Kolom

Terkenal Tanpa Karya: Ketika Sensasi Lebih Laku daripada Prestasi

Terkenal Tanpa Karya: Ketika Sensasi Lebih Laku daripada Prestasi
Ilustrasi Orang Kaya (Unsplash/@lancereis)

Di era media sosial dan industri hiburan modern, seseorang tidak lagi harus memiliki karya luar biasa untuk menjadi terkenal. Cukup tampil kontroversial, membangun citra menarik, menjalin hubungan dengan figur populer, atau terus-menerus hadir di ruang digital, seseorang dapat memperoleh jutaan pengikut dan menjadi perbincangan publik. Fenomena ini dikenal sebagai famous for being famous, yakni kondisi ketika popularitas seseorang menjadi alasan utama dirinya tetap relevan, bukan prestasi, keahlian, atau kontribusi yang dihasilkan.

Namun, persoalan yang lebih menarik bukan sekadar bagaimana seseorang menjadi terkenal tanpa karya yang menonjol, melainkan bagaimana masyarakat ikut membangun, mempertahankan, dan melegitimasi popularitas tersebut. Selebritas tidak lahir dalam ruang hampa. Mereka memperoleh perhatian karena ada audiens yang menonton, mengikuti, membicarakan, mengagumi, bahkan mengkritik setiap gerak-geriknya. Popularitas adalah hasil interaksi sosial yang melibatkan figur publik, media, industri hiburan, dan masyarakat.

Di sinilah muncul paradoks budaya selebritas. Sebagian figur publik menikmati perhatian masyarakat ketika popularitas mendatangkan keuntungan, tetapi menunjukkan sikap berbeda ketika perhatian itu berubah menjadi kritik. Mereka membutuhkan publik untuk mempertahankan eksistensi, tetapi terkadang memperlakukan audiens seolah-olah berada di posisi yang lebih rendah. Padahal, tanpa perhatian publik, status selebritas kehilangan sebagian besar nilai ekonominya.

Fenomena tersebut tidak dapat dilepaskan dari industri ekonomi perhatian (attention economy). Dalam sistem ini, perhatian manusia menjadi komoditas yang dapat dikonversi menjadi uang, pengaruh, dan kekuasaan simbolik. Jumlah pengikut, penayangan, komentar, serta tingkat keterlibatan audiens menjadi aset yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh kontrak iklan, kerja sama komersial, hingga peluang bisnis. Popularitas bukan lagi sekadar pengakuan sosial, melainkan modal ekonomi.

Akibatnya, batas antara prestasi dan keterkenalan semakin kabur. Seseorang dapat menjadi figur berpengaruh bukan karena memiliki keahlian yang terbukti, melainkan karena mampu mempertahankan visibilitas. Bahkan, kontroversi dan konflik dapat menjadi strategi untuk menjaga perhatian. Selama namanya terus dibicarakan, popularitasnya berpotensi menghasilkan keuntungan.

Namun, tanggung jawab atas fenomena ini tidak sepenuhnya berada di tangan selebritas. Masyarakat juga memiliki peran dalam menentukan siapa yang diberi panggung dan jenis perilaku apa yang memperoleh perhatian. Ketertarikan berlebihan terhadap kehidupan pribadi figur publik, kebiasaan menyebarkan kontroversi, dan dorongan untuk terus mengikuti drama selebritas ikut memperkuat industri yang mengubah kehidupan pribadi menjadi tontonan.

Di sisi lain, fenomena ini juga perlu dibaca secara kritis melalui konsep inferioritas sosial. Ketika masyarakat terlalu mengagungkan kekayaan, penampilan, gaya hidup mewah, atau kedekatan dengan figur terkenal, popularitas dapat menjadi ukuran status yang tidak proporsional. Sebagian orang mungkin menganggap kehidupan selebritas sebagai gambaran ideal kesuksesan, meskipun keterkenalan tidak selalu berkaitan dengan kemampuan, integritas, atau kontribusi sosial. Akan tetapi, tidak tepat jika seluruh ketertarikan publik disederhanakan sebagai kompleks inferioritas. Hiburan, rasa ingin tahu, identifikasi sosial, dan kebutuhan akan hiburan juga merupakan alasan yang sah.

Meski demikian, satu hal tetap penting: ketenaran tidak memberikan seseorang kedudukan moral yang lebih tinggi. Memiliki jutaan pengikut tidak otomatis membuat pendapat seseorang lebih benar, lebih bijaksana, atau lebih layak dijadikan pedoman. Figur publik tentu memiliki hak untuk menyampaikan kritik terhadap masyarakat. Namun, kritik tersebut kehilangan wibawa apabila disampaikan dengan sikap merendahkan audiens yang selama ini menjadi sumber popularitasnya.

Pada akhirnya, selebritas dan masyarakat terikat dalam hubungan timbal balik. Publik memberikan perhatian, sementara figur publik memperoleh visibilitas dan keuntungan darinya. Hubungan ini tidak menjadikan selebritas wajib menyetujui semua keinginan penggemarnya, tetapi menuntut kesadaran bahwa popularitas tidak pernah sepenuhnya merupakan pencapaian individual.

Mungkin sudah saatnya masyarakat berhenti mengukur nilai seseorang berdasarkan seberapa sering wajahnya muncul di layar. Sebab, ketika keterkenalan dianggap sebagai prestasi tertinggi, kita bukan hanya menciptakan selebritas tanpa substansi, tetapi juga membangun budaya yang lebih menghargai perhatian daripada kontribusi.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda