Kolom

Jeda dari Media Sosial: Kita Tetap Baik-baik Saja Tanpa Update Setiap Hari

Jeda dari Media Sosial: Kita Tetap Baik-baik Saja Tanpa Update Setiap Hari
ilustrasi fokus pada notifikasi media sosial (Pexels/Huynh Van)

Beberapa waktu lalu, saya mendapati diri saya berada di sebuah kafe dengan kopi dan sepiring makanan yang ditata sangat cantik. Refleks pertama saya bukan menikmatinya, tapi mengeluarkan ponsel, lalu membuka kamera. Saya menghabiskan waktu hampir lima menit hanya untuk mencari sudut pencahayaan yang pas, memilih filter yang tepat, memikirkan caption menarik, hingga akhirnya mengunggahnya ke media sosial seperti Whatsapps dan Instagram Story.

Setelah tombol share ditekan, keajaiban makanan itu mendadak hilang. Mata saya terus melirik layar ponsel, menghitung berapa banyak orang yang telah melihat dan menekan tombol love unggahan tersebut.

Kondisi ini tampak normal terjadi karena dilakukan hampir semua perempuan. Namun, detik itu juga, sebuah pertanyaan menampar saya: “Untuk siapa sebenarnya saya memesan makanan ini? Untuk diri saya, atau untuk konsumsi mata orang lain?”

Terjebak Eksistensi ala Media Sosial

Kita hidup di era di mana eksistensi diri sering kali diukur dari seberapa aktif kita memperbarui status di dunia maya. Muncul sebuah tekanan psikologis tak kasat mata jika kita tidak membuat update akan dianggap sedang tidak bahagia, kesepian, atau bahkan tertinggal.

Kita dibuat merasa wajib membagikan setiap cangkir kopi, perjalanan hidup, bahkan keluh kesah harian ke ranah publik. Namun, setelah merasa lelah menjadi sutradara bagi kehidupan digital, saya memutuskan untuk mengambil jeda ekstrem.

Saya memilih untuk berhenti membuat unggahan selama beberapa waktu. Hasilnya? Saya menemukan sebuah kebenaran yang membebaskan: saya tetap baik-baik saja tanpa update setiap hari.

Menghancurkan Ilusi Keharusan Validasi Publik

Keinginan untuk selalu memperbarui status di media sosial sebenarnya berakar dari kebutuhan manusia akan validasi. Saat mendapatkan tanda like, komentar positif, atau sekadar angka penonton story yang tinggi, otak melepaskan dopamin instan.

Kita merasa diakui dan dianggap penting. Namun, ketergantungan pada validasi digital ini justru menjadi lingkaran setan yang rapuh. Di titik sadar ini, saya mengambil keputusan untuk libur dari ‘melapor’ ke media sosial.

Awalnya ada rasa cemas yang menggelitik—seolah jika tidak membagikan apa yang saya lakukan, momen tersebut menjadi tidak nyata atau tidak bernilai. Namun, perlahan saya menyadari kalau kebahagiaan sebuah momen tidak memerlukan stempel persetujuan dari followers.

Menikmati setiap aktivitas tanpa difoto tetaplah sebuah pengalaman yang utuh dan berharga. Sebab ketenangan sejati lahir ketika kita tidak lagi memedulikan opini penonton bayangan di lini masa.

Merebut Kembali Kehidupan Nyata dari Balik Lensa

Satu dampak paling nyata yang saya rasakan saat mengambil jeda dari media sosial adalah kembalinya ketajaman indra saya dalam menikmati realitas. Saat keharusan mendokumentasikan segala hal dihilangkan, saya tidak lagi sibuk melihat dunia lewat layar ponsel.

Saya bisa mendengarkan tawa renyah sahabat saya tanpa interupsi menyalakan kamera. Saya bisa menikmati keindahan matahari terbenam tanpa pusing memikirkan lagu latar apa yang sedang tren di TikTok.

Mengurangi intensitas update berarti memberikan kita kesempatan untuk hadir seutuhnya di momen saat ini. Kita berhenti menjadi penonton yang sibuk merekam hidup dan mulai menjadi aktor yang benar-benar menjalani hidup tersebut.

Menyembuhkan Pikiran dari ‘Perlombaan’ yang Tak Pernah Usai

Media sosial secara alami mendorong kita untuk membandingkan diri. Saat terus-menerus memamerkan sisi terbaik, kita juga dipaksa menyaksikan kurasi terbaik dari hidup orang lain. Ini adalah perlombaan tanpa finis yang sangat melelahkan mental.

Dengan memilih absen dari aktivitas mengunggah dan melihat lini masa, saya seperti keluar dari arena pertandingan yang bising. Pikiran saya tidak lagi dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan komparatif.

Tidak ada lagi kebisingan seperti "Kenapa pencapaian dia lebih hebat?" atau "Kenapa liburan mereka lebih mewah?" Jeda ini memberikan ruang bagi mental saya untuk pulih secara mandiri, tanpa distorsi dari standar sukses yang diciptakan oleh algoritma.

Merayakan Privasi di Dunia yang Terlalu Bising

Pada akhirnya, menjaga sebagian besar kehidupan tetap privat adalah sebuah kemewahan di zaman modern ini. Tidak semua hal yang kita rasakan, pikirkan, atau lakukan perlu menjadi konsumsi publik.

Dunia luar tidak perlu tahu rencana besar apa yang sedang kita susun, atau kesedihan apa yang sedang coba kita urai. Beberapa hal memang diciptakan untuk disimpan rapat-rapat, dinikmati sendiri, atau hanya dibagikan pada orang terdekat yang benar-benar peduli.

Jadi, kalau besok kamu melewati hari yang luar biasa indah—atau bahkan hari yang biasa-biasa saja—dan memilih untuk membiarkan ponsel tetap mati di dalam tas, tersenyumlah. Kamu tidak aneh hanya karena berbeda dari orang kebanyakan.

Lebih dari itu, kamu tidak kehilangan momen. Kamu justru sedang merayakan setiap momen hidup dengan cara yang paling jujur. Kita tetap bisa bertumbuh, bahagia, dan baik-baik saja dalam keheningan yang damai.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda