Kolom

Saat Gen Z Bertemu 'Polisi Bahasa': Butuh Ruang Diskusi, Bukan Penghakiman

Saat Gen Z Bertemu 'Polisi Bahasa': Butuh Ruang Diskusi, Bukan Penghakiman
ilustrasi Gen Z dan ekspresi bahasa di ruang digital (Pexels/Anna Shvets)

Pernah melihat atau mengalami sendiri momen ketika sebuah opini menarik di media sosial mendadak kehilangan esensinya hanya karena kesalahan kecil? Argumen kritis yang mendalam di media sosial justru disambut koreksi tata bahasa di kolom komentarnya.

Kalimat sejenis "Izin ralat, yang betul 'analisis', bukan 'analisa'," atau "Pakai spasi ya setelah kata 'di-' kalau menunjukkan tempat" sangat mudah kita temukan. Bahkan fenomena kemunculan para "Polisi Bahasa" ini telah menjadi bagian dari realitas harian lanskap digital.

Kelompok yang kebanyakan berasal dari generasi lebih tua atau penganut purisme bahasa ini secara sukarela melakukan patroli di jagat maya untuk merazia setiap kesalahan ketik, kekeliruan afiksasi, atau penggunaan istilah gaul.

Di sisi yang berseberangan, berdiri Gen Z yang ekspresif, serba cepat, dan memperlakukan bahasa sebagai medium seni yang cair. Benturan antar generasi ini akhirnya memicu ketegangan budaya yang nyata.

Kita harus melihat dilema tersebut secara kritis: apakah aksi razia kebahasaan ini benar-benar menyelamatkan bahasa nasional, atau justru perlahan-lahan membunuh minat anak muda untuk menggunakannya?

Menepis Arogansi Linguistik di Ruang Non-Formal

Niat awal para polisi bahasa mungkin terdengar mulia: menjaga marwah dan ketertiban bahasa Indonesia sesuai kaidah baku. Namun, metode yang digunakan sering kali terjebak dalam arogansi linguistik yang intimidatif.

Tak jarang kita menemukan kesan perilaku yang cenderung mengabaikan batas wilayah komunikasi dan memperlakukan kolom komentar media sosial yang santai layaknya lembar ujian skripsi yang sakral.

Saat anak muda menggunakan kata “mengsedih” atau menyingkat kalimat demi efisiensi jempol, itu adalah bentuk ekspresi budaya internet, bukan pernyataan perang terhadap negara. Menghakimi Gen Z secara agresif di ruang digital karena kesalahan tata bahasa tidak akan membuat mereka serta-merta mencintai KBBI.

Sebaliknya, pendekatan yang kaku dan penuh penghakiman ini justru menciptakan trauma kultural. Anak muda menjadi malas menulis dalam bahasa Indonesia karena merasa ruang digital mereka tidak lagi aman dari intaian radar kesalahan.

Penjara Ekspektasi yang Memicu Migrasi Bahasa

Kritik paling tajam terhadap fenomena polisi bahasa adalah dampak jangka panjangnya yang kontraproduktif. Saat merasa setiap gerak-gerik kebahasaannya dihakimi dan diposisikan sebagai "perusak bangsa", Gen Z akan mencari katup penyelamat di tempat lain.

Pilihan paling logis dan sering terjadi di era digital saat ini mengarah pada migrasi bahasa secara total ke bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Di komunitas digital berbahasa Inggris, Gen Z menemukan ruang yang jauh lebih toleran terhadap kesalahan pengetikan atau eksperimen kata.

Netizen global cenderung lebih fokus pada substansi pesan daripada sibuk memperdebatkan spasi. Pada akhirnya, upaya keras para konservatif "menyucikan" bahasa Indonesia dari kesalahan justru mendorong generasi muda untuk angkat kaki dan meninggalkan bahasa ibu.

Membangun Jaring Pengaman: Ruang Diskusi yang Egaliter

Jika ingin bahasa Indonesia tetap bertaji di masa depan, kita harus segera mengubah strategi hubungan masyarakat ini. Kita perlu meruntuhkan dinding pembatas yang kaku dan membangun ruang diskusi yang aman serta egaliter antar generasi.

Tenaga pendidik, ahli bahasa, dan generasi senior harus mampu memosisikan diri sebagai mentor yang suportif, bukan hakim yang memegang palu keadilan di kolom komentar. Izinkan anak muda memiliki ruang aman untuk belajar dan berekspresi.

Ruang yang menjadi tempat anak muda bisa berbuat salah saat belajar dan keganjilan berbahasa tidak dibalas dengan ejekan melainkan diajak berdiskusi secara logis. Diskusi dua arah dan berbasis empati jauh lebih efektif menumbuhkan rasa bangga berbahasa daripada razia digital yang kaku.

Merawat Bahasa dengan Cinta, Bukan Ketakutan

Bahasa Indonesia tidak akan pernah mencapai puncak kejayaannya jika dirawat menggunakan rasa takut. Ketakutan akan berbuat salah hanya akan melahirkan generasi yang bungkam dan pasif di panggung digital dunia.

Sudah saatnya para polisi bahasa menurunkan ego dan mulai mendengarkan logika ekspresi anak muda. Begitu pula bagi Gen Z, kelonggaran ini harus disambut dengan tanggung jawab untuk tetap mempelajari kaidah resmi pada tempatnya.

Mari ubah ruang digital dari medan razia yang menegangkan menjadi ruang kelas terbuka yang hangat. Ingat, keberlangsungan hidup sebuah bahasa ditentukan oleh seberapa nyaman generasi muda menuturkan bahasanya, bukan rasa takut terhadap hukumannya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda