Kolom

Krisis Iklim vs Warisan Harta: Nikmat di Generasi Lalu, Sengsara di Kita

Krisis Iklim vs Warisan Harta: Nikmat di Generasi Lalu, Sengsara di Kita
Ilustrasi Generational Wealth. (Unsplash/@insaanustudio)

Bicara soal masa depan finansial, generasi muda zaman sekarang sering kali disuguhi narasi indah tentang pentingnya membangun kekayaan antar-generasi atau generational wealth. Doktrin ini mengajarkan kita untuk menabung, berinvestasi, dan memiliki aset agar anak cucu kelak bisa hidup nyaman tanpa perlu memulai segalanya dari nol.

Namun, jika kita melihat realita saat ini, ada sebuah kontradiksi besar yang sedang terjadi. Bagaimana kita bisa membicarakan warisan harta dengan tenang, ketika warisan bumi yang akan kita tempati justru sedang berada di ambang kehancuran akibat krisis iklim?
 
Ada sebuah ketimpangan moral yang sangat nyata jika kita membandingkan kondisi antar-generasi. Generasi terdahulu, khususnya era Baby Boomers, menikmati masa keemasan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Industri dibangun secara masif, bahan bakar fosil dieksploitasi tanpa batas, dan lahan-lahan hijau dialihfungsikan demi meraup keuntungan finansial yang kemudian menjadi fondasi kekayaan keluarga mereka hari ini.

Sayangnya, akumulasi kekayaan yang mereka nikmati kala itu diperoleh dengan cara berutang pada masa depan ekologi planet ini.

Kini, giliran generasi muda yang harus membayar tagihan utang lingkungan tersebut. Kita dihadapkan pada kenyataan pahit berupa suhu ekstrem yang memecahkan rekor setiap tahun, bencana alam yang makin sering terjadi, hingga ancaman kelangkaan pangan.

Ironisnya, saat generasi terdahulu bisa mewariskan properti atau dana investasi, alam yang diwariskan bersama aset-aset tersebut sudah tidak lagi ramah untuk ditinggali. Kekayaan materi yang diturunkan seolah menjadi tidak berarti ketika daya dukung lingkungan di sekitar kita perlahan-lahan mulai runtuh akibat keserakahan masa lalu.

Beban Finansial di Balik Cuaca yang Kian Memanas

Krisis iklim ini secara langsung mencekik kondisi finansial anak muda hari ini melalui jalur yang jarang disadari. Gagal panen massal akibat cuaca ekstrem membuat harga bahan pangan pokok melonjak drastis secara tidak masuk akal. Nilai inflasi makanan ini jauh lebih cepat meningkat dibanding kenaikan gaji bulanan kita. Ditambah lagi dengan meroketnya tagihan listrik bulanan hanya untuk menyalakan pendingin ruangan karena suhu kota yang semakin membakar. Bahkan, premi asuransi properti kini melonjak tajam karena risiko bencana hidrometeorologi yang kian tak terkendali.

Situasi ini melahirkan sebuah paradoks yang cukup menyedihkan bagi anak muda modern. Katakanlah seseorang cukup beruntung karena kelak akan mewarisi rumah keluarga di kawasan pesisir atau sebidang tanah warisan. Namun, akibat kenaikan permukaan air laut dan perubahan cuaca ekstrem yang tidak menentu, nilai ekonomi serta fungsi dari aset-aset tersebut justru terancam hilang total.

Memiliki aset finansial yang melimpah menjadi terasa sia-sia jika lingkungan tempat kita hidup sudah tidak lagi aman. Uang warisan yang diterima nantinya kemungkinan besar akan habis bukan untuk modal usaha atau investasi masa depan, melainkan habis hanya untuk biaya bertahan hidup dasar.
Beban ini terasa semakin tidak adil karena kita dipaksa untuk menjadi garda terdepan dalam memperbaiki kerusakan yang bukan kita buat. Kita dipaksa memikul beban biaya transisi hijau yang mahal.

Sementara itu, segelintir kelompok elit dari generasi lama yang paling bertanggung jawab atas emisi karbon terbesar di masa lalu, masih tetap bisa duduk santai menikmati sisa kekayaan mereka tanpa harus merasakan dampak langsungnya di garis depan.

Menuntut Keadilan yang Nyata Antar-Generasi

Melihat fenomena ini, konsep kekayaan antar-generasi sudah sepatutnya didefinisikan ulang secara total. Warisan yang berharga untuk masa depan tidak boleh lagi hanya diukur dari seberapa besar angka di rekening bank atau berapa banyak sertifikat tanah yang disimpan di dalam lemari. Apa gunanya mewariskan tumpukan uang jika anak cucu kita nantinya harus berebut akses air bersih atau kesulitan bernapas karena polusi udara yang pekat?

Langkah paling jujur yang bisa kita lakukan sekarang adalah menuntut adanya keadilan iklim. Akumulasi kekayaan yang ada saat ini seharusnya dialokasikan secara masif untuk mendanai transisi energi bersih dan pemulihan ekosistem yang rusak.

Kita harus sadar bahwa menyelamatkan bumi bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup moral yang estetik, melainkan sebuah kewajiban mendesak untuk menyelamatkan sisa kewarasan dan keberlangsungan hidup kita di masa depan yang bergerak terlalu cepat.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda