Kolom
Kesederhanaan yang Perlahan Pergi
"Simplicity is the ultimate sophistication." (Leonardo da Vinci)
Kesederhanaan adalah kecanggihan tertinggi. Dulu saya mengira kalimat itu hanya aforisme yang indah. Kini ia seperti pisau halus: memotong ingatan, membuka luka yang tidak berdarah.
Saya menemukan kesederhanaan ketika melihat masa lalu. Bukan karena masa lalu tidak punya masalah, tetapi karena ia tidak menuntut saya menjadi siapa-siapa selain diri sendiri. Keluarga kami biasa. Tidak berfoya-foya. Tidak berlebih-lebihan. Cukup. Dan di dalam kata “cukup” itu, ternyata ada rumah yang tidak pernah saya sadari.
Di album-album lama, foto-foto itu pudar. Warna kuning kertasnya seperti senja yang tertahan. Wajah-wajah tidak difilter. Senyum tidak untuk kamera, tetapi untuk momen. Saya melihat kesederhanaan di sana: baju sederhana, latar sederhana, tetapi mata mereka penuh. Mereka tidak memiliki banyak, tetapi mereka hadir.
Lagu-lagu Indonesia tujuh puluhan & delapan puluhan adalah musik yang merasuki kesederhaaan kami. Suaranya tidak tergesa. Liriknya tidak berteriak. Ia bercerita tentang hujan, rindu, jalan pulang, ibu, dan cinta yang tidak perlu diumumkan. Film-film zaman itu pun juga: gambar yang lambat, dialog yang diam, siluet yang menyimpan rahasia. Saya menjejak kesederhanaan itu, dan tiba-tiba rindu pada dunia yang belum belajar memburu segalanya.
Dua puluh tahun lalu, saya hijrah ke Kuala Lumpur. Saya bertemu banyak orang Indonesia di sana, juga teman-teman lokal. Kami duduk di warung, minum teh tarik, makan roti canai, tertawa dalam logat yang berbeda tetapi merasa satu. Tidak ada yang mewah. Tetapi malam-malam itu hangat. Persahabatan tidak diukur dengan harga. Kesederhanaan terasa sebagai kebersamaan.
Kini, kontras itu menyayat. Hidup serba kemelut. Harga melambung. Kebutuhan menumpuk. Saya mencari cara untuk memenuhi kebutuhan diri, keluarga, masa depan. Dulu hidup terasa sederhana, mudah. Kini terasa berat. Saya tidak tahu apakah karena ekonomi tidak membaik, atau karena ada sesuatu di dalam saya yang berubah.
Mungkin yang berubah bukan hanya dunia, tetapi cara pandang saya terhadap dunia. Saya mulai melihat hidup sebagai panggung pembuktian. Saya mengukur bahagia dengan yang belum dimiliki. Saya menimbang harga diri dengan pencapaian, kepemilikan, pengakuan. Kesederhanaan pun pelan-pelan pudar, bukan karena hilang, tetapi karena saya terlalu sibuk mengejar yang berkilau.
Erich Fromm pernah membedakan mode memiliki dan mode menjadi. Dalam mode memiliki, kita adalah apa yang kita punya. Dalam mode menjadi, kita adalah bagaimana kita hidup. Dulu saya menjadi: menjadi anak, menjadi teman, menjadi bagian dari lagu dan malam. Kini saya memiliki: pekerjaan, tagihan, citra, rencana. Tetapi memiliki tidak selalu membuat saya ada. Kadang justru membuat saya terasing dari diri sendiri.
Ada juga wabi-sabi: keindahan yang menerima retak, usia, dan apa adanya. Foto lama yang pudar bukan cacat. Justru di sana kesederhanaan bersinar. Ia tidak berusaha sempurna. Ia hanya jujur. Mungkin itu yang Da Vinci maksud: kesederhanaan adalah kecanggihan tertinggi, bukan karena sederhana itu mudah, tetapi karena untuk sederhana kita harus tahu apa yang harus dibuang. Sederhana adalah hasil pengurangan yang sadar.
Saya tidak ingin kembali ke masa lalu. Masa lalu punya luka sendiri. Saya hanya ingin membawa kesederhanaannya ke masa kini. Belajar berkata cukup. Belajar hadir. Belajar memandang dunia bukan sebagai medan perang, tetapi sebagai rumah yang perlu dirawat. Belajar bahwa damai tidak selalu datang dari memiliki lebih, tetapi dari melepaskan yang tidak perlu.
Mungkin kesederhanaan tidak benar-benar pergi. Ia menunggu saya berhenti mengejarnya di tempat yang salah. Ia menunggu di sela-sela lagu lama, di foto yang pudar, di teh tarik yang hangat, di wajah keluarga, di malam yang tidak ramai. Ia menunggu saya pulang.
Simplicity is the ultimate sophistication.
Dan kecanggihan yang paling tinggi mungkin bukan knowing more, but needing less.
Bukan memiliki segalanya, tetapi cukup.
Cukup untuk hidup.
Cukup untuk mencintai.
Cukup untuk damai.
Kuala Lumpur - Jakarta, akhir September 2026
Ak Supriyanto, pendongeng dari Pantura