Lifestyle

Remime: Menjaga Pantomim Tetap Hidup di Tengah Perubahan Zaman

Remime: Menjaga Pantomim Tetap Hidup di Tengah Perubahan Zaman
Komunitas Pantomim, Remime, di Taman Menteng Jakarta Pusat (dok.pribadi/Chairun Nisa)

Pantomim masih sering disalahpahami sebagai pertunjukan badut atau hiburan tanpa makna. Di tengah semakin banyaknya pilihan hiburan, seni pertunjukan tanpa dialog ini pun kian jarang mendapat ruang.

Kekhawatiran itulah yang mendorong tiga pegiat seni di Jakarta membentuk komunitas Remime, sebagai upaya menghidupkan kembali pantomim agar tidak hilang dari ingatan publik.

Komunitas ini didirikan oleh Muhammad Angga Nurohman bersama Yoga dan Reza. Ketiganya datang dari latar belakang yang berbeda. Angga telah lama berkecimpung di dunia pantomim, sedangkan Yoga dan Reza merupakan pekerja kantoran yang menemukan kembali ketertarikannya pada seni tersebut setelah merasa jenuh dengan rutinitas sehari-hari.

Perbedaan pengalaman itu justru mempertemukan mereka pada tujuan yang sama: membuka ruang agar lebih banyak orang mengenal pantomim, bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai seni pertunjukan yang memiliki teknik, ekspresi, dan proses kreatif yang mendalam.

Nama Remime pun dipilih bukan tanpa alasan. Menurut Angga, nama itu diambil dari kata remind atau "mengingat", sebagai simbol upaya mengingatkan masyarakat bahwa pantomim masih hidup dan layak terus dilestarikan.

"Tujuannya untuk mengingatkan orang-orang kalau pantomim itu masih ada. Kami ingin mengingatkan kembali supaya pantomim itu enggak hilang dari peradaban," ujar Angga di Taman Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/7).

Dalam mengembangkan komunitas ini, Remime tidak berjalan sendiri. Mereka berkolaborasi dengan Casa de Arte, sebuah wadah yang membuka ruang bagi anak-anak maupun masyarakat umum yang ingin belajar seni pertunjukan. Jika Remime lebih berfokus pada pembinaan pegiat pantomim dewasa dan produksi pertunjukan, Casa de Arte menjadi pintu masuk bagi siapa saja yang ingin mengenal pantomim untuk pertama kalinya.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas regenerasi seniman pantomim. Sebab, bagi para pendirinya, menjaga keberlangsungan pantomim tidak cukup dilakukan lewat pertunjukan, tetapi juga dengan menghadirkan ruang belajar yang terbuka bagi generasi baru.

Membuka Ruang Belajar agar Pantomim Tak Berhenti di Panggung

Untuk mengenalkan pantomim ini, Remime sendiri sering kali mengadakan latihan rutin setiap Sabtu pukul 16.00 di Taman Menteng, Jakarta Pusat. Saat ini latihan rutin tersebut masih terbuka untuk umum, sehingga siapapun bisa merasakan pengalaman belajar pantomim.

“Buat siapapun yang mau mengenal pantomim, datang aja ke Taman Menteng. Mumpung masih dibuka untuk umum,” kata salah satu anggota Remime, Bagas Dharmawan.

Meskipun dibuka untuk umum, saat akan melakukan pementasan mereka melakukan seleksi pada orang-orang yang layak untuk dipertunjukkan. Penyeleksian ini berdasarkan dari seberapa rutin mereka datang Latihan.

“Dari kita pribadi, nantinya akan kita lihat anak-anak yang udah sering ke sini. Biasanya nanti kita ajak untuk membuat konsep bareng dan mencoba bikin pertunjukan di beberapa tempat,” kata Bagas.

Latihan yang diberikan juga tak hanya fokus pada teknik dasar pantomim. Mereka diajak untuk mempelajari olah tubuh, ekspresi, hingga cara membangun karakter melalui gerakan. Selain itu, peserta yang ikut pantomim ini diminta untuk melatih kreativitasnya melalui tema-tema yang diberikan.

“Temen-temen juga kita latih buat bikin karya masing-masing. Kita kasih temanya, kasih clue-nya, terus mereka kembangin sendiri,” kata Angga.

Tema yang dibawakan dalam setiap pertunjukan itu sangat beragam. Mereka bisa membawakan tema seperti isu sosial, politik, olahraga, hingga fenomena yang sedang ramai diperbincangkan. Selanjutnya, tema tersebut dibagi menjadi dua bagian, yakni pertunjukan untuk umum dan pertunjukan dengan segmentasi dewasa.

“Kita bikin scope-nya dibikin dua, satu segmentasi dan dua umum. kalau yang segmentasi itu 18 plus, maksudnya ada bahasa-bahasa kasar atau pertunjukan bukan untuk umum. Kalau yang umum sendiri itu yang bisa ditonton banyak orang,” jelas Bagas.

Dalam upaya memperkenalkan pantomim kepada masyarakat, para pegiat seni ini mengakui bahwa tantangan yang sering dihadapi adalah persepsi publik terhadap kesenian pantomim. Hingga saat ini masih banyak orang yang menyamakan pantomim dengan badut atau sekadar hiburan pinggir jalan. Padahal jauh tanpa disadari, pantomim punya nilai seni yang artistik, teknik yang beragam, sekaligus proses kreatif yang panjang.

Meskipun begitu, kesenian pantomim mulai menunjukkan perkembangan ke arah yang positif di Indonesia. Berkat hadirnya cabang pantomim di Festival Lomba Senin dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) ini dapat membuka peluang bagi pelajar untuk menekuni pantomim sekaligus mencetak prestasi melalui kesenian ini.

“Jadi sekarang ada dua golongan yang ikut pantomim. Satu, orang yang pure minat pantomim, sama satu lagi yang ngejar prestasinya aja,” ungkap Bagas.

Bagi Remime sendiri, menjaga kelestarian seni pantomim ini bukan sekadar mempertahankan sebuah kesenian, tetapi juga membuka ruang untuk generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan mengembangkan kesenian tersebut.

Mereka berharap akan semakin banyak masyarakat yang datang untuk mencoba, karena kesenian pantomim merupakan kesenian yang dapat dipelajari oleh siapa saja.

Di sisi lain, Angga berharap untuk pemerintah memberikan perhatian lebih besar terhadap seni pertunjukan, termasuk pantomim.

“Pemerintah tolong dukung seni pertunjukan ini. Coba buat ruang lebih banyak untuk pantomime,” ungkapnya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda