuan ternyata merupakan ibu kandungnya. Namun, rahasia keluarga tersebut bukan satu-satunya persoalan yang diangkat dalam cerpen ini.
Sasti juga menyoroti bagaimana agama dan kepercayaan kerap disalahgunakan untuk melakukan kekerasan seksual terhadap korban. Praktik tersebut dilakukan dengan kedok menyucikan korban dari gangguan jin di tempat tertutup, seperti yang kerap terjadi dalam relasi antara guru dan murid atau dukun dan pasien.
Cerpen ini menunjukkan bahwa kebodohan serta kepercayaan buta kepada orang yang dianggap suci menjadi salah satu faktor utama yang menjerumuskan korban ke dalam jurang kehancuran.
“Prosesi Kematian yang Sempurna” berlatar pada proses kematian megah sebuah keluarga Tionghoa yang dipenuhi tangisan dan penghormatan kepada anggota keluarga yang meninggal. Namun, kesedihan yang tampak begitu nyata ternyata menyimpan banyak rahasia. Orang yang menangisi jenazah tersebut ternyata hanyalah pelayat bayaran, sedangkan keturunan asli keluarga itu telah pergi sejak kecil karena perlakuan kasar sang ayah.
Cerita semakin kelam ketika terungkap bahwa Mei telah dihamili oleh ayahnya sendiri setelah kematian istrinya dan meninggal saat usia kehamilannya mencapai sembilan bulan. Melalui cerpen ini, Sasti menampilkan bahwa kemegahan sebuah proses kematian tidak selalu mencerminkan keharmonisan keluarga, melainkan kerap menjadi topeng untuk menutupi kebusukan dan trauma masa lalu yang kelam.
Kelebihan
Kekuatan dari kumpulan cerpen ini terletak pada latar belakang Sasti Gotama sebagai seorang dokter. Pengetahuan medis yang dimilikinya tidak sekadar menjadi hiasan, tetapi digunakan untuk membuat perilaku, kondisi, dan keputusan para tokohnya masuk akal.
Di sisi lain, Sasti juga konsisten menghadirkan persoalan perempuan yang berhadapan dengan patriarki. Beberapa tokohnya berada dalam situasi ketika tubuh, pilihan, bahkan kehidupannya dikendalikan oleh laki-laki atau lingkungan yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak berdaya.
Menariknya, permasalahan tersebut tidak disampaikan melalui deskripsi panjang yang menggurui. Sasti lebih banyak membiarkan konflik dan nasib tokohnya berbicara sendiri, sehingga kritik terhadap patriarki muncul secara natural melalui alur cerita.
Bahkan ketika menyentuh persoalan seksual, penulis tidak menjadikan tubuh perempuan sebagai objek eksploitasi, melainkan bagian dari realitas cerita yang disampaikan secara tertata dan tersamar dengan elegan.
Kekurangan
Cerpen Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam yang menjadi judul kumpulan cerpen ini justru menjadi cerita yang paling kurang saya pahami setelah dibaca hingga tiga kali. Karena menggunakan kata tanya “mengapa”, saya semula mengira judul tersebut akan membawa pada perenungan yang lebih filosofis, tetapi jawabannya justru diberikan secara eksplisit sehingga maknanya terasa kurang menyisakan ruang interpretasi.
Alur cerita tentang sepuluh menit ke depan yang membawa ingatan Han pada masa lalu bersama Eren—korban perkosaan dalam tragedi 1998—juga terasa agak rumit untuk diikuti.
Meski demikian, secara keseluruhan, Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam tetap menjadi buku yang sangat menarik karena Sasti Gotama berhasil menghadirkan kisah-kisah tajam berperspektif perempuan, kritik patriarki yang kuat, bumbu medis yang akurat, serta plot twist yang konsisten memukau di akhir cerita.
Identitas Buku:
Judul: Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam
Penulis: Sasti Gotama
Penerbit: Diva Press
Tahun Terbit: 2020
ISBN: 978-623-293-100-8