Kolom

Strategi Politik Kebisingan: Mengapa Isu Sengaja Dibiarkan Tumpang Tindih?

Strategi Politik Kebisingan: Mengapa Isu Sengaja Dibiarkan Tumpang Tindih?
Strategi politik kebisingan meredam kritik bukan dengan jawaban transparan (magnific)

Pernahkah kamu merasa lelah saat mengikuti perkembangan berita belakangan ini? Rasanya baru kemarin publik dibuat gusar oleh angka kemiskinan yang mendadak turun karena kriteria desilnya diubah, atau saat dibuat pusing oleh aturan pajak yang makin mencekik rakyat kecil.

Namun, belum sempat masalah itu mendapat jawaban, esok harinya lini massa sudah dibanjiri oleh skandal baru yang tidak kalah heboh. Belum selesai kita mengawal isu korupsi, misalnya, fokus kita sudah dipaksa berpindah ke panggung pertunjukan berikutnya.

Pola bertumpuknya masalah ini terasa terlalu rapi untuk disebut sekadar kebetulan. Ketika ada bencana alam atau aksi protes dari rakyat, bukannya akar masalah yang diselesaikan, yang terjadi sering kali adalah takedown berita atau pengerahan para artis atau influencer untuk membuat narasi tandingan di media sosial.

Hal ini berujung pada masalah lama tidak pernah benar-benar selesai. Masalah hanya ditutup oleh masalah baru yang dibuat lebih bising, hingga publik kehabisan energi dan bingung harus menuntut yang mana terlebih dahulu.

Fenomena ini bukanlah dampak alami dari cepatnya arus informasi digital semata, melainkan sebuah pola komunikasi yang sistematis. Realita tersebut sangat menarik untuk dibedah lebih dalam melalui kacamata strategi politik kebisingan.

Ketika Kebijakan Disetir oleh Tim Kehumasan

Idealnya, sebuah masalah diselesaikan dengan memperbaiki akarnya. Namun, bagi penguasa, jalan pintas jauh lebih menarik. Alih-alih merombak kebijakan yang berantakan atau membereskan kerugian negara, mereka memilih mengandalkan manajemen citra. Mengubah kriteria statistik atau meredam gejolak di lapangan jauh lebih murah daripada memperbaiki sistem yang rusak.

Akibatnya, negara jadi kelihatan seperti kantor public relations yang kerjanya cuma merias citra. Saat terpojok karena ada skandal besar, mereka tidak mau repot-repot memberikan penjelasan jujur, tapi justru melempar isu baru yang lebih seru agar perhatian masyarakat langsung berpindah.

Skenario ini dirancang sedemikian rupa agar masyarakat sibuk memperdebatkan hal-hal sekunder. Masalah utama yang menyangkut hajat hidup orang banyak sengaja dibiarkan mengendap, menunggu waktu sampai publik benar-benar lupa.

Menjebak Publik dalam Kelelahan Mental

Strategi tumpang tindih isu ini sebenarnya memanfaatkan kelemahan psikologis kita, yakni kelelahan mental atau outrage fatigue. Ketika masyarakat terus-menerus disuguhi kemarahan setiap hari tanpa ada kejelasan ujungnya, kapasitas emosional manusia pasti akan ambruk.

Dampaknya sangat berbahaya. Daya kritis publik perlahan-lahan tumpul dan berubah menjadi sikap apatis. Akhirnya, kritik tajam di media sosial kerap menyusut sekadar menjadi bahan tertawaan atau lelucon satir.

Ironisnya, rasa lelah inilah yang paling dinantikan oleh pemegang kekuasaan. Masyarakat yang kehabisan tenaga tidak akan mampu lagi mengawal kebijakan ngawur. Tanpa pengawasan yang ketat, aturan-aturan yang mencekik rakyat bisa disahkan dengan mulus tanpa hambatan berarti.

Menolak Lupa di Tengah Badai Distraksi

Lantas, bagaimana cara kita melawan strategi pengalihan ini? Caranya adalah jangan biarkan daya ingat kolektif kita diredam oleh kepalsuan yang berulang. Kita harus mulai selektif memilih mana informasi yang benar-benar substansial dan mana yang sekadar kebisingan buatan.

Jika ada isu besar yang mendadak tenggelam karena tertutup oleh drama baru yang tiba-tiba viral, tugas kitalah untuk menyuarakannya kembali. Jangan mudah terseret arus kemarahan instan yang sengaja diumpankan untuk memecah konsentrasi.

Selama kita masih gampang diatur oleh emosi sesaat akibat skandal buatan, mereka bisa terus merampas hak-hak kita tanpa rasa bersalah. Kekuasaan yang berdiri di atas kepalsuan hanya bisa diruntuhkan jika kita menolak lupa dan terus mengawal isu utama sampai tuntas.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda