Kolom

Fenomena Split Bill Gen Z: Mengurai Relasi Kuasa Patriarki di Meja Makan

Fenomena Split Bill Gen Z: Mengurai Relasi Kuasa Patriarki di Meja Makan
Foto transaksi keuangan yang melibatkan uang tunai dan struk di atas meja tamu. (Foto: Pexels/Kaboom Pics)

Bapak saya dulu pernah bingung waktu ditanya soal urusan split bill alias patungan pas masa kencan dengan Ibu. Jawaban mereka polos saja: “Split bill apaan?” Maklum, istilah absurd itu belum lahir di zaman mereka, zaman ketika urusan asmara masih cukup dimodali segelas es teh manis dan sepiring gorengan hangat di warung pojok.

Zaman bergeser, urusan bayar-membayar pas kencan sekarang malah lebih rumit ketimbang status hubungannya sendiri. Ada banyak macam rumus-rumusnya: ada yang patungan persis setengahan harga (50:50), bayar sesuai apa yang dipesan masing-masing, sistem gantian traktir, sampai pasrah membiarkan salah satu pihak jadi "sponsor utama". Semua kubu tentu punya argumen logisnya sendiri-sendiri.

Kalau mau jujur, keribetan ini sangat masuk akal di tengah himpitan ekonomi hari ini. Survei terbaru dari Zelle bertajuk New Economics of Dating Report pada Agustus 2026 membuktikan bahwa isi dompet memang sangat mendikte urusan asmara. 

Sebanyak 84 persen Gen Z dan Milenial mengaku kalau kenaikan harga barang bikin kehidupan kencan mereka megap-megap. Bahkan, sepertiga dari mereka memilih mengurangi jadwal keluar rumah, dan 11 persen lainnya malah terpaksa pensiun dini dari dunia percintaan karena modalnya tidak ada. 

Jadi, di balik selembar struk tagihan dari kasir cafe, sebenarnya ada pertarungan antara kemampuan ekonomi, gengsi, hingga kecemasan finansial masa depan. Buktinya, hampir 30 persen responden dalam survei tersebut mengaku keringat dingin hanya untuk memastikan kencan mereka tidak kebablasan dari anggaran. Urusan cinta ternyata bukan cuma soal kecocokan hati, tapi juga soal bagaimana strategi mengelola isi dompet bersama agar tetap waras dan bahagia.

Keribetan baru muncul kalau rumus patungan 50:50 dianggap sebagai hukum suci yang tidak boleh diganggu gugat. Bayangkan saja, si dia memesan steak premium seharga Rp200 ribu, sedangkan pasangannya cuma memesan kopi hitam Rp20 ribu karena kantongnya lagi kempes. Begitu tagihan kasir datang, biayanya dibagi rata. Secara hitungan matematika memang adil, tapi secara beban perasaan jelas bikin dada sesak.

Di sinilah pentingnya membedakan antara sama rata (equality) dan sama rasa (equity). Konsep yang pertama itu membagi tanpa melihat situasi, sedangkan yang kedua lebih tahu diri dengan menengok isi dompet dan apa yang dikunyah masing-masing. Patungan secara proporsional sesuai kemampuan memang tidak otomatis bikin suasana kencan jadi lebih romantis, tapi setidaknya jauh lebih masuk akal dan menyelamatkan kewarasan dompet.

Urusan struk makan ini ternyata juga punya buntut panjang yang melibatkan peran gender. Riset dari jurnal SAGE Open terhadap belasan ribu responden menemukan bahwa meski zaman sudah modern dan perempuan ikut patungan, norma lama yang menempatkan laki-laki sebagai "sponsor utama" kencan ternyata masih kokoh berdiri di benak masyarakat.

Meski begitu, angin perubahan pelan-pelan mulai berembus. Survei Pew Research Center mencatat bahwa 51 persen pemuda usia 18–29 tahun menganggap sistem bagi dua tagihan saat kencan adalah hal yang sangat wajar. Sementara di kubu perempuan pada usia yang sama, angkanya berada di kisaran 39 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa urusan asmara perlahan bergeser dari gengsi menuju realitas ekonomi yang lebih realistis bagi kedua belah pihak.

Pada akhirnya, urusan split bill ini bisa jadi cara untuk merombak tradisi lama di mana laki-laki selalu jadi kasir dan perempuan tinggal terima beres. Namun celakanya, aturan patungan ini jangan sampai berubah jadi hukum kaku baru yang semuanya harus dibagi rata 50:50 sampai ke pecahan rupiah terakhir. Kalau begitu caranya, urusan asmara yang mestinya penuh bunga-bunga malah berubah jadi tabel spreadsheet akuntansi, di mana kolom perasaannya lupa diisi.

Uang memang punya daya magis yang membawa ekspektasi tersembunyi. Tradisi lama laki-laki mentraktir sering kali dibaca sebagai simbol modal, perhatian, atau investasi masa depan. Namun ingat, struk pembayaran kencan itu bukan tiket bioskop yang bisa disobek untuk menagih keintiman sebagai balas jasanya. 

Sebaliknya, bagi pihak yang bersikeras bayar sendiri, itu adalah hak otonomi mereka. Menolak traktiran bukan berarti pelit atau sombong, bisa jadi mereka cuma emoh punya utang budi emosional begitu keluar dari pintu restoran.

Kabar baiknya, survei Zelle 2026 mencatat ada 54 persen anak muda yang menganggap kejujuran soal kondisi dompet justru sebagai modal kencan yang paling ideal. Lebih dari separuh responden juga menilai kencan yang direncanakan secara matang sesuai isi kantong jauh lebih membawa aura positif.

Maka dari itu, tidak ada satu rumus sakti yang cocok untuk semua sejoli di dunia ini. Mau patungan setengah harga sah-sah saja, bayar masing-masing sesuai yang dipesan silakan, atau gantian traktir setiap minggu juga boleh banget. Yang jadi penyakit itu kalau urusan bayar-membayar ini tidak pernah diobrolkan secara jujur, lalu salah satu pihak diam-diam membuat buku kas berisi daftar utang budi di dalam kepalanya.

Intinya, urusan asmara itu butuh kesalingan. Kalau dompet lagi tipis, ya bilang saja jujur. Kalau merasa berat harus menanggung porsi bayar yang lebih banyak, angkat bicara. Sebaliknya, kalau memang niat tulus ingin mentraktir, lakukan saja dengan ikhlas tanpa perlu menyisipkan kuitansi moral berisi tagihan utang budi di kemudian hari.

Kencan itu pada hakikatnya adalah ruang pertemuan dua manusia dengan segala perbedaan isi kantong dan isi kepala. Tagihan makan di atas meja memang boleh saja dibagi dua, tapi beban perasaan jangan sampai dipikul sendirian. Ingat, kesetaraan sejati antar pasangan itu selalu dimulai dari percakapan yang jujur dan terbuka, jauh sebelum mesin kasir berbunyi bip!

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda