Lifestyle
Fenomena Overproud Film Hollywood, Mengapa Netizen Indo Haus Validasi Barat
Dulu, jagat media sosial kita sempat riuh gara-gara ada nama Jakarta disebut-sebut dalam serial populer “The Last of Us”, lengkap dengan kemunculan aktris legendaris Christine Hakim yang berperan sebagai ilmuwan. Seketika itu juga, linimasa kita tiba-tiba meledak seolah-olah Indonesia baru saja memborong medali emas di Olimpiade. Padahal, kalau dipikir-pikir, kita ini kan cuma lagi rebahan menonton serial HBO.
Fenomena "udang di balik rempeyek" seperti ini sebenarnya bukan barang baru. Kita punya bakat alami untuk kompak bersorak "Indonesia mendunia!" setiap kali ada kata "Bali", "Jakarta", atau sekilas wajah orang lokal terselip di layar bioskop Hollywood. Refleks nasionalisme kita memang secepat kilat kalau urusan begini. Ada rasa bangga melihat tanah air kita masuk radar global. Ya, tidak ada yang salah dengan rasa bangga, toh itu tanda patriotisme juga.
Namun, kadang-kadang rasa bangga kita ini tipenya kelewat bersemangat, sampai lupa melihat konteksnya secara utuh. Mari kita putar mesin waktu sejenak ke tahun 1991, saat film legendaris “The Silence of the Lambs” tayang. Di salah satu adegan yang mencekam, ada korban penculikan yang memakai baju bertuliskan "Made in Indonesia".
Jika terjebak dalam cara pandang yang keliru, kita mungkin terlanjur begitu saja merayakannya. Padahal, kalau dibedah lewat kajian serius—seperti yang ditulis Herman Felani dalam Jurnal Komunikasi UII—kemunculan label itu sebenarnya bagian dari pola Hollywood yang sering mengaitkan nama kita dengan lanskap kriminalitas. Jadi, alih-alih keren, kita sebetulnya cuma jadi background yang bikin suasana tambah ngeri.
Tentu saja, ini bukan ajakan untuk berhenti menonton film barat. Menikmati nama Indonesia go International tetaplah hal yang membanggakan. Hanya saja, sudah saatnya rasa bangga tersebut dibarengi dengan nalar yang kritis, agar kita paham betul dalam konteks apa nama negara kita sedang dibawa-bawa.
Sebab, tampil di film asing bukanlah sebuah penghargaan jika negara kita hanya dijadikan latar eksotis tempat primata bergelantungan atau sarang pelarian penjahat. Sungguh ironis jika kita girang hanya karena mendengar kata "Indonesia" disebut dalam konteks yang merendahkan seperti itu. Fenomena ini memperlihatkan adanya masalah besar dalam cara kita menilai diri sendiri yang seolah kehilangan rasa percaya diri sebagai sebuah bangsa.
Almarhum Edward Said, seorang pemikir beken, pernah menulis buku babon berjudul “Orientalism” pada 1978. Kalau diterjemahkan secara simpel, Pak Said sebenarnya cuma mau bilang kalau orang Barat itu punya kebiasaan menceritakan dunia Timur seperti kita sebagai "si anu yang aneh". Di mata mereka, kita kerap dikonstruksikan sebagai sosok yang serba eksotis, udik, asing, dan pokoknya setingkat di bawah mereka yang serba modern.
Tentu kita tidak bisa menuduh Hollywood sebagai sebuah persekutuan rahasia yang kompak yang jahat. Namun, yang namanya film tetaplah produk budaya massal. Kalau stereotip itu diputar berulang-ulang, lama-lama penonton sedunia akan mengangguk setuju sambil membatin, "Oh, Indonesia itu begitu, toh?"
Ada juga sejarawan A.A. Phillips memperkenalkan istilah “cultural cringe” untuk menggambarkan penyakit minder kebudayaan—sebuah penyakit di mana kita menganggap apa pun yang berbau asing pasti lebih kolosal nan beken ketimbang buatan kita sendiri.
Menariknya, di tangan netizen kita, fenomena minder ini bermutasi menjadi komedi yang jauh lebih menggemaskan. Warganet kita tidak menuntut standar yang muluk-muluk. Kita tidak butuh dipuji setinggi langit sebagai bangsa yang genius atau beradab. Bagi kita, tidak dipuji pun tak masalah, yang penting sebut saja nama kita, cukup.
Ini tentu menjadi ironis, kita tidak menyadari bagaimana cara mereka memandang kita, dari sudut pandang mana kita digambarkan, serta untuk kepentingan siapa sebenarnya kita dihadirkan. Jangan sampai kita hanya dijadikan pelengkap kosmetik agar cerita mereka terasa eksotis, sementara kita di sini terlanjur merayakannya dengan gegap gempita di depan layar kaca.
Nasionalisme kita mestinya tidak bekerja secara naif. Tentu saja, kita boleh bangga tampil di panggung global film Hollywood tanpa harus menaruh curiga pada setiap baris dialog. Bagaimanapun, tujuan utama kita adalah mencari hiburan saja.
Namun, begitu lampu bioskop menyala dan keriuhan mereda, kita perlu menyadari apakah keberadaan kita di sana benar-benar sedang direpresentasikan secara adil? Jika kenyataannya kita hanya menjadi pelengkap, mungkin sudah saatnya kita pelan-pelan menyembuhkan diri dari ketergantungan akan validasi asing ini, agar rasa bangga kita sebagai bangsa tidak menjadi rapuh dan urakan semata.