Kolom
Tren Soft Life dan Isu Mental Health: Bisakah Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya?
Di era di mana lini masa media sosial dipenuhi video estetis perempuan yang bangun tidur tanpa alarm, menyeduh kopi di cangkir keramik mahal, dan melakukan perawatan diri di spa mewah tengah pekan, istilah "Soft Life" menjelma menjadi kiblat baru.
Konsep yang awalnya lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap hustle culture dan glorifikasi kelelahan ini menawarkan premis yang sangat menggiurkan: hidup yang minim stres, lambat, penuh kenyamanan, dan bebas dari perjuangan keras.
Namun, ketika layar ponsel dimatikan, kita langsung dihadapkan pada realitas yang menampar. Harga bahan pokok melonjak, tarif sewa tempat tinggal meroket, hingga inflasi yang terus menggerogoti daya beli masyarakat.
Di titik inilah kontradiksi tajam muncul. Bagaimana mungkin seseorang bisa menjalani hidup yang "lembut" dan tenang, jika untuk bertahan hidup saja masih harus membanting tulang setiap hari?
Kesenjangan Antara Estetika Media Sosial dan Realitas
Tidak dimungkiri kalau branding tren soft life di media sosial mulai menjadi masalah. Soft life bukan lagi sekadar tentang ketenangan pikiran, melainkan sebuah komoditas visual yang bertumpu pada estetika tertentu.
Pakaian berbahan linen, apartemen minimalis dengan pencahayaan alami, hingga produk perawatan kulit premium yang kesannya sederhana tapi tanpa sadar memicu lonjakan biaya tak terduga. Bagi mayoritas perempuan level pekerja, estetika ini adalah kemewahan yang sulit digapai.
Realitas sehari-hari mereka jauh dari kata lembut. Berdesakan di transportasi umum demi mengejar jam kantor, menghitung pengeluaran bulanan dengan cemas, dan mengorbankan waktu istirahat demi upah lembur.
Sayangnya, media sosial menciptakan ilusi bahwa ketenangan hidup bisa dibeli. Padahal bagi yang berpenghasilan pas-pasan, mencoba mengejar standar estetika tersebut justru menjadi sumber stres baru.
Tekanan Ekonomi vs Hasrat Menjaga Kesehatan Mental
Secara psikologis, popularitas tren ini mencerminkan kelelahan mental massal. Generasi muda, khususnya perempuan, merasa lelah dengan tuntutan korporasi dan ketidakpastian ekonomi global hingga mendambakan ruang untuk bernapas.
Soft life hadir sebagai oase bagi kesehatan mental yang mulai rapuh. Namun, ada benturan keras antara kebutuhan menjaga kesehatan mental dan kebutuhan finansial. Uang mungkin tidak bisa membeli kebahagiaan sejati, tapi bisa membeli keamanan.
Tanpa jaring pengaman finansial, pilihan untuk "mundur sejenak dari kompetisi hidup" menjadi kemewahan yang berisiko. Ketika tagihan datang, prinsip soft life yang menolak stres sering kali harus tunduk pada keharusan membayar utang dan mencukupi kebutuhan dasar.
Beban Ganda dan Ekspektasi Terhadap Perempuan
Tantangan ini menjadi jauh lebih kompleks jika dilihat dari sudut pandang gender. Perempuan modern hari ini memikul ekspektasi yang tumpang tindih. Beban ganda yang membayangi hidup perempuan masih menjadi ‘tradisi’ sosial era modern.
Di satu sisi, didorong untuk mandiri secara finansial, mengejar karier yang setara dengan laki-laki, dan berkontribusi pada ekonomi keluarga. Di sisi lain, konstruksi sosial domestik tradisional—seperti mengurus rumah tangga dan menjadi pengasuh utama—tetap melekat erat pada perempuan.
Dan sayangnya, tren soft life menambah lapisan ekspektasi baru yang paradoks. Perempuan dituntut untuk sukses bekerja sekaligus lihai mengurus rumah, tapi tetap harus terlihat tenang, cantik, dan tidak stres.
Ini adalah jebakan baru ekspektasi sosial era modern. Alih-alih membebaskan, soft life justru memicu rasa bersalah bagi perempuan yang tidak memiliki waktu atau uang untuk memanjakan diri.
Meredefinisi Ketenangan: Hidup "Cukup" Tanpa Harus Kaya
Jika soft life diartikan sebagai gaya hidup mewah yang santai, maka tren ini hanya akan menjadi milik segelintir orang kaya. Oleh karena itu, kita perlu meredefinisi ulang konsep ini agar lebih membumi dan inklusif.
Hidup tenang tanpa harus kaya bukanlah hal yang mustahil, asalkan kita berani melepaskan diri dari standar estetika kapitalistik. Ketenangan sejati bukan tentang apa yang kita konsumsi, melainkan tentang batasan yang kita tetapkan.
Kita bisa mempraktikkan soft life versi nyata dengan cara menolak lembur yang tidak dibayar demi menjaga kewarasan, mematikan notifikasi pekerjaan saat akhir peka, menikmati momen santai yang sederhana, hingga menurunkan ekspektasi untuk menjadi sempurna dalam segala hal.
Soft life yang realistis di tengah tingginya biaya hidup adalah tentang seni mengelola energi dan berdamai dengan konsep "cukup". Tidak perlu kaya raya untuk bisa tidur nyenyak, kita hanya perlu berhenti membandingkan realitas hidup dengan kurasi estetika hidup di media sosial.