Kolom

Pajak Pembalut vs Kondom: Menakar Keadilan Transaksi Kesehatan Perempuan

Pajak Pembalut vs Kondom: Menakar Keadilan Transaksi Kesehatan Perempuan
ilustrasi pajak untuk pembalut (Pexels/kaboompics.com)

Bayangkan sebuah situasi belanja bulanan yang biasa terjadi di kasir. Konsumen membeli sekotak alat kontrasepsi seperti kondom, dan saat struk dicetak, produk tersebut dikategorikan sebagai barang esensial kesehatan yang dibebaskan dari pungutan PPN.

Namun, tepat di sebelahnya, ada perempuan yang membeli beberapa bungkus pembalut untuk siklus menstruasi bulanannya harus pasrah melihat harga totalnya membengkak karena dibebani pajak.

Perbandingan mencolok di meja kasir ini bukan sekadar urusan selisih nominal uang receh. Ini adalah visualisasi riil dari sebuah ironi kebijakan fiskal yang timpang. Ketika produk aktivitas seksual dibebaskan dari pajak, mengapa kebutuhan biologis mutlak yang tidak bisa dinegosiasi tubuh perempuan justru dikenai pajak?

Kita harus berani menelanjangi realitas ini secara kritis: kebijakan pajak di negara ini sedang memelihara bias gender yang nyata, mengubah darah biologis menjadi beban finansial yang diskriminatif.

Standar Ganda: Kebutuhan Mutlak vs Pilihan Rekreasional

Kritik dari komparasi ini terletak pada kegagalan perumus kebijakan dalam membedakan esensi fungsi produk kesehatan. Penggunaan alat kontrasepsi seperti kondom adalah lifestyle choice untuk merencanakan kehamilan atau mencegah penyakit menular seksual dan sifatnya preventif-opsional.

Sebaliknya, menstruasi bagi perempuan bukanlah sebuah pilihan gaya hidup yang bisa ditunda, dibatalkan, atau dipilih untuk tidak dialami. Ini adalah siklus biologis alami yang terjadi di luar kendali kesadaran pada tubuh setiap perempuan usia produktif.

Mengenakan pembalut atau produk sanitasi sejenis merupakan kebutuhan mutlak demi menjaga higienitas dasar manusia dan kelangsungan kesehatan reproduksi. Pajak pada pembalut adalah bentuk kegagalan empati fiskal atas kondisi biologis bawaan perempuan.

Impitan Period Poverty di Tengah Mencekiknya Pajak Baru

Dampak dari bias gender dalam kebijakan pajak ini tidak boleh diremehkan karena berbenturan langsung dengan realitas penurunan daya beli masyarakat kelas bawah dan pekerja muda. Ketika harga barang-barang kebutuhan pokok meroket akibat inflasi pangan dan penyesuaian PPN, pengeluaran untuk pembalut menjadi beban bulanan yang kian mencekik.

Fenomena ini memperparah krisis period poverty—sebuah kondisi di mana perempuan dari kelas ekonomi rentan tidak mampu membeli produk sanitasi yang layak dan higienis. Kebijakan pajak yang bias gender ini secara tidak langsung mengorbankan hak kesehatan reproduksi dasar perempuan demi mengejar target penerimaan kas negara.

Mendesak Reformasi Fiskal yang Responsif Gender

Menyelesaikan ketimpangan ini menuntut reformasi struktural yang berani dari Kementerian Keuangan dan pengambil kebijakan fiskal nasional. Kebijakan perpajakan modern tidak boleh dirancang buta gender, tapi harus responsif terhadap realitas biologis masyarakat.

Pembalut wanita dan seluruh produk sanitasi menstruasi harus segera direklasifikasi secara hukum. Posisinya wajib disejajarkan dengan obat-obatan esensial dan alat kesehatan vital yang mendapatkan fasilitas PPN 0% atau dibebaskan sepenuhnya dari pajak.

Banyak negara maju dan berkembang di dunia telah menghapus pajak menstruasi ini karena menyadari bahwa mengenakan pajak pada pembalut sama saja dengan mengenakan pajak pada identitas gender perempuan itu sendiri.

Langkah pembebasan pajak ini akan menjadi bukti nyata kalau negara mampu hadir untuk meringankan beban ekonomi domestik, sekaligus merawat martabat kesehatan reproduksi kaum perempuan secara inklusif.

Keadilan Dimulai dari Kebutuhan Dasar

Pada akhirnya, keadilan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari seberapa besar angka pertumbuhan ekonomi makro di atas kertas, melainkan seberapa adil negara memperlakukan kebutuhan biologis warganya tanpa sekat diskriminasi.

Menjaga martabat perempuan berarti berani membongkar dan merombak regulasi fiskal yang timpang. Menghapus pajak pembalut adalah langkah kemanusiaan darurat yang mendesak, sebuah pernyataan tegas bahwa darah menstruasi tidak boleh lagi dijadikan komoditas pelapis kas negara.

Mari suarakan keadilan gender-ekonomi ini dengan percaya diri, karena perlindungan hak kesehatan terbaik bagi perempuan dimulai ketika negara berhenti memeras kebutuhan biologis mereka demi mengejar profit anggaran semata.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda