Ulasan
Research Design dan Pentingnya Pemahaman Metodologi bagi Mahasiswa
Hai, Sobat YourSay!
Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar istilah metodologi penelitian? Barangkali yang langsung terlintas adalah rumitnya menentukan judul, menyusun kalimat pembuka pendahuluan, merumuskan masalah, menentukan tujuan penelitian, hingga menyusun tinjauan pustaka dan pembahasan.
Sejak semester satu, saya selalu berusaha menghindari mempelajari metodologi penelitian. Namun, memasuki semester lima ini, saya memutuskan untuk bertobat. Saya mencoba keluar sebentar dari dunia fiksi yang selama ini nyaman saya tinggali dengan membaca sebuah buku yang cukup legendaris berjudul Research Design: Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran karya John W. Creswell.
Tentu saja, buku ini tidak selesai dibaca dalam sekali duduk. Saya membutuhkan waktu selama satu bulan, tepatnya sepanjang Oktober, untuk menuntaskan sekaligus mencoba memahami isinya.
Tobatnya saya bermula ketika berhadapan dengan dua karya tulis ilmiah. Satu berhasil memperoleh hasil yang membanggakan, sementara satu lainnya belum berhasil. Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa salah satu kelemahan yang perlu diperbaiki adalah pemahaman terhadap metodologi penelitian.
Ternyata, buku yang selama ini terkesan angker ini tidak seangker sampulnya yang didominasi warna hitam tanpa desain yang terlalu menarik. Selama ini, ketika berbicara tentang metodologi penelitian, kita mungkin lebih akrab dengan nama Prof. Sugiyono. Kali ini, saya mencoba berkenalan dengan John W. Creswell.
Mengenal Isi Buku
Begitu membuka halaman pertama, pembaca langsung disuguhi penjelasan mengenai tujuan penulisan buku, materi yang akan dibahas, hingga ringkasan setiap bab. Dengan begitu, pembaca bisa langsung menuju bagian yang dibutuhkan tanpa harus mencari satu per satu. Meskipun demikian, membaca buku ini secara berurutan dari awal tentu akan memberikan pemahaman yang lebih utuh.
Secara garis besar, buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama membahas pertimbangan awal dalam mengembangkan penelitian, sedangkan bagian kedua menguraikan proses merancang penelitian, mulai dari menyusun proposal hingga mengembangkan laporan penelitian ilmiah.
Bagian pertama, Preliminary Considerations, terdiri atas empat bab. Pembahasannya dimulai dari memilih rancangan penelitian. Sebelum melakukan penelitian, kita perlu menentukan pendekatan yang akan digunakan. Apakah kualitatif, kuantitatif, atau metode campuran? Creswell menjelaskan perbedaan ketiganya beserta karakteristik dan contoh penerapannya.
Selanjutnya, pembaca diajak memahami cara menggunakan tinjauan pustaka. Sebelum menentukan rancangan penelitian, kita perlu mempertimbangkan berbagai hal, mulai dari pandangan dunia (worldview), pengalaman pribadi, hingga pengalaman membaca literatur yang dapat memengaruhi proses penelitian. Buku ini juga menjelaskan cara memetakan tinjauan pustaka agar kita mampu menemukan literatur yang relevan dengan topik penelitian.
Tidak berhenti di situ, Creswell turut membahas penggunaan teori dalam berbagai pendekatan penelitian, baik kualitatif, kuantitatif, maupun metode campuran. Ada pula pembahasan mengenai strategi penulisan dan pertimbangan etis dalam penelitian.
Bagian terakhir ini cukup menarik karena sering kali kita memiliki banyak pertanyaan mengenai etika penelitian. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan? Bagaimana menjaga kerahasiaan informan? Bagaimana menghindari persoalan etis selama proses penelitian? Buku ini memberikan penjelasan sekaligus contoh permasalahan dan cara mempertimbangkannya.
Setelah mengenal berbagai pertimbangan awal, pembaca diajak masuk ke bagian kedua, yaitu merancang penelitian. Pembahasannya dimulai dari menyusun pendahuluan, merancang abstrak, mengidentifikasi masalah penelitian, menentukan tujuan penelitian, hingga merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis.
Selama ini, kita mungkin hanya sibuk menulis rumusan masalah tanpa benar-benar memahami bagaimana menyusunnya dengan tepat. Padahal, ada pola dan ketentuan tertentu yang perlu diperhatikan. Begitu pula dengan tujuan penelitian. Keduanya tidak bisa disusun secara sembarangan karena harus saling berkaitan dengan keseluruhan rancangan penelitian.
Buku ini kemudian membahas secara lebih terperinci bagaimana merancang penelitian dengan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan metode campuran.
Untuk bagian kuantitatif, saya sengaja tidak membaca setiap pembahasannya secara mendalam karena belum berencana menggunakan pendekatan tersebut dalam penelitian saya. Saya memilih lebih dahulu memusatkan perhatian pada metode kualitatif. Meskipun demikian, pembahasan metode kuantitatif dan campuran tetap disajikan secara terstruktur sehingga pembaca dapat mempelajarinya sesuai kebutuhan.
Bukan Buku Sulap yang Mempermudah Penelitian
Ada satu kalimat dalam buku ini yang sangat saya sukai sekaligus menjadi motivasi untuk terus belajar meneliti. Kurang lebih, Creswell mengingatkan bahwa penelitian merupakan proses yang sulit dan memerlukan waktu. Buku ini tidak ditulis untuk mempermudah atau mempercepat proses tersebut, tetapi untuk memberikan keterampilan khusus yang dapat diterapkan selama proses penelitian berlangsung.
Bagi saya, pesan ini cukup penting. Sebab, terkadang kita terlalu sibuk mencari cara agar penelitian cepat selesai, tetapi lupa membekali diri dengan pemahaman yang cukup.
Karena itu, calon pembaca sebaiknya sudah mengenal beberapa istilah dasar dalam penelitian. Jika belum, ada kemungkinan pembahasan di dalamnya justru membuat kita kebingungan. Buku ini bukan bacaan ringan yang bisa diselesaikan tanpa usaha memahami istilah dan konsepnya.
Ketika AI Tidak Selalu Benar
Setelah membaca buku ini selama satu bulan, disertai pengalaman penelitian yang baru saya lalui, ada banyak pemahaman baru yang saya dapatkan. Salah satunya adalah kesadaran bahwa mengandalkan AI sepenuhnya dalam menyusun karya ilmiah bukanlah pilihan yang bijak.
Saya pernah berada pada posisi terlalu percaya dengan jawaban AI. Ketika semester satu, saya menyusun makalah dengan banyak mengandalkan bantuan AI. Tugas saya waktu itu sebatas memeriksa kebenaran sumber jurnal yang digunakan. Saya belum benar-benar memahami mengapa suatu metode dipilih, bagaimana sebuah rumusan masalah disusun, atau apakah setiap bagian tulisan sudah saling berkaitan.
Belakangan, saya menyadari bahwa metode yang disarankan AI pun bisa keliru, tidak sesuai dengan permasalahan penelitian, bahkan tidak sinkron dengan bagian lainnya. Tidak jarang AI hanya mengulang informasi yang sudah tersedia dengan mengganti redaksinya.
AI memang bisa membantu kita mencari referensi, memahami istilah, atau merapikan tulisan. Namun, pemahaman terhadap penelitian tetap harus dibangun oleh penelitinya sendiri. Jangan sampai kita mampu menghasilkan tulisan yang terlihat ilmiah, tetapi kebingungan ketika ditanya alasan memilih metode penelitian yang digunakan.
Rekomendasi untuk Mahasiswa
Oke, Sobat YourSay, bagaimana? Tertarik untuk sesekali membaca Research Design karya John W. Creswell?
Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca mahasiswa, khususnya mereka yang sedang atau akan berhadapan dengan penelitian ilmiah. Tidak perlu menunggu semester lima untuk mulai mengenal metodologi penelitian. Sebab, sejak semester awal, kita sudah berhubungan dengan kegiatan tulis-menulis ilmiah, mulai dari makalah, artikel jurnal, hingga skripsi.
Jangan sampai baru sibuk mencari tahu bagaimana melakukan penelitian ketika tugas akhir sudah berada di depan mata.
Sebagai penutup, saya teringat satu nasihat membaca yang pernah saya temukan dari JS Khairen: bacalah minimal dua buku dalam satu bulan, satu buku fiksi untuk harimu dan satu buku nonfiksi untuk pikiranmu.
Sepertinya, Oktober ini saya sedang mencoba menjalankan bagian kedua dari nasihat tersebut.