Lifestyle

Kenapa Orang Rela Antre demi AP x Swatch? Fenomena FOMO dan Budaya Luxury

Kenapa Orang Rela Antre demi AP x Swatch? Fenomena FOMO dan Budaya Luxury
Royal Pop merupakan Kolaborasi Swatch dengan Audemars Piguet (swatch.com)

Kolaborasi Swatch dengan Audemars Piguet ramai diperbincangkan di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Di kalangan pencinta horologi, langkah tersebut dinilai menarik karena Audemars Piguet selama ini dikenal sebagai bagian dari “holy trinity” dunia luxury watch bersama Patek Philippe dan Vacheron Constantin.

Dalam dunia jam tangan, istilah “holy trinity” digunakan untuk menyebut tiga brand dengan prestige tinggi dalam desain, sejarah, dan teknik watchmaking. Karena itu, kolaborasi AP dengan Swatch langsung menarik perhatian banyak penggemar jam tangan di berbagai negara.

Antusiasme tersebut terlihat dari antrean panjang di sejumlah gerai Swatch. Di Indonesia, calon pembeli terlihat memadati toko Swatch di Pacific Place, Grand Indonesia, hingga Kota Kasablanka Jakarta demi mendapatkan koleksi AP x Swatch lebih awal.

Koleksi ini hadir lewat lini “Royal Pop” yang terinspirasi dari desain ikonik Royal Oak milik Audemars Piguet. AP x Swatch dirilis dalam delapan varian warna, yakni Otto Rosso, Huit Blanc, Green Eight, Blaue Acht, Lan Ba, Otg Roz, Ocho Negro, dan Orenji Hachi.

Di gerai resmi Swatch Indonesia, model Lépine Style dijual Rp 7.599.000, sedangkan model Savonnette dibanderol Rp 8.199.000. Meski terbilang mahal untuk ukuran produk Swatch, harga tersebut masih jauh lebih rendah dibanding jam tangan utama Audemars Piguet yang bisa mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Nama Audemars Piguet sendiri memang identik dengan dunia luxury watch kelas atas. Salah satu model yang pernah ramai diperbincangkan adalah AP Royal Oak Concept Tourbillon “Michael Schumacher” Formula 1 Edition yang di pasar kolektor internasional dapat dipasarkan di kisaran miliaran rupiah, bahkan beberapa modelnya pernah muncul dengan nilai lebih dari Rp 4 miliar.

Karena itu, banyak orang melihat AP x Swatch sebagai cara “lebih dekat” untuk merasakan prestige dari nama besar AP tanpa harus membeli model utama dengan harga fantastis. Tidak sedikit pembeli yang tertarik bukan hanya karena desainnya, tetapi juga karena identitas dan simbol status yang melekat pada brand tersebut.

Di sisi lain, media sosial ikut memperbesar hype AP x Swatch. Video antrean, unboxing, dan pembahasan koleksi ini terus bermunculan di TikTok dan X, membuat rasa penasaran publik semakin meningkat.

Fenomena tersebut juga memperlihatkan kuatnya budaya fear of missing out atau FOMO di era digital. Banyak orang akhirnya membeli bukan hanya karena membutuhkan jam tangan, tetapi karena tidak ingin tertinggal dari tren yang sedang viral.

Budaya luxury juga mulai mengalami perubahan di era media sosial. Jika dulu barang mewah identik dengan eksklusivitas yang sulit dijangkau, kini banyak brand mencoba menghadirkan versi yang terasa lebih dekat melalui kolaborasi atau produk dengan harga lebih rendah dibanding lini utama mereka.

Pada akhirnya, fenomena AP x Swatch menunjukkan bahwa di era media sosial, yang dijual bukan hanya sebuah produk. Hype, pengalaman ikut antre, budaya FOMO, hingga rasa menjadi bagian dari tren kini menjadi nilai yang sama pentingnya dengan barang itu sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda