Lifestyle
Mau Jual Makanan yang Lagi Viral? Ini 5 Etika yang Perlu Diterapkan
Di era sekarang, media sosial bisa membuat tren makanan bergerak begitu cepat. Makanan bisa tiba-tiba viral dan diburu masyarakat, terkadang ada yang rela antre panjang hanya demi bisa mencoba makanannya.
Namun, tidak lama kemudian, makanan serupa mulai muncul di mana-mana. Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Ketika sebuah produk terbukti menarik perhatian pasar, tentu banyak orang ingin mengambil peluang. Apalagi jika permintaannya sedang tinggi dan masyarakat penasaran untuk mencobanya.
Lantas, jika kita melihat sebuah produk yang viral, apakah kita boleh ikut menjual makanan yang sama? Jawabannya tidak sesederhana boleh atau tidak boleh.
Dalam bisnis kuliner, mengikuti tren merupakan hal yang wajar. Satu jenis makanan bisa dibuat oleh banyak penjual dengan versi dan ciri khas masing-masing. Yang perlu diperhatikan adalah ada perbedaan antara mengikuti tren dengan menjiplak usaha orang lain.
Membuat makanan yang sedang viral dengan resep dan konsep sendiri tentu berbeda dengan menyalin nama dagang, logo, kemasan, foto produk, slogan, hingga identitas sebuah usaha.
Jika kita melihat makanan tertentu viral, kemudian mencoba membuat versi sendiri dengan bahan, resep, ukuran, harga, nama, dan kemasan yang berbeda, hal tersebut bisa diterima dan disebut mengikuti tren atau mengambil inspirasi.
Sebaliknya, jika kita sengaja membuat produk yang seluruh elemennya dibuat sama, ini menjadi tindakan yang kurang etis karena dianggap menjiplak dan berusaha meraup keuntungan dengan membuat produk yang sama persis.
Oleh sebab itu, sebelum ikut menjual makanan yang sedang viral, lebih-lebih produk tersebut identik dengan satu merek, ada beberapa etika yang sebaiknya diperhatikan. Berikut beberapa hal yang patut kamu perhatikan.
1. Tiru Produknya, Bukan Identitasnya
Kalau tertarik menjual makanan yang sama, buatlah dengan identitas sendiri, seperti nama produk yang dimodifikasi, logo berbeda, dan slogan yang merepresentasikan usahamu. Jangan menggunakan nama, logo, dan slogan milik penjual lain.
2. Gunakan Foto Produk Sendiri
Ini menjadi salah satu hal yang sering dilupakan, terkadang banyak orang nyomot foto produk milik orang lain untuk usahanya. Padahal, foto merupakan identitas dari sebuah merek.
Foto milik penjual lain bukan berarti bebas digunakan hanya karena ditemukan di Instagram, TikTok, atau Google. Jika ingin mempromosikan dagangan, lebih baik memotret produk sendiri.
3. Jangan Mengaku Sebagai Pencipta Pertama
Mengikuti tren tidak perlu dilakukan dengan mengklaim bahwa kitalah yang pertama membuatnya, hal ini juga sering dijadikan sebagai slogan para pengusaha kuliner.
Padahal, jika memang terinspirasi dari tren yang sudah berkembang, kita cukup fokus pada keunggulan versi produk kita sendiri, tidak perlu ada klaim yang justru menjadi boomerang bagi usaha kita.
4. Beri Ciri Khas
Memberi ciri khas pada produk yang kita jual akan menjadi cara terbaik untuk menghindari kesan menjiplak. Bisa melalui rasa, pilihan topping, ukuran, harga, kemasan, nama produk, pelayanan, atau konsep penjualannya.
Ciri khas ini juga bisa menjadi nilai jual, misalnya dubai chewy cookie dari merek A cenderung manis, sedangkan punyamu ada sedikit rasa pahit bagi penyuka coklat pahit.
5. Izin
Jika sebuah konsep memang berasal dari ide atau kreasi milik orang lain dan kita ingin membuat produk sendiri yang terinspirasi darinya, pastikan kita tetap meminta izin.
Ini penting dilakukan sebagai etika berwirausaha dan bentuk menghargai ide orang lain yang akan kita adaptasi. Jika sudah mendapat izin dari pencipta produk maka kita bisa menjual makanan tersebut dengan tenang tanpa takut dicap menjiplak.
Nah, itu tadi beberapa hal yang patut diperhatikan sebelum menjual makanan viral, terutama yang identik dengan seseorang/merek.
Ikut menjual makanan yang sedang viral bukan sesuatu yang buruk. Bagi pelaku UMKM, tren justru bisa menjadi peluang untuk memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas, asal tetap memperhatikan etika.