Kolom

Tradisi Smong Simeulue: Bukti Cerita Rakyat Mampu Mitigasi Tsunami Aceh

Tradisi Smong Simeulue: Bukti Cerita Rakyat Mampu Mitigasi Tsunami Aceh
Official poster film dokumenter Smong Aceh: Two Decades of Resilience After the Tsunami (2024) karya sutradara Tonny Trimarsanto. (IMDb/Smong)

Dewasa ini, bencana alam seolah datang silih berganti, mulai dari gempa bumi, kebakaran hutan, hingga ancaman banjir. Di tengah situasi ini, kita sering kali berfokus hanya pada teknologi, sistem peringatan dini, dan kesiapan pemerintah. Di sisi lain, ada satu hal yang tak kalah penting untuk kita pelajari, yakni pengetahuan lokal yang diwariskan antar-generasi.

Musabab hal itu, saya teringat pada Smong, tradisi tutur masyarakat Simeulue, Aceh, yang memuat pesan mitigasi tsunami. Berakar dari pengalaman pahit tsunami tahun 1907, cerita turun-temurun ini terbukti menjadi penyelamat nyawa yang sangat berharga. 

Melalui syair sederhana yang diceritakan orang-orang tua kepada anak dan cucunya sebelum tidur, generasi muda diajarkan mengenali tanda-tanda alam, seperti gempa yang diikuti surutnya air laut dan anjuran untuk segera mencari tempat tinggi. 

Dalam penelitian berjudul “Smong: How an Oral History Saved Thousands on Indonesia's Simeulue Island during the December 2004 and March 2005 Tsunamis” yang diterbitkan dalam Jurnal Earthquake Spectra (2006), Brian G. McAdoo menjelaskan bagaimana tradisi lisan ini memandu evakuasi warga. 

Efektivitasnya tercermin dari catatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2024, dari sekitar 100.000 penduduk Simeulue, tercatat hanya enam korban jiwa saat tsunami 2004 terjadi. Angka ini terhitung sangat rendah dibandingkan dengan wilayah terdampak lainnya.

Meski bukan satu-satunya faktor penentu, penelitian McAdoo ini menunjukkan bahwa memori kolektif tentang tsunami 1907 memberikan bekal krusial bagi warga. Ketika gempa kuat mengguncang dan waktu evakuasi sangat terbatas, pengetahuan turun-temurun yang melekat di ingatan terbukti menjadi penyelamat yang sangat berharga.

Kekuatan Smong terletak pada cara pengetahuan itu dirawat dan diwariskan. Alih-alih larut dalam kesedihan masa lalu, pengalaman bencana diolah menjadi cerita ringan yang mudah dipahami anak-anak, diulang dalam lingkaran keluarga, lalu diteruskan ke generasi berikutnya.

Melalui penelitian “Reconstructing Society Through Memory: Smong, Cultural Trauma, and Community Resilience in Post-Disaster Simeulue, Indonesia” di jurnal Societies (2026), Nindi Aristi mengulas bagaimana tradisi ini menjadi mekanisme ingatan budaya yang membangun ketahanan masyarakat. 

Melalui pendekatan etnografis dan wawancara, penelitian tersebut menunjukkan bahwa Smong tetap hidup berkat cerita keluarga, nyanyian nandong, ekspresi seni, serta berbagai praktik sosial sehari-hari.

Di sinilah cerita bekerja lebih efektif daripada sekadar menyampaikan pesan moral. Tradisi tutur ini langsung menghubungkan tanda bahaya dengan tindakan penyelamatan. Ketika gempa kuat mengguncang dan air laut surut, masyarakat Simeulue tidak perlu bingung menafsirkan keadaan. Pengetahuan yang terus didengar sejak kecil membantu mereka mengenali situasi dan mengambil keputusan dengan cepat.

Sebuah cerita juga membuat pengetahuan mitigasi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan informasi teknis yang mudah dilupakan, cerita yang dituturkan orang tua dan dinyanyikan bersama memiliki peluang lebih besar untuk melekat di ingatan. Itulah mengapa, Smong membuktikan bagaimana memori kolektif dapat menjadi pedoman praktis yang menyelamatkan nyawa saat ancaman datang.

Berbeda dengan yang lain, laporan PBB tahun 2024 mencatat fenomena kontras di wilayah pesisir lain, di mana sebagian warga justru mendekati pantai untuk mengambil ikan saat air laut surut sebelum tsunami. Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya pemahaman tentang tanda bahaya. Kuncinya adalah memastikan pengetahuan yang tepat tersedia, dipahami, dan dipraktikkan saat dibutuhkan.

Tentu saja, pengetahuan lokal seperti Smong perlu berjalan beriringan dengan sistem mitigasi modern. BMKG sendiri mengedukasi masyarakat untuk segera mencari tempat tinggi jika merasakan gempa kuat atau melihat air surut yang tidak biasa. 

Bagi anak muda, menjaga tradisi ini bisa dimulai dengan mendokumentasikan cerita dan hikayat para tetua, mempelajari sejarah bencana daerah, serta mengenalkan pengetahuan lokal lewat pendidikan dan media digital. Tentu saja, informasi yang dibagikan harus tetap akurat dan selaras dengan panduan keselamatan resmi.

Smong memberi pelajaran berharga bahwa mitigasi bencana bukan semata-mata urusan teknologi atau sirene. Keberhasilannya juga sangat bergantung pada kemampuan masyarakat dalam merawat pengetahuan dan meneruskannya menjadi kesadaran bersama.

Pada hakikatnya, cerita rakyat dapat menjadi bekal penting dalam menghadapi situasi darurat. Smong membuktikan bahwa sebuah syair yang diwariskan dari mulut ke mulut mampu menjaga ingatan sejarah, membangun kewaspadaan, dan menyelamatkan nyawa. Merawat tradisi ini berarti menjaga pengetahuan krusial yang kelak sangat dibutuhkan ketika bencana datang tiba-tiba.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda