Lifestyle

Fenomena Sunday Scaries: Membedah Horor Hari Senin Bagi Para Pekerja

Fenomena Sunday Scaries: Membedah Horor Hari Senin Bagi Para Pekerja
Seorang pekerja konstruksi sedang kelelahan di jalan kota. (Pexels/YWEN ZHU)

Bagi para pekerja, Jumat sore itu layaknya malaikat penyelamat setelah sepekan bekerja. Lima hari berturut-turut hidup bermodalkan mata setengah watt, bahu kaku, dan kopi yang ditenggak serupa obat, mendadak wajah-wajah kusam itu kembali bercahaya. Begitu jarum jam bergeser ke angka empat, dunia rasanya mendadak cerah membahana: Besok Sabtu, besok libur!

Bagi sebagian besar pekerja, kemewahan sejati pasca-kerja adalah rebahan tanpa batas di kasur tempat tinggal. Ruang itu seolah menjadi destinasi wisata premium, dengan ponsel sebagai pemandu setianya. Menikmati seharian penuh tanpa kejaran target rasanya menjadi kenikmatan yang tiada tara.

Sayangnya, paket bahagia ini punya masa kadaluarsa yang terbilang singkat. Ketika Minggu sore datang, pikiran biasanya sudah mulai terusik oleh bayang-bayang realitas: "Besok sudah Senin lagi." Akhir pekan memang terasa begitu singkat, tetapi setidaknya waktu yang sebentar itu selalu sukses memulihkan kewarasan para pekerja untuk kembali menyambung nasib keesokan harinya.

Penyakit "serem" menjelang Senin ini orang-orang biasa menyebutnya Sunday Scaries. Jangan dikira ini cuma sindrom malas biasa yang melanda kaum pemuja rebahan. Hasil riset terbaru dari para ilmuwan di jurnal Frontiers in Psychology membuktikan bahwa urusan cemas, stres, sampai hobi ngelamun mikirin kerjaan di hari Minggu itu nyata adanya, bahkan di level global sekelas pekerja di Belanda sana.

Rupanya, ketakutan menghadapi hari Senin bukan cuma sekadar bahan mengeluh di media sosial saja. Survei LinkedIn membuktikan 80 persen pekerja profesional itu kena sindrom Sunday Scaries, bahkan kaum Milenial dan Gen Z angkanya tembus di atas 90 persen! Biang keroknya, beban pekerjaan yang menumpuk dan hidup yang makin tidak seimbang akibat utang tugas pekan lalu yang belum kelar.

Uniknya, tubuh kita juga punya cara untuk meresponnya, namanya social jetlag. Mentang-mentang akhir pekan, kita begadang sepuas hati dan bangun siang, lalu menjelang Senin tiba-tiba terpaksa kita bangun subuh demi alarm kantor. Benturan jam ini dialami sekitar 70 persen masyarakat di negara industri, termasuk di Indonesia. 

Jadi, kalau Minggu malam kita susah tidur dan Senin pagi mendadak meriang, tenang saja, kita cuma sedang kompak mengalami pergeseran waktu ini bersama jutaan pekerja lainnya di dunia. Setidaknya kita tidak sendirian.

Di Korea Selatan, urusan social jetlag ini bahkan bikin sepertiga dari ribuan pekerja merasa badannya ringsek akibat jam tidur yang acak-acakan. Padahal, Senin itu bukan hewan buas yang bakal menerkam. Tubuh kita cuma refleks pasang kuda-kuda karena tahu besok harus kembali menghadapi kenyataan hidup dan tuntutan pekerjaan.

Celakanya, sindrom fobia Senin ini adalah alarm keras bahwa batas antara nyari duit dan menikmati hidup sudah makin kabur. Bayangkan saja, kerjaan belum juga mengetuk pintu rumah di hari Minggu, tapi kita sudah genit membukakan pintu lebar-lebar, mempersilahkannya masuk ruang tamu, bahkan menyuguhkan kopi hitam hangat.

Mengatasi horor hari Senin itu kuncinya ada pada hari Minggu atau bahkan sepanjang pekan, bukan pas Senin pagi. Resep paling mujarab dari para ahli ternyata sederhana, cukup jaga jam tidur tetap konsisten saja biar tubuh tidak kena jetlag sosial itu, plus bikin rencana liburan mini yang berkualitas. Kalau kita pintar memangkas beban pekerjaan untuk esok hari, niscaya Minggu sore bakal terasa lebih damai dan bersahabat.

Pada akhirnya, Senin itu cuma nama hari biasa di kalender, bukan monster. Yang bikin seram kan rombongan lima hari kerja yang berbaris rapi di belakangnya. Jadi, kalau tiap Minggu sore bawaannya ingin mengajukan surat resign, itu bukan berarti kita kurang bersyukur atau kufur nikmat. Itu sinyal jujur dari tubuh yang cuma ingin mengingatkan: kita ini manusia yang butuh jeda, bukan mesin pabrik yang lupa dimatikan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda