Kolom
Fase Menganggur Bukan Berarti Tertinggal: Seni Menikmati Ruang Kosong Setelah Wisuda
Ada masa setelah lulus kuliah ketika hidup terasa seperti berhenti di tempat.
Tidak ada lagi jadwal kuliah yang harus diikuti, tugas yang harus dikumpulkan, atau kelas yang membuat hari terasa teratur. Sebelumnya, kita terbiasa memiliki tujuan yang jelas setiap semester. Namun setelah semuanya selesai, tiba-tiba muncul ruang kosong yang cukup besar.
Ruang kosong itu kemudian diisi dengan satu pertanyaan yang sama hampir setiap hari tentang kapan aku akan mendapatkan pekerjaan. Menjadi pengangguran setelah lulus tentu bukan sesuatu yang mudah. Terlebih ketika melihat teman-teman mulai mendapatkan pekerjaan, membagikan cerita tentang kantor baru, atau perlahan membangun kehidupan yang mereka impikan.
Sementara itu, kita masih berada di rumah, mengirim lamaran, mengikuti proses rekrutmen, menunggu kabar, dan terkadang menerima penolakan. Pada titik tertentu, muncul perasaan bahwa kita sedang tertinggal.
Aku pun pernah melihat fase ini sebagai sesuatu yang harus segera dilewati. Rasanya seperti ada bagian dari hidup yang seharusnya sudah berjalan, tetapi justru belum dimulai. Setiap hari terasa seperti menunggu. Menunggu panggilan interview, menunggu email, menunggu kesempatan berikutnya.
Namun, semakin dijalani, aku mulai menyadari bahwa mungkin fase menganggur tidak selalu harus dilihat sebagai masa yang sia-sia. Mungkin ini adalah sebuah jeda. Jeda dari rutinitas lama sebelum memasuki kehidupan yang baru.
Selama kuliah, kita sering berharap bisa memiliki lebih banyak waktu untuk diri sendiri. Ingin belajar sesuatu yang baru, mencoba hobi, membaca lebih banyak buku, atau sekadar beristirahat tanpa memikirkan tugas dan deadline.
Tetapi ketika waktu tersebut benar-benar datang, kita justru merasa bersalah karena tidak menggunakannya untuk sesuatu yang dianggap produktif. Padahal, tidak mendapatkan pekerjaan hari ini bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Ada banyak hal yang tetap bisa dilakukan selama berada di fase ini.
Kita bisa menggunakan waktu untuk mempelajari keterampilan baru, memperbaiki CV, membangun portofolio, mengikuti kelas, mencoba pekerjaan freelance, atau mengeksplorasi bidang yang sebelumnya belum sempat kita kenal.
Bahkan kegiatan sederhana seperti membaca, menulis, berolahraga, membantu pekerjaan rumah, atau menghabiskan waktu bersama keluarga juga tetap memiliki nilai. Tidak semuanya harus berujung pada pencapaian besar.
Terkadang, kesempatan terbaik dari sebuah jeda justru adalah kesempatan untuk mengenal diri sendiri. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, mungkin baru sekarang kita memiliki waktu untuk bertanya, sebenarnya aku ingin bekerja di bidang apa? Apa yang aku sukai? Kemampuan apa yang ingin aku kembangkan? Kehidupan seperti apa yang ingin aku bangun?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak langsung memiliki jawaban. Dan tidak apa-apa.
Fase menganggur juga mengajarkan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai timeline yang kita buat sendiri. Kita mungkin sudah membayangkan akan mendapatkan pekerjaan beberapa minggu setelah wisuda, tetapi kenyataannya bisa jauh berbeda.
Ada lamaran yang tidak mendapat respons. Ada interview yang berakhir dengan penolakan. Ada lowongan yang terlihat cocok tetapi ternyata tidak berhasil kita dapatkan. Semua itu bisa terasa melelahkan. Namun, satu penolakan tidak otomatis berarti kita tidak memiliki kemampuan.
Mungkin kita hanya sedang berada di antara dua fase kehidupan. Dan berada di tengah-tengah memang terasa membingungkan. Di satu sisi, kita sudah tidak lagi menjadi mahasiswa. Di sisi lain, kita belum sepenuhnya menemukan tempat sebagai seorang pekerja.
Tetapi mungkin justru di ruang antara itulah kita sedang bertumbuh.
Kita sedang belajar menjadi lebih sabar. Belajar menerima ketidakpastian. Belajar menghadapi penolakan. Belajar memahami kemampuan diri sendiri. Dan yang paling penting, belajar bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh seberapa cepat kita mendapatkan pekerjaan dibandingkan orang lain.
Karena hidup bukan perlombaan dengan garis finish yang sama. Teman kita mungkin mendapatkan pekerjaan lebih dulu. Orang lain mungkin sudah memiliki karier yang terlihat menjanjikan. Sementara kita masih mencari arah. Bukan berarti kita kalah. Kita hanya sedang berjalan di jalan yang berbeda.
Mungkin karena itu, selama berada dalam fase menganggur, kita perlu memberikan sedikit ruang untuk bernapas. Tetap berusaha mencari pekerjaan, tetapi tidak membiarkan seluruh hidup hanya berputar di sekitar pencarian kerja.
Kita boleh beristirahat setelah mengirim beberapa lamaran, menonton drama favorit, membaca buku, menikmati kopi di sore hari, bahkan melakukan hal-hal sederhana yang membuat kita merasa menjadi diri sendiri lagi. Sebab jeda tidak selalu berarti berhenti berkembang.
Kadang, jeda adalah kesempatan untuk mempersiapkan diri sebelum kembali melangkah lebih jauh. Aku tidak tahu kapan fase menganggur ini akan berakhir. Mungkin besok, minggu depan, atau beberapa bulan lagi. Tetapi untuk sekarang, aku ingin belajar melihatnya dengan cara yang berbeda.
Bukan sebagai bukti bahwa aku tertinggal. Bukan sebagai waktu yang terbuang. Melainkan sebagai satu bagian dari perjalanan yang memberiku kesempatan untuk berhenti sejenak, mengenal diri sendiri, dan mempersiapkan langkah berikutnya.
Karena mungkin, hidup tidak benar-benar sedang berhenti. Ia hanya sedang memberikan kita waktu untuk bersiap sebelum cerita berikutnya dimulai.