Kolom
Hidup Terlalu Cepat: Kapan Terakhir Kali Kita Benar-benar Berhenti?
Beberapa hari lalu, saya mendapati diri saya sedang menunggu pesanan kopi di sebuah kafe. Secara refleks, tangan saya langsung merogoh saku, mengambil ponsel, dan mulai melakukan hal yang biasa kita semua lakukan: scrolling.
Jari saya bergerak cepat dari satu video berdurasi 15 detik ke video lainnya, berpindah dari gosip artis, tips karier, hingga berita bencana. Saat pesanan kopi saya datang, saya tiba-tiba tertegun. Menunggu kopi bahkan tidak sampai lima menit, tapi otak saya menolak untuk diam.
Saya menyadari kalau saya telah kehilangan kemampuan untuk sekadar duduk, bernapas, dan membiarkan pikiran saya mengembara tanpa stimulasi layar. Tampaknya, ‘efek samping’ dunia digital semakin terasa.
Kita sedang hidup di era di mana kecepatan adalah segalanya. Informasi bergerak dalam hitungan detik, tren berganti dalam semalam, dan kita dipaksa untuk terus berlari agar tidak merasa ketinggalan.
Kehidupan digital yang super cepat ini pelan-pelan mengikis kedamaian batin kita. Di tengah semua percepatan ini, saya mulai bertanya pada diri sendiri: kapan terakhir kali kita benar-benar berhenti dan hadir seutuhnya di momen saat ini?
Ilusi Produktivitas dan Jebakan Hyper-Connected
Dulu, waktu luang adalah waktu di mana kita benar-benar tidak melakukan apa saja. Sekarang, teknologi membuat kita beradda dalam kondisi hyper-connected hingga jeda waktu yang sebentar pun masih dipakai untuk sibuk.
Saat naik ojek online, kita membalas email kerja. Saat rebahan sebelum tidur, kita menonton video edukasi demi alasan "tetap produktif". Saya merasa kita telah mengaburkan batas antara memanfaatkan waktu dan mengeksploitasi pikiran sendiri.
Kita seolah dibuat merasa bersalah jika tidak melakukan sesuatu. Padahal, otak kita bukanlah mesin yang didesain untuk selalu produktif dan menerima bombardir informasi tanpa henti selama 24 jam penuh.
Kehilangan Keindahan dari Hal-hal Kecil
Karena terbiasa dengan kepuasan instan dari media sosial, tanpa sadar kita tumbuh menjadi pribadi yang tidak sabaran. Menonton video dengan kecepatan 1.5x, melewati intro lagu, dan cepat bosan dengan percakapan yang mendalam.
Ketika hidup berjalan terlalu cepat, kita malah kehilangan kemampuan untuk menikmati proses. Kapan terakhir kali kita makan tanpa menonton YouTube? Kapan terakhir kali kita berjalan kaki di sore hari tanpa mendengarkan podcast?
Kita bahkan terlalu sibuk merekam momen melalui kamera ponsel daripada benar-benar merasakan serta menikmatinya dengan mata dan hati kita sendiri.
Doomscrolling dan Kecemasan Kolektif
Setiap kali membuka media sosial, kita disuguhi pencapaian orang lain yang tampak sempurna di usia muda. Fenomena ini membuat kita terus-menerus membandingkan hidup kita yang terasa lambat dengan hidup orang lain yang tampak melesat.
Saya pun belajar bahwa salah satu cara terbaik untuk menyembuhkan kecemasan ini adalah dengan sengaja memutuskan koneksi. Bukan selamanya atau sepenuhnya, cukup mengambil jeda dan menyiapkan ruang tanpa notifikasi.
Kita tidak perlu tahu semua hal yang terjadi di dunia ini setiap detiknya. Menjaga ketidaktahuan kita terhadap hal-hal yang tidak penting juga merupakan bentuk proteksi diri yang valid.
Belajar Menerapkan JOMO
Untuk melawan kegilaan ritme digital ini, saya belajar mempraktikkan JOMO (Joy of Missing Out)—kesenangan untuk melewatkan sesuatu. Saya mulai berani mematikan ponsel selama beberapa jam di akhir pekan, menolak undangan yang sekadar basa-basi, dan tidak lagi memaksakan diri mengikuti setiap tren viral.
Berhenti sejenak bukan berarti kita kalah atau tertinggal. Justru, berhenti adalah cara kita mengumpulkan kewarasan agar bisa berjalan lebih jauh. Saat melambat, kita memberikan ruang bagi diri untuk berpikir jernih, merenung, dan mengenali diri di luar identitas digital kita.
Dunia digital tidak akan pernah melambat, kitalah yang harus memilih untuk tidak ikut berlari. Hidup ini terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk berpindah dari satu layar ke layar lainnya dengan terburu-buru.
Cobalah taruh ponselmu sekarang, tatap sekelilingmu, ambil napas dalam-dalam, dan nikmati keheningan itu. Karena terkadang, tindakan paling berani yang bisa kita lakukan di era modern ini adalah dengan berani berhenti.