Mengapa Korban Child Grooming Diam Saat Merasa Takut? Belajar dari Kisah Aurelie Moeremans

M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
Mengapa Korban Child Grooming Diam Saat Merasa Takut? Belajar dari Kisah Aurelie Moeremans
ilustrasi korban child grooming merasa takut (Pexels/Thirdman)

Kasus child grooming kembali menjadi sorotan publik setelah memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans menyita perhatian luas. Pengakuan Aurelie membuka mata banyak orang tentang bagaimana relasi tidak sehat bisa dimulai sejak usia remaja.

Hubungan yang tampak “manis” di awal ternyata bisa berubah menjadi jerat manipulasi yang sulit dilepaskan. Satu pertanyaan besar pun muncul: mengapa remaja usia 15–18 tahun yang mengalami child grooming sering kali tidak melawan, bahkan tampak “diam” saja?

Jawabannya tidak sesederhana “lemah” atau “tidak berani”. Ada faktor psikologis, sosial, hingga biologis yang bekerja secara bersamaan sehingga membuat suara mereka seolah dibungkam.

1. Otak Remaja Belum Matang untuk Melindungi Diri secara Strategis

Secara ilmiah, otak manusia—khususnya bagian prefrontal cortex yang berperan dalam pengambilan keputusan, kontrol impuls, dan membaca risiko—memang belum berkembang sempurna hingga usia pertengahan 20-an.

Pada remaja usia 15–18 tahun, kemampuan untuk berpikir jangka panjang dan membaca bahaya secara strategis masih terbatas. Akibatnya, ketika seseorang datang dengan perhatian, validasi, dan janji perlindungan, otak remaja lebih mudah menafsirkan hal itu sebagai “aman”, bukan ancaman. Terlebih jika pelaku tampil dewasa, percaya diri, dan tampak berpengalaman. Situasi ini semakin membuat rasa aman yang ternyata palsu itu dipercaya secara mutlak.

2. Child Grooming Bekerja melalui Manipulasi, Bukan Kekerasan Langsung

Berbeda dengan kekerasan fisik yang jelas terlihat, child grooming berlangsung halus dan bertahap. Pelaku biasanya membangun kepercayaan, kedekatan emosional, dan ketergantungan terlebih dahulu. Korban dibuat merasa “dipilih”, “spesial”, dan “dimengerti”.

Dalam kondisi ini, korban tidak merasa sedang disakiti. Justru sering muncul rasa bersalah saat ingin menolak karena pelaku telah diposisikan sebagai sosok penting dalam hidupnya. Inilah mengapa banyak korban baru menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi setelah waktu berlalu cukup lama.

3. Anak dari Orang Tua yang Strict dan Keras Cenderung Takut Salah

Remaja yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang strict (kaku) dan otoriter sering dibesarkan dengan pola takut dimarahi, takut mengecewakan, dan takut salah. Ketika menghadapi situasi grooming, mereka cenderung menyimpan semuanya sendiri. Alih-alih melapor, korban justru berpikir, “Kalau aku cerita, aku pasti disalahkan.” Ketakutan ini membuat mereka semakin terisolasi dan mudah dikendalikan oleh pelaku yang menawarkan “tempat aman” semu.

4. Tekanan Ekonomi Memperkuat Rasa Tidak Berdaya

Latar belakang tekanan ekonomi juga menjadi faktor penting. Remaja yang berasal dari keluarga dengan kondisi finansial sulit sering tumbuh dengan rasa harus bertahan dan tidak ingin merepotkan. Saat pelaku hadir membawa bantuan materi, kesempatan, atau janji masa depan yang lebih baik, posisi korban menjadi semakin lemah. Ketergantungan ini bukan karena korban “mata duitan”, melainkan karena situasi hidup yang membuat mereka merasa tidak punya banyak pilihan.

5. Riwayat Bullying Membuat Korban Lebih Rentan Terjebak

Remaja yang pernah mengalami bullying biasanya memiliki luka yang belum sembuh. Mereka terbiasa merasa tidak cukup baik dan haus akan penerimaan. Pelaku grooming sering membaca celah ini dengan sangat jeli. Saat pelaku menampilkan kesan “memilih” mereka, otak remaja akan membaca situasi ini sebagai kesempatan kedua. Jiwa mereka yang sebenarnya masih rapuh akan menjadikan pelaku sebagai sosok penyelamat hidup.

6. Relasi Kuasa Timpang dalam Fase Menjadi Artis

Dalam konteks dunia hiburan, relasi kuasa ini menjadi semakin timpang. Remaja yang sedang merintis karier sebagai artis berhadapan dengan orang dewasa yang memiliki akses, koneksi, dan pengaruh besar. Posisi ini membuat korban merasa tidak punya kuasa untuk menolak. Ketakutan kehilangan kesempatan, karier, atau reputasi sering kali lebih besar daripada keberanian untuk berkata tidak. Korban pun akhirnya menjadi bergantung secara emosional pada pelaku.

7. Ancaman Membuat Tubuh dan Pikiran Masuk Fase Freeze

Saat berada dalam tekanan psikologis berkepanjangan, tubuh manusia bisa masuk ke respons freeze (membeku). Dalam kondisi ini, korban bukan tidak mau melawan, melainkan tidak mampu bergerak atau berpikir jernih. Fase freeze membuat korban tampak pasif, padahal di dalamnya terjadi konflik batin dan ketakutan yang luar biasa. Bahkan, banyak korban yang masuk mode freeze memilih bertahan demi bisa tetap selamat.

Diam Bukan Berarti Setuju

Kasus child grooming mengajarkan kita satu hal penting: diam bukan berarti setuju dan tidak melawan bukan berarti rela. Banyak korban bertahan karena sistem di sekeliling mereka gagal melindungi.

Memoar Aurelie Moeremans bukan sekadar kisah personal, melainkan pengingat bahwa edukasi, empati, dan ruang aman sangat dibutuhkan agar remaja berani bersuara sebelum terlambat. Jika kita ingin mencegah kasus serupa, langkah pertama adalah berhenti menyalahkan korban dan mulai memahami luka yang tidak selalu terlihat.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak