alexametrics

Mahasiswa UIN Walisongo Atasi Kendala Pembelajaran Daring di Desa Ngale

Robithaddian
Mahasiswa UIN Walisongo Atasi Kendala Pembelajaran Daring di Desa Ngale
Mahasiswa KKN mendampingi belajar dari rumah anak-anak sekitar

Mendikbud, Nadiem Makarim, menerapkan pembelajaran daring selama pandemi ini yang tentu saja memiliki sisi positif dan negatif

Suara.com - Pandemi Covid-19 yang sedang melanda sepertinya belum menunjukkan akan mereda. Penularan SARS-CoV-2 terjadi melalui kontak langsung, tidak langsung, atau erat dengan orang yang terinfeksi melalui air liur dan droplet saluran napas dai orang yang batuk, bersin, atau berbicara. Salah satu cara untuk memutus rantai penyebaran adalah dengan menerapkan protokol menjaga jarak fisik. Tentunya banyak aspek yang terpengaruh oleh kebijakan ini, saah satunya aspek pendidikan.

Mendikbud, Nadiem Makarim, menerapkan pembelajaran daring mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi selama pandemi ini.

Prinsip dikeluarkannya kebijakan ini adalah dengan memprioritaskan kesehatan dan keselamatan siswa, guru, keluarga dan masyarakat. Metode tersebut dinilai merupakan alternatif terbaik guna menghindari interaksi di sekolah tetap terbuka yang dapat menimbulkan risiko keselamatan bagi siswa dan guru.

Kebijakan belajar daring tentu saja memiliki sisi positif dan negatif. Siswa dapat merasakan manfaat pembelajaran daring, seperti bisa lebih mencari materi di Internet, lebih mudah merevisi catatan, dan mereview materi nanti. Kelebihan lainnya adalah lebih parktis dan santai.  Praktis karena dapat memberikan tugas setiap saat dan pelaporan tugas setiap saat. Kedua, lebih fleksibel bisa dilakukan kapanpun dan di manapun.

Pembelajaran daring menyebabkan waktu yang lebih fleksibel bagi wali yang bekerja di luar rumah dan bisa menyesuaikan waktu untuk mendampingi siswa belajar. Selain itu, pembelajaran daring juga mengurangi biaya biaya transportasi yang sekarang berubah menjadi kuota. Sisi positif lainnya, orang tua dapat mengontrol kegiatan anak di rumah karena tidak harus pergi ke sekolah.

Sementara itu, ada juga beberapa kendala diadakannya pembelajaran daring, seperti kurangnya akses internet bagi siswa pedesaan dan siswa yang orang tuanya secara ekonomi terdampak akibat pandemi.

Selain itu, para guru yang menganggap pembelajaran daring sebagai sarana memberikan tugas tanpa adanya timbal balik membuat siswa merasa terbebani dengan tumpukan tugas. Apalagi jika orang tua tidak dapat mengontrol sepenuhnya anak-anaknya dalam proses pembelajaran daring, beberapa anak menjadi kurang disiplin ketika belajar, mengingat guru juga tidak dapat mengontrol kehadiran siswa.

Tak hanya siswa, guru juga mengalami kendala dalam proses belajar daring ini. Diantaranya guru yang tidak semua melek teknologi internet sebagai sarana pembelajaran.

Guru-guru belum semuanya mampu menggunakan media pembelajaran daring dan perlu pendampingan dan pelatihan terlebih dahulu. Hal seperti ini dikhawatirkan karena batas kemampuan guru pada penerapan teknologi akan mempengaruhi kualitas kegiatan belajar mengajar.

Beberapa kendala di atas pun dialami oleh siswa-siswa SD dan MI di desa Ngale, kecamatan Paron, kabupaten Ngawi yang juga melakukan pembelajaran secara daring dari rumah. Siswa-siswa yang harus melakukan pembelajaran di rumah cukup bingung untuk menyesuaikan diri karena belum dipersiapkan sebelumnya. Beberapa siswa juga megeluhkan bahwa aktivitas belajar daring di rumah lebih membuat siswa stres daripada belajar di sekolah. Sekolah normal yang biasa dijalani mungkin sulit, tetapi dengan adanya interaksi dengan guru dan teman membuat jauh lebih mudah dikelola dan tidak terlalu membuat stres.

Komentar