Kolom

Kaya Buah, tapi Tak Selalu Terjangkau: Menggugat Sistem Pangan Indonesia

Kaya Buah, tapi Tak Selalu Terjangkau: Menggugat Sistem Pangan Indonesia
Ilustrasi Buah (Unsplash/@juliazolotova)

Indonesia dikenal sebagai negara tropis yang memiliki kekayaan buah-buahan. Mangga, pisang, rambutan, durian, salak, manggis, hingga jambu tumbuh di berbagai wilayah dengan karakteristik tanah dan iklim yang beragam. Namun, kekayaan alam tersebut tidak otomatis membuat masyarakat mudah memperoleh buah yang terjangkau. Di tengah melimpahnya potensi produksi lokal, harga buah di pasaran masih dapat terasa mahal, sementara buah impor tetap menghiasi rak-rak supermarket.

Persoalannya tentu bukan sesederhana membandingkan harga mangga lokal dengan apel impor. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: mengapa negara dengan keanekaragaman buah yang besar belum sepenuhnya mampu membangun sistem pangan yang menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan keberlanjutan produksi buah lokal?

Negara tropis, tetapi buah belum tentu terjangkau

Harga buah dipengaruhi banyak faktor, mulai dari musim panen, biaya produksi, transportasi, penyimpanan, hingga panjangnya rantai distribusi. Buah yang dipanen petani dengan harga rendah belum tentu dijual murah kepada konsumen. Di antara keduanya terdapat pengumpul, pedagang perantara, distributor, dan pengecer yang masing-masing menanggung biaya serta mengambil margin.

Masalah muncul ketika infrastruktur distribusi tidak memadai, akses petani terhadap pasar terbatas, dan fasilitas penyimpanan belum mampu menjaga kualitas hasil panen. Buah merupakan komoditas yang mudah rusak. Ketika panen melimpah tetapi distribusi tersendat, sebagian hasil panen dapat membusuk atau terjual dengan harga rendah. Sebaliknya, ketika pasokan berkurang, harga di tingkat konsumen dapat melonjak.

Akibatnya, petani belum tentu memperoleh keuntungan yang layak meskipun konsumen membayar mahal. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan harga tidak selalu bersumber dari kurangnya produksi, tetapi juga dari cara sistem pangan menghubungkan produsen dengan konsumen.

Mengapa buah impor tetap punya tempat?

Buah impor tidak otomatis lebih murah daripada buah lokal. Harga akhirnya dipengaruhi negara asal, nilai tukar, biaya pengiriman, tarif, penyimpanan, dan strategi perdagangan. Buah impor juga memiliki pasar tersendiri karena konsistensi ukuran, penampilan, ketersediaan sepanjang tahun, serta standar penanganan pascapanen yang relatif teratur.

Kehadiran buah impor bukan dengan sendirinya bukti bahwa pertanian Indonesia gagal. Perdagangan internasional dapat memperluas pilihan konsumen dan mengisi kebutuhan ketika produksi domestik terbatas. Namun, dominasi produk impor pada kategori atau segmen pasar tertentu patut menjadi bahan evaluasi apabila produsen lokal kesulitan meningkatkan kualitas, menjaga pasokan, atau menembus pasar modern.

Persoalannya bukan menolak buah dari luar negeri, melainkan memastikan bahwa buah lokal memiliki kesempatan bersaing secara adil. Petani membutuhkan akses terhadap teknologi budidaya, bibit berkualitas, pembiayaan, informasi harga, pengemasan, dan jaringan pemasaran. Tanpa dukungan tersebut, keunggulan iklim tropis hanya menjadi potensi yang tidak sepenuhnya menghasilkan kesejahteraan.

Sistem pangan tidak cukup berorientasi pada produksi. Selama ini, pembicaraan mengenai ketahanan pangan kerap berpusat pada jumlah produksi dan ketersediaan komoditas. Padahal, sistem pangan yang kuat harus memperhatikan seluruh rantai: dari lahan dan petani, proses panen, penyimpanan, distribusi, perdagangan, hingga kemampuan masyarakat membeli makanan bergizi.

Buah memiliki peran penting dalam pemenuhan vitamin, mineral, serat, dan komponen gizi lainnya. Jika harganya terlalu mahal bagi sebagian keluarga, konsumsi buah dapat menjadi pengeluaran yang mudah dikurangi ketika anggaran rumah tangga tertekan. Akibatnya, persoalan harga juga berkaitan dengan akses terhadap pangan bergizi, bukan sekadar pilihan belanja.

Pemerintah perlu memperkuat rantai pasok hortikultura melalui pembangunan fasilitas penyimpanan dan pengolahan, perbaikan transportasi, pengembangan pasar yang transparan, serta kemitraan yang lebih adil antara petani dan pembeli. Diversifikasi pangan juga perlu diterapkan secara nyata dengan mendorong konsumsi buah lokal sesuai musim dan potensi daerah.

Di sisi lain, kebijakan impor harus didasarkan pada data kebutuhan dan ketersediaan, bukan sekadar menjadi jalan pintas ketika pasokan domestik bermasalah. Perlindungan petani juga tidak berarti menutup perdagangan, melainkan meningkatkan kapasitas produksi lokal agar mampu memenuhi standar pasar dan memperoleh nilai tambah.

Indonesia tidak harus menghasilkan semua jenis buah sepanjang tahun. Setiap daerah memiliki keunggulan ekologis, musim panen, dan varietas yang berbeda. Justru keragaman tersebut dapat menjadi kekuatan apabila didukung distribusi antardaerah yang efisien, pengolahan hasil panen, dan perencanaan produksi yang baik.

Pada akhirnya, persoalannya bukan lagi sekadar harga buah. Ini adalah pertanyaan tentang arah sistem pangan nasional: apakah kita hanya ingin memastikan barang tersedia di rak toko, atau juga membangun sistem yang menyejahterakan petani, mengurangi kehilangan hasil panen, dan membuat pangan bergizi terjangkau bagi masyarakat?

Kekayaan buah tropis tidak akan berarti banyak jika petaninya kesulitan menjual hasil panen dan konsumennya kesulitan membeli. Sistem pangan yang sehat bukan hanya sistem yang mampu mendatangkan buah dari mana saja, melainkan sistem yang sanggup menghubungkan kekayaan alam, kesejahteraan produsen, dan kebutuhan gizi masyarakat secara berkelanjutan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda