Kolom

Gambut Bukan Sekadar Lahan Basah, Ia Penentu Masa Depan Karbon Dunia

Gambut Bukan Sekadar Lahan Basah, Ia Penentu Masa Depan Karbon Dunia
Ilustrasi Lahan Gambut (Pexels/lauripoldre)

Ada sesuatu yang sering luput ketika kita membicarakan gambut Indonesia. Kita terlalu sering melihatnya sebagai lahan yang bermasalah ketika terbakar, bukan sebagai ekosistem yang memiliki peran besar terhadap keseimbangan karbon bumi. Padahal, gambut adalah penyimpan karbon dalam jumlah besar.

Cara ekosistem ini tumbuh, menyimpan air, mengalami perubahan bentuk, terdegradasi, atau terbakar akan memengaruhi bagaimana karbon bertahan di dalam tanah atau kembali dilepaskan ke atmosfer. Karena itu, memahami gambut bukan sekadar urusan kehutanan. Ia juga menyentuh matematika, statistik, pemodelan, perubahan iklim, bahkan masa depan kebijakan lingkungan.

Penelitian tentang gambut berkembang dari pemodelan matematika dan statistik menuju persoalan kompleks tentang dinamika gambut, termasuk hubungan antara proses mekanik, ekologi, hidrologi, hingga risiko kebakaran. Perjalanan riset tersebut menunjukkan sesuatu yang penting: gambut tidak bisa dipahami hanya dengan melihat permukaannya.

Gambut adalah sistem yang hidup dan terus berubah. Air bergerak di dalamnya. Vegetasi tumbuh dan mati. Material organik menumpuk. Struktur tanah dapat mengalami perubahan. Ketika kondisi hidrologinya berubah, seluruh sistem dapat ikut berubah. Karena itu, sekadar mengatakan bahwa gambut harus dibasahi atau jangan dibakar, belum cukup untuk memahami persoalannya.

Penelitian Adilan bersama para kolaborator mengembangkan MPeat, model yang menggabungkan proses mekanik, ekologis, dan hidrologis dalam memahami perkembangan gambut. Model tersebut menunjukkan bahwa proses mekanik tanah gambut ikut memengaruhi kedalaman muka air dan akumulasi karbon. Bahkan, dalam simulasi tertentu, memasukkan proses mekanik menghasilkan gambaran yang berbeda mengenai ketahanan penyimpanan karbon terhadap perubahan iklim. Artinya, gambut bukan benda mati yang tinggal dipetakan luasnya. Ia adalah sistem dinamis.

Pemahaman seperti ini menjadi semakin penting karena kerusakan gambut tidak berhenti pada hilangnya vegetasi. Ketika gambut mengalami pengeringan, misalnya, kondisi ekologis dan hidrologisnya berubah. Ketika kemudian terjadi kebakaran, persoalannya menjadi lebih rumit karena karbon yang selama ribuan tahun tersimpan di dalam tanah dapat dilepaskan. Karena itu, kemampuan memodelkan dinamika gambut memiliki nilai praktis. Data mengenai tinggi muka air, curah hujan, kondisi vegetasi, cuaca, dan faktor lain dapat digunakan untuk memahami perubahan risiko. Riset Adilan juga berkembang ke pemodelan risiko kebakaran gambut dengan pendekatan statistik, stochastic modelling, machine learning, dan perangkat lunak Peatfr.

Yang menarik, penelitian ini memperlihatkan bahwa matematika tidak selalu berbicara tentang angka yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Persamaan matematika bisa membantu menjawab pertanyaan yang sangat nyata: kapan gambut mulai berada dalam kondisi berisiko? Bagaimana perubahan air memengaruhi ekosistem? Bagaimana risiko kebakaran dapat diperkirakan? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana kita membuat keputusan sebelum kebakaran benar-benar terjadi?

Penelitian terbaru Adilan dan timnya bahkan memperluas persoalan tersebut ke batas mekanik pertumbuhan gambut. Studi yang diterbitkan di Scientific Reports pada Agustus 2026 membahas bagaimana ketidakstabilan mekanik dapat membatasi akumulasi gambut dan karbon dalam jangka panjang. Di sinilah cara pandang kita terhadap gambut seharusnya berubah. Jangan menunggu asap memenuhi udara baru kemudian mengingat gambut. Jangan menunggu kebakaran menjadi bencana nasional baru kemudian bertanya bagaimana cara mencegahnya. Dan jangan menganggap riset tentang gambut sebagai sesuatu yang hanya penting bagi kampus.

Indonesia memiliki alasan kuat untuk serius mengembangkan ilmu tentang ekosistem ini. Sebab, ketika gambut berubah, yang berubah bukan hanya satu petak tanah di Sumatra atau Kalimantan. Perubahan pada penyimpanan dan pelepasan karbon memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas. Riset seperti yang dikembangkan Adilan menunjukkan bahwa menjaga gambut membutuhkan lebih dari sekadar larangan membakar. Kita membutuhkan kemampuan membaca sistem, memahami ketidakpastian, mengolah data, membuat model, dan menerjemahkan hasil penelitian menjadi keputusan di lapangan.

Persoalan gambut adalah persoalan tentang seberapa serius kita memahami sesuatu sebelum mengambil keputusan terhadapnya. Sebab mungkin selama ini kita terlalu sibuk melihat gambut sebagai lahan yang bisa dimanfaatkan, sementara kita lupa bahwa di bawah lapisan tanah basah itu tersimpan sejarah karbon yang jauh lebih panjang daripada umur kebijakan manusia. Dan ketika ilmuwan mencoba menghitung bagaimana gambut tumbuh, berubah, dan menyimpan karbon, sebenarnya mereka sedang membantu kita membaca salah satu bagian penting dari masa depan bumi.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda