Lifestyle

Ragamu Bukan Mesin: Seni Melambat di Dunia yang Terlalu Cepat

Ragamu Bukan Mesin: Seni Melambat di Dunia yang Terlalu Cepat
Ilustrasi Orang Lelah Bekerja (Pexels/cottonbro studio)

Pernahkah kamu merasa dunia melaju kian cepat namun prosesmu terasa semakin lambat?

Ya, ada waktu di mana dunia bergerak seperti kereta yang melaju kencang dan kehilangan remnya. Bangun pagi terasa seperti memikul ransel penuh ekspektasi, bahkan ketika kamu menyibak tirai jendela untuk sekadar menyapa hiruk-pikuk dunia yang kamu lihat hanyalah deretan garis waktu yang terus menagih dan riuh kecemasan yang kian berdengung di telinga.

Ingatkah saat kamu belajar berjalan dulu? Siapa yang mengajarimu? Siapa yang menemanimu?

Mungkin memorinya terlalu samar, atau bahkan ya memang kamu tidak ingat. Tetapi satu hal yang pasti, semua proses belajar berjalan itu kamu tekuni dengan lambat, mulai dari merangkak, berdiri, berjalan perlahan sambil berpegangan pada tangan ayah dan ibumu, hingga akhirnya kamu benar-benar dapat berjalan sendiri tanpa perlu bantuan siapa pun, atau bahkan hebatnya kamu langsung dapat berlarian kesana-kemari hingga orang tuamu perlu berhati-hati dan menjaga langkahmu. 

Prosesnya lambat, bukan? 

Namun sekarang, saat kamu beranjak dewasa—siapa yang mengajarkanmu melangkah kian cepat, berlari kian kencang, hingga akhirnya kamu lupa bagaimana rasanya menapak bumi seutuhnya?

Aku tahu, riah-riuh jalanan dan denting gawai mengikatmu

Aku tahu, riah-riuh jalanan dan denting gawai tak akan kenal lelah berkelahi dengan irama dunia, mereka akan selalu membawamu berlari bak maraton tanpa garis akhir—seakan membuat kita takut berhenti. Rasanya ada suara seseorang yang berbisik perlahan, “Berdiam diri sejenak adalah dosa besar, kamu akan tertinggal di belakang jika kamu berhenti sekarang.”

Hei, sadarlah!

Raga dan jiwa yang tercipta dalam dirimu adalah manusia.

Raga dan jiwamu bukan mesin yang terus berputar demi menghasilkan sesuatu yang luar biasa. 

Kamu adalah manusia, kita adalah manusia—manusia dengan riwayat rapuh, manusia yang perlu bernapas dan mengembuskannya, serta manusia dengan detak jantung yang merindukan irama tenang.

Berlari tanpa jeda, berlari tanpa berhenti, berlari terus ke depan—tidak selalu membawa garis finish yang kamu harapkan. Ada kalanya kamu perlu berhenti jika ragamu tidak mampu menampung beratnya beban dunia, ada kalanya kamu perlu bernapas tanpa perlu tergesa-gesa.

Saat kamu menatap garis finish itu, tanyakan pada dirimu sendiri—apakah ini tujuanku? Kalau iya, lalu apa? Saat aku sudah mencapainya, apa cukup membuat aku senang atau aku hanya membuat orang lain senang?

Dunia memang bekerja bak mesin tanpa nurani. Ia menuntut kecepatan, menagih efisiensi, dan mengukur etos kerjamu melalui kecepatanmu dalam menyelesaikan deadline. Kita diperas hingga lupa bernapas, kita dibuat buru-buru hingga akhirnya menukarkan kesehatan dengan angka-angka yang menyiksa raga demi pujian yang menguap dalam semalam.  

Hei, tenanglah! 

Melangkah terburu-buru akan membuat mereka menemukan penggantimu—dalam hitungan hari—jika kamu merasa tidak sanggup lagi menjalaninya.

Maka, jika harimu terasa terlalu bising, terlalu lelah dan dunia terus memaksamu melangkah melebihi kemampuanmu, berhentilah sejenak.

Pelankan langkahmu, hentikan sejenak semua yang merenggut fokusmu, lepaskan sejenak beban yang bukan milikmu, dan biarkan dunia dengan kegilaannya sendiri. Mengambil jeda bukan kekalahan, beristirahat sejenak bukan sebuah dosa—melainkan caramu menghargai raga yang lelah dan memberi ruang bagi jiwamu untuk menapak bumi seutuhnya.

Ingat, dunia tidak akan runtuh hanya karena kamu mengambil jeda satu hari, tetapi jiwamu bisa hancur jika kamu menolak ragamu untuk berhenti

Pada akhirnya sejauh apapun kamu berlari, sedekat apapun kamu dengan garis finish, tempat terbaik yang kamu tuju bukanlah garis itu—melainkan kedamaian dalam dirimu sendiri.

Di atas semua target dan angka yang telah ditetapkan, kamu tetaplah manusia yang perlu beristirahat dan mengambil napas sejenak.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda