Lifestyle
Berhenti Lakukan 3 Hal Ini saat Anak sedang Menangis
Menangis memang jadi salah satu bentuk komunikasi anak terhadap orangtuanya. Bayi, batita, balita, hingga anak-anak tentu sering menangis untuk mencurahkan isi hatinya. Menangis juga bentuk dari perkembangan emosi seorang anak, loh. Meskipun begitu, terkadang, sebagai orang tua kita merasa tidak siap dengan tangisan anak, dan malah memarahinya!
Tahukah kamu jika itu kesalahan orang tua yang sebaiknya berhenti dilakukan? Lantas, hal apa aja sih yang seharusnya tidak dilakukan orang tua saat anaknya menangis? Yuk, simak selengkapnya!
1. Menyuruhnya berhenti menangis
Menyuruhnya untuk berhenti menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Justru, orang tua gagal mengajarkan anak untuk memvalidasi perasaannya dan membuatnya mengabaikan emosi.
Anak juga memiliki perasaan yang sama dengan kita para orang dewasa. Hanya saja, bedanya orang dewasa paham situasi dan bisa menahan gejolak emosi yang muncul.
Orang dewasa malu untuk menangis di sembarang tempat, sementara, anak kecil belum mengerti rasa malu. Yang ia tahu, adalah dirinya sedang kesal, marah, atau sedih, dan perasaan itu harus dicurahkan.
Kebanyakan komunikasi anak kepada orang tuanya adalah dengan menangis. Maka dari itu, penting sekali orang tua untuk memvalidasi perasaan anak. Validasi perasaan sedih, marah, kesal, dan bahagia anak saat ia menunjukkan gelagat gejolak emosi.
2. Menakuti-nakuti anak dengan hal yang tak logis
Pernahkah kamu semasa kecil ditakut-takuti akan sesuatu yang tidak logis agar berhenti menangis? Jika pernah, kamu pasti paham rasanya tidak enak berada di posisi itu. Orang tua jaman dulu kebanyakan mengambil jalan pintas dengan menakut-nakuti anak akan hal seperti ada setan, ada polisi, atau nanti disuntik dokter kalau tidak mau berhenti nangis.
Padahal, menakut-nakuti anak seperti ini tidak akan membantunya memahami perasaan dan emosinya, malah membuat mereka memiliki trauma dan rasa takut akan bertemu polisi, dokter, bahkan takut dengan setan yang seharusnya tidak diajarkan seperti itu.
3. Mempermalukan anak dan membandingkannya
Mempermalukan dan membandingkan anak sendiri dengan teman sebayanya disaat mereka sedang menangis tidak akan membuat mereka paham akan maksud dari perbandingan tersebut, melainkan malah akan membuat mereka merasa tidak dihargai dan dipedulikan.
Pada dasarnya, anak memiliki rasa cemburu. Membuat mereka membandingkan diri dengan orang lain akan membuat mereka cemburu dan malah bisa bersikap agresif dengan teman yang dicemburuinya.
Menjadi orang tua tidak sekadar bertanggung jawab akan tumbuh kembang fisiknya saja, melainkan juga perkembangan emosinya. Penting bagi orang tua mempelajari ilmu parenting terkini, karena di balik anak yang bahagia, ada orang tua yang cerdas.