Kolom

Burnout tapi Dompet Belum Siap Resign? Saatnya Terapkan Quiet Quitting

Burnout tapi Dompet Belum Siap Resign? Saatnya Terapkan Quiet Quitting
Ilustrasi berpikir untuk resign (Pexels/Magnetme)

Pernahkah kamu bangun di pagi hari, menatap langit-langit kamar, dan merasakan beban yang luar biasa berat hanya karena membayangkan harus menghadap pekerjaan hari ini? Jika iya, selamat, kamu tidak sendirian.

Saya pun pernah berada di titik itu. Fase di mana motivasi kerja sudah minus, tubuh rasanya lelah sepanjang waktu, dan isi kepala dipenuhi dengan keinginan menggebu-gebu untuk mengirimkan surat resign.

Namun, realitas sering kali menampar kita lebih keras daripada rasa lelah itu sendiri. Begitu membuka aplikasi m-banking dan melihat tagihan, cicilan, dan kebutuhan bulanan, keberanian untuk resign mendadak ciut.

Uang tabungan belum aman, mencari pekerjaan baru di tengah ketatnya persaingan hari ini pun bukan perkara mudah. Akhirnya, kita terjebak dalam dilema yang menyiksa: bertahan tapi stres, atau pergi tapi bokek.

Di tengah keputusasaan inilah, ada sebuah jalan tengah yang menyelamatkan kewarasan saya: quiet quitting. Istilah ini sempat viral dan sering disalahartikan sebagai tindakan malas-malasan atau mogok kerja secara pasif.

Namun bagi saya, quiet quitting yang sehat bukanlah sabotase terhadap perusahaan. Justru ini menjadi gerakan sadar untuk menarik batasan yang tegas demi menyelamatkan kesehatan mental tanpa mengorbankan stabilitas finansial.

Bekerja Sesuai Porsi, Bukan Eksploitasi Diri

Selama ini, kita sering diracuni oleh konsep hustle culture yang mendewakan kerja lembur dan menganggap jalan pintas menuju kesuksesan adalah dengan memberikan 150% energi setiap hari.

Saat mulai merasa burnout, saya menyadari bahwa perusahaan akan terus meminta lebih jika saya tidak tahu cara berkata cukup. Quiet quitting yang sehat berarti mengembalikan porsi kerja ke angka 100%—tidak kurang, tidak lebih.

Saya tetap menyelesaikan semua tanggung jawab yang tertulis di kontrak kerja dengan sebaik mungkin. Namun, begitu jam kantor selesai, saya berhak untuk berhenti, pulang, dan meninggalkan tempat kerja tanpa rasa bersalah.

Tidak ada lagi drama membalas chat pekerjaan di jam 9 malam atau menawarkan diri mengambil proyek tambahan secara sukarela demi terlihat impresif di mata atasan. Saya hanya menerapkan kerja sesuai porsi, bukan eksploitasi diri.

Membangun Batasan Digital yang Ketat

Teknologi membuat kita bisa dihubungi kapan saja, dan ini adalah pemicu terbesar burnout. Saat menerapkan quiet quitting, langkah pertama yang saya lakukan adalah mematikan notifikasi aplikasi komunikasi kantor tepat saat jam pulang kantor berbunyi.

Saya belajar untuk tidak merasa bersalah. Dunia tidak akan runtuh hanya karena saya membalas pesan non-darurat di keesokan pagi. Dengan mengisolasi urusan kantor hanya di jam kerja, otak saya punya waktu yang cukup untuk benar-benar beristirahat dan memulihkan energi.

Menggeser Sumber Kebahagiaan di Luar Pekerjaan

Salah satu alasan mengapa kita mudah burnout karena menaruh seluruh identitas dan harga diri pada pencapaian karir. Ketika pekerjaan memburuk atau merasa tersaingi oleh pencapaian orang lain, hidup kita rasanya ikut hancur.

Melalui quiet quitting, saya belajar menurunkan ekspektasi emosional terhadap kantor. Pekerjaan hanyalah alat untuk mendapatkan penghasilan yang stabil, bukan penentu nilai kemanusiaan saya.

Saya pun mulai mengalihkan energi yang tersisa untuk mengeksplorasi hobi baru, berkumpul dengan teman-teman yang suportif, atau sekadar menikmati waktu senggang tanpa memikirkan target kantor.

Mempersiapkan Exit Strategy dengan Kepala Dingin

Satu hal yang perlu diingat, quiet quitting bukan solusi permanen, melainkan sebuah "ruang bernapas". Saat beban kerja sudah kembali ke porsi normal dan mental mulai stabil, di sinilah saya memanfaatkan energi yang tersisa untuk menyusun exit strategy.

Alih-alih resign impulsif karena emosi, kita bisa menggunakan waktu luang setelah jam kantor untuk memperbarui CV, menata portofolio, dan mulai melamar pekerjaan baru secara perlahan, jika memang ada rencana resign.

Mencari kerja saat kita masih memiliki status sebagai karyawan dan gaji tetap jauh lebih tenang secara psikologis dibandingkan mencari kerja dalam kondisi menganggur tanpa pemasukan sama sekali.

Jika saat ini dompetmu belum siap untuk menerima keputusan resign, jangan paksakan dirimu untuk terus berlari hingga tumbang. Berhentilah menjadi overachiever yang mengorbankan kesehatan demi validasi korporat.

Quiet quitting yang sehat adalah hak kita untuk menjadi karyawan yang biasa-biasa saja tapi tetap waras, sembari mengumpulkan kekuatan untuk melangkah ke tempat kerja yang lebih mampu memberi apresiasi layak di masa depan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda