Kolom
Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!
Kata matcha di menu kafe sekarang jadi menu paling digandrungi di kalangan kaum muda. Warnanya hijau, tampilannya estetik, dan namanya terasa lebih sehat daripada minuman manis biasa. Setelah memesan segelas matcha latte, kita bisa merasa sudah membuat pilihan yang lebih baik untuk tubuh, meski sebenarnya belum tahu berapa banyak gula yang ada ke dalam gelas itu.
Matcha memang punya kandungan antioksidan. Namun, ketika bubuk teh hijau dicampur susu kental manis, sirup, krimer, atau gula tambahan, yang kita konsumsi bukan lagi sekadar teh hijau. Tren matcha memperlihatkan satu kebiasaan yang menarik kita semakin pandai memilih makanan berdasarkan citra sehatnya, tetapi belum tentu memahami kandungan yang sebenarnya kita minum.
Matcha Jadi Gaya Hidup Sehat, Bukan Sekadar Minuman
Matcha sedang naik daun dan popularitasnya dijadikan jadi menu wajib sebagai sohib nongkrong dan gaya hidup anak muda. Segelas matcha latte bisa menjadi teman mengerjakan tugas, konten media sosial, atau reward kecil setelah melewati hari yang melelahkan.
Pilihan itu sebenarnya wajar. Kita berhak menikmati minuman yang enak, apalagi kalau rasanya cocok dengan selera. Persoalannya muncul ketika label sehat membuat kita merasa tidak perlu memeriksa apa yang ada di dalamnya.
Matcha sebenarnya baik karena berasal dari teh hijau yang mengandung katekin, termasuk epigallocatechin gallate atau EGCG. Senyawa ini memiliki aktivitas antioksidan yang diteliti dalam berbagai studi kesehatan.
Menurut tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Molecules pada 2021, matcha mengandung senyawa bioaktif seperti katekin, kafein, dan L-theanine. Kandungan tersebut menjadi dasar penelitian mengenai potensi manfaat matcha bagi kesehatan, meskipun bukti manfaat klinisnya masih perlu dikembangkan.
Masalahnya, reputasi bahan utama tidak otomatis berlaku untuk seluruh produk yang mengandungnya. Matcha tanpa tambahan gula tentu berbeda dari matcha latte yang diberi sirup, susu kental manis, dan topping manis.
Kita bisa saja membeli minuman dengan bahan yang punya manfaat, tetapi mengabaikan komposisi lain yang ikut masuk ke tubuh. Nama matcha akhirnya dijual sebagai label premium yang membuat minuman terasa lebih sehat sebelum kita benar-benar mengetahui kandungannya.
Antioksidan Ada, Gula Tambahan Juga Ada
Coba perhatikan kebiasaan memesan matcha di kafe. Ada yang memilih tingkat kemanisan normal karena menganggap rasa pahit matcha sudah cukup menyeimbangkan manisnya susu. Ada pula yang menambahkan boba, krim, atau sirup agar rasanya lebih nikmat.
Padahal, rasa pahit dari teh hijau tidak bisa dijadikan ukuran bahwa minuman tersebut rendah gula. Begitu pula warna hijau yang terlihat alami tidak menjamin kandungan gulanya sedikit.
Laporan Centre for Food Safety Hong Kong mengenai kandungan gula minuman berbasis teh menemukan bahwa matcha latte reguler yang diteliti mengandung rata-rata 5 gram gula per 100 gram minuman, sedangkan versi tanpa tambahan gula rata-rata mengandung 2,9 gram. Jumlahnya berbeda-beda antarproduk, tetapi temuan ini memperlihatkan bahwa tambahan gula dapat membuat kandungan gula matcha latte meningkat cukup besar.
Angka tersebut bukan hasil pengujian seluruh matcha latte di Indonesia. Namun, hasilnya cukup untuk menunjukkan bahwa minuman berbahan teh hijau pun bisa menjadi sumber gula tambahan, tergantung cara pembuatannya.
Menurut Kementerian Kesehatan RI, batas konsumsi gula yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah maksimal 50 gram atau setara empat sendok makan per hari [3]. Batas ini berlaku untuk konsumsi gula dari berbagai makanan dan minuman, bukan hanya dari satu gelas matcha.
Kalau kita memesan matcha dengan tambahan gula, lalu masih mengonsumsi kopi susu, minuman kemasan, atau camilan manis pada hari yang sama, total gula yang masuk bisa bertambah tanpa terasa. Apalagi jika kita menganggap matcha sebagai minuman sehat yang aman dikonsumsi setiap hari.
Yang perlu dikritik bukan matchanya, melainkan cara kita memahami kata sehat. Kita terlalu mudah menghubungkan satu bahan yang punya manfaat dengan keseluruhan produk, seolah kandungan lain di dalamnya tidak lagi penting.
Sehat Bukan Soal Warna, tetapi Soal Komposisi
Tren matcha sebenarnya bisa menjadi pintu masuk untuk membangun kebiasaan konsumsi yang lebih sehat. Sayangnya, industri minuman punya kepentingan untuk membuat produknya terlihat menarik, sementara konsumen sering kali hanya melihat nama, warna, dan klaim yang ditampilkan di menu.
Ketika sebuah minuman disebut sehat, kita cenderung merasa lebih tenang saat membelinya. Label tersebut bahkan bisa menjadi pembenaran untuk membeli minuman manis lebih sering. Kita merasa sedang merawat tubuh, padahal bisa jadi hanya sedang mencari alasan yang terdengar lebih baik untuk menikmati gula.
Pola ini tidak terbatas pada matcha. Minuman dengan label alami, rendah lemak, atau berbahan buah juga bisa membuat konsumen terlalu percaya pada citra produk. Padahal, kandungan gula, ukuran porsi, dan bahan tambahan tetap perlu diperhatikan.
Kementerian Kesehatan sudah menerbitkan aturan pencantuman label gizi Nutri-Level pada pangan siap saji, termasuk minuman berpemanis. Sistem ini mengelompokkan kandungan gula, garam, dan lemak ke dalam kategori tertentu agar konsumen lebih mudah membandingkan produk [4]. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa informasi komposisi bukan sekadar urusan orang yang sedang diet, melainkan bagian penting dari perlindungan konsumen.
Kafe juga perlu lebih terbuka mengenai kandungan gula dalam minumannya. Informasi tingkat kemanisan memang membantu, tetapi akan lebih berguna jika konsumen bisa mengetahui jumlah gula dalam satu porsi. Sementara itu, kita bisa mulai dengan memilih matcha tanpa tambahan gula atau meminta tingkat kemanisan yang lebih rendah.
Bukan berarti kita harus berhenti menikmati matcha. Minuman manis tetap boleh menjadi bagian dari keseharian selama konsumsinya tidak berlebihan. Yang perlu diubah adalah cara kita mengambil keputusan saat membeli sesuatu yang mengaku sehat.
Matcha boleh menjadi tren, tetapi tubuh kita bukan tempat untuk menguji klaim pemasaran. Kita tidak perlu merasa bersalah saat memesan minuman favorit, tetapi juga tidak perlu menganggapnya sehat hanya karena berwarna hijau.
Sehat bukan soal seberapa meyakinkan sebuah minuman terlihat di foto, melainkan seberapa sadar kita memilih apa yang masuk ke tubuh.