Kolom

Begadang Demi Me Time: Hati-hati Jeda Palsu Revenge Bedtime Procrastination

Begadang Demi Me Time: Hati-hati Jeda Palsu Revenge Bedtime Procrastination
ilustrasi scolling media sosial (Pexels/Ron Lach)

Awalnya berniat tidur jam 10 malam, akhirnya baru memejamkan mata lewat tengah malam karena terlalu asyik scrolling media sosial. Padahal, besok pagi harus kembali beraktivitas, tapi rasanya sayang jika waktu malam dilewatkan begitu saja tanpa menikmati hiburan.

Setelah seharian sekolah, kuliah, bekerja, mengerjakan tugas, atau memenuhi berbagai tuntutan, malam sering dianggap sebagai satu-satunya waktu yang benar-benar menjadi milik sendiri. Kita nonton serial atau unggahan medsos, main gim, hingga sekadar rebahan tanpa diganggu siapa pun.

Kebiasaan ini dikenal dengan istilah revenge bedtime procrastination. Sederhananya, seseorang sengaja menunda waktu tidur demi mendapatkan waktu luang yang tidak sempat dinikmati sepanjang hari.

Sekilas terdengar seperti bentuk me time. Namun, benarkah mengorbankan waktu tidur bisa membuat kita lebih bahagia? Jangan-jangan, yang kita anggap sebagai jeda justru menjadi sumber kelelahan baru.

Malam Hari Terasa Seperti Waktu untuk Merebut Kendali

Ada alasan mengapa kita sulit melepaskan ponsel saat malam tiba. Sepanjang hari, waktu seolah sudah diatur oleh berbagai kewajiban. Jadwal sekolah, pekerjaan, tugas, urusan keluarga, hingga tuntutan sosial membuat ruang pribadi semakin sempit.

Saat malam datang, muncul keinginan untuk mengambil kembali kendali atas waktu sendiri. Tidak ada tugas yang harus segera diselesaikan atau pesan pekerjaan yang perlu dibalas. Kita merasa akhirnya bisa melakukan sesuatu hanya karena menginginkannya.

Sayangnya, keinginan menikmati waktu pribadi sering berubah menjadi kebiasaan menunda tidur. Niatnya cuma nonton satu video, tapi algoritma terus menyajikan konten berikutnya. Tahu-tahu, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.

Revenge Bedtime Procrastination, Me-Time yang Berujung Lelah

Masalahnya, tubuh tetap membutuhkan waktu istirahat meski pikiran masih ingin mencari hiburan. Kalau waktu tidur terus dikurangi, dampaknya bisa terasa pada hari berikutnya: lebih sulit berkonsentrasi, mudah merasa lelah, hingga perubahan suasana hati.

Ironisnya, kita menunda tidur karena ingin merasa lebih bahagia setelah menjalani hari yang melelahkan. Namun, keputusan tersebut justru berpotensi membuat esok hari semakin tidak nyaman, bahkan lebih berat dari biasanya.

Inilah yang membuat revenge bedtime procrastination menjadi semacam jeda palsu. Kita merasa sedang memberikan hadiah pada diri sendiri, padahal sebenarnya sedang mengambil waktu pemulihan yang dibutuhkan tubuh.

Bukan Sekadar Kurang Disiplin, tapi Ada Masalah dalam Rutinitas

Menariknya, fenomena ini tidak selalu tepat jika dianggap sebagai persoalan malas atau kurang disiplin. Ada kondisi yang membuat seseorang sulit mendapatkan waktu pribadi pada siang hari.

Budaya selalu produktif, jadwal yang padat, tuntutan untuk selalu responsif, hingga kebiasaan membawa pekerjaan ke rumah membuat batas antara waktu bekerja dan waktu beristirahat semakin kabur.

Media sosial juga ikut memperpanjang masalah. Konten hiburan tersedia tanpa batas, sementara fitur putar otomatis dan rekomendasi personal membuat kita mudah kehilangan kendali atas waktu.

Karena itu, menyalahkan individu saja tidak cukup. Kita juga perlu mempertanyakan mengapa waktu istirahat dan ruang pribadi seolah menjadi sesuatu yang hanya bisa dinikmati setelah semua kewajiban selesai.

Mengembalikan Me Time Tanpa Mengorbankan Waktu Tidur

Lantas, bagaimana cara menikmati waktu sendiri tanpa harus begadang? Buat ruang me time sebelum terlalu malam. Sisihkan waktu singkat setelah menyelesaikan aktivitas utama agar kebutuhan hiburan tidak selalu menumpuk menjelang tidur.

Imbangi dengan membatasi waktu bermain ponsel. Hindari kebiasaan membuka media sosial tanpa tujuan, terutama saat sudah mendekati jadwal tidur. Ganti dengan aktivitas yang benar-benar menyenangkan, seperti membaca, mendengarkan musik, atau sekadar menikmati waktu tenang.

Me Time Seharusnya Bikin Pulih, Bukan Makin Lelah

Revenge bedtime procrastination memperlihatkan dilema anak muda dalam membagi waktu antara kewajiban dan kebutuhan pribadi. Kita ingin produktif, tapi juga ingin menikmati hidup dengan membangun kebiasaan me time.

Sayangnya, keinginan mendapatkan waktu tambahan sering dibayar dengan mengurangi waktu tidur. Padahal, istirahat bukan hadiah yang hanya boleh dinikmati setelah semua pekerjaan selesai. Tidur merupakan kebutuhan, bukan bentuk kemalasan.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti menganggap begadang sebagai satu-satunya cara mendapatkan kebebasan. Sebab, me-time yang sesungguhnya bukan tentang berapa lama kita bisa terjaga di malam hari.

Justru me time yang sejati itu tentang bagaimana kita memberikan ruang bagi diri sendiri untuk kembali merasa utuh. Jangan sampai keinginan menikmati malam justru membuat kita kehilangan energi untuk menjalani hari esok.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda